July 5, 2020

Review : Misteri Dilaila


“Kau bukan istri aku!”

Di negeri asalnya, Malaysia, Misteri Dilaila tengah menjadi materi percakapan hangat. Disutradarai oleh sutradara muda berbakat Syafiq Yusof (Abang Long Fadil, KL Special Yusof) yang kebetulan masih mempunyai kekerabatan darah dengan Syamsul Yusof yang angkat nama berkat dwilogi Munafik, Misteri Dilaila memang memakai resep bercerita yang tidak biasa untuk ukuran film setempat. Disamping perpaduan genrenya yang memadupadankan elemen misteri dengan psychological thriller, horor berunsur supranatural, serta komedi, keputusan si pembuat film untuk merilisnya ke bioskop dalam dua versi berbeda turut menarik perhatian. Pembedanya memang hanya terletak pada konklusi yang berlangsung di 15 menit terakhir dan gimmick jualan semacam ini pun bukan hal yang sepenuhnya gres alasannya Clue (1985) beserta Unfriended: Dark Web (2018) telah terlebih dahulu mengaplikasikannya. Akan tetapi, untuk ukuran film Malaysia, apa yang diperbuat oleh Syafiq Yusof terang sanggup dibilang revolusioner sekalipun Misteri Dilaila turut tersandung kontroversi plagiarisme akhir kemiripan narasinya dengan Vanishing Act (1986). Berhubung saya belum pernah menyaksikan judul tersebut, kontroversi ini terang tidak berimbas dalam menyurutkan harapan untuk menonton. Saya masih menaruh ketertarikan terhadap Misteri Dilaila yang sebagian besar dilandasi oleh faktor genre dan gimmick. Selain itu, saya juga ingin menerangkan hype di kalangan netizen Malaysia yang tak sedikit diantaranya bersedia memberi nilai 11/10 untuk film ini. Sungguh emejing, bukan?

Mengalun sepanjang 82 menit – well, bila kau menonton versi 1 maka durasinya lebih pendek semenit – Misteri Dilaila tidak menghabiskan banyak waktu untuk berbasa basi. Penonton eksklusif dipertemukan dengan sepasang suami istri, Jefri (Zul Arifin) dan Dilaila (Elizabeth Tan), yang sedang berlibur di Bukit Fraser. Konflik juga mengemuka secara cepat seusai Jefri memutuskan untuk nongkrong bersama rekan bisnisnya. Dilaila murka besar sehingga Jefri pun terpaksa tidur di sofa yang kemudian menghadapkannya pada serentetan teror misterius. Apakah keganjilan ini hanya sebatas mimpi atau memang benar-benar terjadi? Belum sempat Jefri mencernanya, keganjilan lain kembali menimpanya sesudah pagi menjelang. Ponselnya mendadak raib, begitu pula dengan istrinya. Jefri mencoba menghubungi adik iparnya, Farid (Mas Khan), tapi ia pun tak tahu menahu soal keberadaan Dilaila. Dalam upayanya menemukan sang istri, Jefri lantas melaporkannya kepada penyelidik setempat berjulukan Inspektur Azman (Rosyam Nor) yang tampak berdedikasi dengan pekerjaannya. Tak berselang usang sesudah laporan ini dibuat, Jefri dikejutkan oleh satu kunjungan. Seorang pemuka agama yang disegani oleh warga sekitar, Imam Aziz (Namron), tiba-tiba memasuki vila milik Jefri seraya membawa seorang wanita yang mengaku sebagai Dilaila (Sasqia Dahuri – selanjutnya disebut Dilaila II). Yang kemudian membuatnya aneh, Jefri sama sekali tak mengenali wanita tersebut sementara orang-orang di sekitarnya termasuk Farid mengenalinya sebagai Dilaila. Apa yang sesungguhnya terjadi di sini?


Mesti diakui, Misteri Dilaila cukup berhasil membangun ketegangan sekaligus memantik rasa ingin tau pada paruh awalnya. Pertanyaan sederhana ibarat “kemana perginya Dilaila?” menjadi landasan utama yang menciptakan saya bersedia untuk mengikuti permainan kreasi Syafiq Yusof. Kemunculan satu dua huruf ibarat Imam Aziz yang tindak tanduknya teramat mencurigakan sampai-sampai saya mewaspadai identitasnya sebagai pemuka agama dan Dilaila II yang jelas-jelas tidak ibarat secara fisik dengan Dilaila I, menambah daya tarik tersendiri bagi film. Pertanyaan sederhana yang sempat saya olok-olokan tadi pun perlahan mulai bermetamorfosis “siapa yang sanggup dipercaya di sini?”. Dilaila II memang mempunyai wajah berbeda dengan Dilaila I, tapi bagaimana bila Jefri gotong royong yaitu pribadi manipulatif yang mempunyai rencana keji terhadap sang istri? Maksud saya, Jefri sanggup saja diposisikan sebagai unreliable narrator oleh si pembuat film yang kebenaran atas pernyataan-pernyataannya amat diragukan. Terlebih lagi penonton juga tidak tahu menahu mengenai latar belakangnya selain ia yaitu suami dari Dilaila I. Ditunjang dengan sisi teknis bergaya ibarat tata artistik untuk villa yang ditempati huruf utama beserta penyuntingan yang mengaplikasikan teknik mask transition, kemudian ada pula performa pemain yang cukup baik dari Rosyam Nor, dan Namron, saya sempat manggut-manggut sebagai instruksi sanggup memahami alasan publik Malaysia memperlihatkan puja-puji setinggi langit untuk film ini. Tapi sesudah satu demi satu petunjuk digeber, saya berbalik mempertanyakannya alasannya daya cengkram Misteri Dilaila secara perlahan mengalami kemerosotan yang drastis.  

Disamping teramat sangat terganggu oleh jump scare dengan iringan musik menusuk indera pendengaran yang esensinya kurang terang (khususnya pada versi dua), saya pun mulai mempertanyakan banyak keputusan maupun tindakan para karakternya. Atau dengan kata lain, menemukan lubang dalam penceritaan. Setidaknya ada dua masalah yang mengusik ketenangan diri ini: 1) tidak adanya foto Dilaila I, dan 2) Jefri yang bolak-balik bertindak konyol. Saya tahu ini sengaja dilakukan oleh si pembuat film demi memperumit masalah hilangnya Dilaila I. Namun, alih-alih meningkatkan rasa ingin tau yang sudah terbentuk, saya justru gemas bukan kepalang. Apakah Dilaila I yaitu seseorang yang menjunjung tinggi privasi sampai-sampai ia tidak mempunyai akun di media sosial? Apabila ini terjadi di masa lampau dimana terusan ke teknologi masih terbilang sulit, alasan “aku tidak mempunyai foto istriku di rumah ini” tentu masih sanggup diterima. Tapi di periode dimana keranjingan gawai bukan lagi sesuatu yang mengherankan, alasan semacam ini terang menjadikan keheranan kecuali Dilaila I memang enggan difoto oleh orang lain. Saya mendadak pening kliyengan begitu menyadari bahwa internet seolah dianggap tidak ada oleh Misteri Dilaila dan kemudian kian menjadi-jadi setiap kali melihat Jefri. Sosoknya jauh dari kata simpatik akhir akting Zul Arifin yang terlampau meledak-ledak serta keputusan-keputusannya yang ajaib. Apakah Jefri sebegitu tidak bisanya berpikir jernih sehingga ia berkali-kali meninggalkan petunjuk penting tanpa penjagaan yang layak? Saat ini terjadi untuk pertama kalinya, saya masih berusaha memaklumi kondisinya. Tapi dikala kembali terjadi untuk kali kedua, saya pun hanya sanggup mengucap “Astaghfirullah, Jefriii… Kebangetan!”


Persoalan yang meradang Misteri Dilaila ini nyatanya memang kian tak terkontrol seiring berjalannya durasi. Saya yang sudah menghirup minyak angin supaya tetap sadar di dingklik bioskop seolah ingin mengibarkan bendera putih dikala melihat salah satu huruf tiba-tiba berlagak ibarat orang gila hanya untuk menegaskan bahwa ia jahat, kemudian latar belakang sang villain pun dijabarkan seadanya yang menciptakan segala misteri – apalagi kemunculan hantu – di film sukar untuk diterima. Saat kemudian film mengakhiri narasi dengan cara “sok misterius”, saya seketika ingin berkomentar julid terhadap netizen Malaysia yang memberinya nilai 11/10. Baik versi pertama yang mengambil pendekatan psychological thriller maupun versi kedua yang menekankan pada horor, sama-sama bikin minyak angin terasa ibarat penyelamat akhir kepala yang nyut-nyutan. Saya terang urung dibikin mindblown alasannya perfilman Indonesia sudah mempunyai Kala (2007), Pintu Terlarang (2009), hingga Belenggu (2012) yang jauh lebih kompeten. Kalaupun pada akibatnya dibikin mindblown, maka itu alasannya otak saya meledak akhir tak sanggup mencerna budi berceritanya yang penuh dengan penggampangan. Duh.


Poor (2/5)