October 22, 2020

Review : Moana

“If you wear a dress and have an animal sidekick, you’re a princess.” 

Tahun 2016 menjadi saksi bisu atas pembuktian diri bagi divisi animasi Walt Disney bahwa mereka secara resmi telah mengambil alih kembali posisi sebagai pembuat film animasi paling terkemuka dari Pixar dengan diluncurkannya dua produk hebat, yakni Zootopia dan Moana. Ya, tatkala tetangga sebelah tengah menghadapi problematika berjulukan ‘inkonsistensi’ yang menimbulkan beberapa karyanya lewat begitu saja tanpa kesan, Disney justru kian menggeliat dari tahun ke tahun terhitung sedari Tangled (2010). Zootopia memancangkan standar tinggi bagi film animasi dengan penceritaan cerdas pula terhitung berani untuk ukuran Disney, sementara Moana hasil isyarat duo Ron Clements dan John Musker (The Little Mermaid, Aladdin) yang menerapkan teladan tutur “back to basic” mengingatkan kita sekali lagi kenapa studio ini sanggup menjadi raksasa animasi di dunia film. Moana menunjukkan bahwa tontonan mengikat tidak melulu harus bersumber dari gagasan serba bombastis, malah seringkali kesederhanaan dengan sanksi dan pengemasan yang sempurna lebih bisa menghadirkan kejutan-kejutan menyenangkan. 

Moana membawa kita mengarungi lautan Pasifik untuk lalu berlabuh di sebuah pulau berjulukan Motunui. Di sana penonton diperkenalkan pada sang protagonis, Moana Waialiki (Auli’i Cravalho), yang merupakan putri semata wayang sekaligus calon penerus dari kepala suku setempat. Dideskripsikan sebagai sosok cerdas, pemberani, serta sedikit pemberontak, Moana mempunyai harapan untuk bisa berlayar melewati watu karang yang ditentang keras oleh ayahnya, Tui (Temuera Morrison), lantaran satu dan lain hal. Moana lantas nekat mewujudkan impiannya tersebut sesudah kesehatan ekosistem di Motunui tiba-tiba menurun drastis, mengetahui jati diri sukunya yang sesungguhnya, dan memperoleh dorongan dari sang nenek, Gramma Tala (Rachel House), yang mempercayai Moana sebagai satu-satunya harapan untuk menyelamatkan daerah tinggal mereka. Ditemani seekor ayam yang bodohnya kebangetan, Heihei, Moana yang sejatinya minim pengetahuan berlayar ini harus mengarungi samudera luas untuk menemukan Maui (Dwayne Johnson), insan setengah dewa, yang konon dianggap bertanggung jawab atas memburuknya kondisi alam di Motunui dan sekitarnya. 
Ditinjau dari garis besar cerita, Moana memang tak tampak mengusung plot progresif. Masih berkutat pada topik pencarian jati diri berbasis petualangan menyelamatkan tanah kelahiran yang telah umum dijumpai di film-film Disney. Tapi menyerupai halnya Zootopia, film ini menyematkan pula materi perbincangan lain yang boleh jadi tak pernah terlintas di benakmu akan diobrolkan oleh film animasi keluaran Disney pada satu dua dekade silam terkait ketangguhan wanita – well, Moana jauh lebih feminis ketimbang Frozen – hingga menjaga korelasi baik dengan alam. Ini terperinci menarik, menyegarkan, juga relevan. Sang tokoh utama yang notabene wanita digambarkan mempunyai posisi kurang lebih sejajar dengan laki-laki dalam tribe society, tangguh secara fisik maupun mental, dan tidak membutuhkan tunjangan lawan jenis untuk merampungkan kasus (Maui hanya membukakan jalan untuk Moana, itupun lantaran dialah sumber masalahnya). Mendobrak segala bentuk konstruksi wanita ideal yang diciptakan sendiri oleh film animasi Disney lebih dari setengah kala silam. Terdengar, errr… berat? Tak perlu risau, kau hanya akan menjumpai kerumitan tersebut di ulasan sok njelimet ini lantaran penceritaan Moana sendiri dilantunkan dalam mood penuh keriaan. 

Keriaan timbul dari serentetan momen yang mengakibatkan gelak tawa maupun perasaan bersemangat penonton. Entah itu disebabkan tingkah luar biasa absurd Heihei, interaksi konyol Moana dengan Maui, serangan perompak bertopengkan tempurung kelapa, kepiting raksasa narsis, atau amukan monster lahar. Selain itu, keriaan juga dipersembahkan oleh barisan nomor-nomor musikal melodius gubahan Lin-Manuel Miranda yang karirnya tengah mengangkasa berkat popularitas drama musikal Broadway, Hamilton, dan Opetaia Foa’i. Mereka menyumbangkan lagu-lagu gampang didendangkan semacam “How Far I’ll Go”, “We Know the Way”, “You’re Welcome”, dan “Shiny”, yang hampir sanggup dipastikan akan menempel besar lengan berkuasa di benakmu hingga berhari-hari sesudah melangkahkan kaki keluar dari gedung bioskop. Pengalaman menonton Moana kian terasa mengasyikkan lantaran film ini dihidupkan pula oleh visualisasi menakjubkan (lihatlah Motunui! tengoklah lautnya! perhatikanlah tato di badan Maui!) beserta sumbangsih mengagumkan para pengisi bunyi menyerupai pendatang gres Auli’i Cravalho yang memancarkan karisma besar lengan berkuasa seorang pemimpin dalam diri Moana dan membentuk chemistry kocak bersama Dwayne Johnson. Dengan kombinasi serba baik menyerupai ini, tidak mengherankan bila lalu Moana berhasil tersaji sebagai sebuah tontonan seluruh keluarga yang teramat sangat mengasyikkan.

Note : pastikan untuk tidak terlambat memasuki gedung bioskop lantaran ada sebuah film pendek manis berjudul Inner Workings sebelum film utama. 

Outstanding (4/5)