December 2, 2020

Review : Modus Anomali


Modus Anomali yaitu film keempat dari sutradara muda berbakat, Joko Anwar, yang telah dinanti-nantikan kehadirannya semenjak lama. Setelah merampungkan Pintu Terlarang, Joko Anwar rehat sejenak dari dingklik sutradara dan menentukan untuk fokus pada penulisan naskah serta akting. Tiga tahun berselang semenjak film terakhir, aku dibentuk ingin tau dengan kegilaan apa lagi yang akan digeber oleh sutradara jenius ini. Dua film sebelumnya, Kala dan Pintu Terlarang, terbilang luar biasa untuk ukuran film lokal. Di ketika aku mulai kehilangan cita-cita terhadap perfilman nasional yang temanya berjalan di tempat, seorang juru selamat berjulukan Joko Anwar muncul ke permukaan. Sekalipun masyarakat Indonesia menanggapi karya-karyanya dengan cuek (sungguh mengecewakan!), sejumlah kritikus film dunia memberinya puja puji setinggi langit. Dan beliau memang layak mendapatkannya. Film terbarunya, Modus Anomali bahkan mendapat kehormatan untuk diputar pertama kalinya di SXSW Festival bulan kemudian bersama dengan The Raid sebelum rilis secara luas di bioskop. Komentarnya beragam, secara umum dikuasai menanggapi dengan positif. 

Kunci untuk menikmati film-film buatan Joko Anwar bergotong-royong sangat sederhana, konsentrasi. Dia tidak akan membiarkan Anda kebingungan, meraba-raba dalam kegelapan tanpa adanya penerangan sedikit pun. Jika Anda jeli dan cermat, maka segalanya akan terasa menyenangkan. Itulah yang harus Anda terapkan tatkala menyaksikan Modus Anomali. Dibandingkan Kala maupun Pintu Terlarang, Modus Anomali cenderung lebih rapi dalam penceritaan, lebih hening dan tidak senjelimet kedua film tersebut. Bahkan apabila petunjuk-petunjuk yang berceceran di sepanjang jalan setapak Anda perhatikan dengan seksama, maka misteri yang melingkupi Modus Anomali akan dengan gampang dipecahkan. Bukankah sangat menyenangkan menyaksikan sebuah film dimana sepanjang perjalanan Anda senantiasa dilingkupi rasa ingin tau serta diajak untuk menerka-nerka apa yang bergotong-royong terjadi? Bagi sebagian orang mungkin hal ini terasa terlalu memusingkan, terutama para pencari hiburan murni, namun bagi sebagian yang lain ini yaitu seni dari menonton sebuah film. 

Sebuah tangan insan menyeruak ke atas permukaan tanah diiringi dengan sengalan nafas dari seorang pria, diperankan dengan sangat cemerlang oleh Rio Dewanto, mengawali film yang menciptakan aku terlompat dari dingklik bioskop. Dalam kondisi panik, beliau segera menekan angka 112 di telepon genggamnya dan menciptakan panggilan. Beberapa detik sesudah mendapat jawaban, laki-laki tersebut tersadar… beliau tidak ingat dengan namanya! Satu-satunya petunjuk yaitu sebuah kartu identitas atas nama John Evans. Apakah benar nama laki-laki tersebut bergotong-royong yaitu John Evans? Memulai film dengan sedikit lambat, Joko Anwar ingin Anda memersiapkan jantung serta otak terlebih dahulu alasannya yaitu di menit-menit berikutnya Anda akan diajak untuk senam jantung dan senam otak secara bersamaan. Pemanasan terlebih dahulu sebelum memulai lari maraton. Dalam keadaan panik, Rio Dewanto mencari perlindungan. Dia memasuki sebuah kabin. Di dalam kabin tersebut, beliau mendapati sebuah video yang berisi pembunuhan terhadap seorang perempuan yang tengah hamil renta (Hannah Al Rasyid). 

Sampai disini, aku memutuskan untuk berhenti menceritakan apa yang terjadi selanjutnya. Susah untuk tidak spoiler ketika menceritakan kembali jalan kisah dari Modus Anomali. Anda harus menyaksikannya sendiri untuk mengetahui ilham liar apalagi yang dituangkan oleh Joko Anwar. Sekalipun Modus Anomali lebih sederhana dalam bertutur, gambar dan obrolan dalam film ini tak sesederhana kelihatannya. Sepanjang 88 menit, Anda tidak hanya diminta melihat dan mendengar saja, tetapi juga memaknai. Apa yang bergotong-royong terjadi kepada laki-laki tersebut? Mengapa beliau sanggup berakhir dengan terkubur hidup-hidup di awal film? Dan apa kaitannya laki-laki ini dengan perempuan hamil yang dihabisi tanpa ampun di kabin? Ketiga pertanyaan inilah yang minimal harus Anda pegang untuk memecahkan kasus pembunuhan di tengah hutan. Tidak terlalu susah untuk mencerna endingnya alasannya yaitu Joko Anwar menjelaskannya dengan cukup gamblang, tentunya dengan catatan Anda konsentrasi dalam menyusun kepingan-kepingan puzzle yang disebar sepanjang film. Dan, Joko beruntung memiliki Gunnar Nimpuno yang tahu betul apa keinginan dari sang sutradara. Selain menyajikan gambar-gambar indah dengan seribu makna, pergerakan kameranya dinamis serta penggunaan long take yang rumit menjadi daya tarik tersendiri. Sekalipun Modus Anomali bukanlah karya terbaik dari seorang Joko Anwar, film ini terang merupakan film lokal terunggul ditilik dari banyak sekali seri untuk kuartal pertama tahun 2012. Apabila Anda yaitu penggemar berat film misteri serta haus akan film buatan dalam negeri yang berkualitas, maka Modus Anomali tidak seharusnya Anda lewatkan begitu saja.

Exceeds Expectations