October 31, 2020

Review : Money Monster


“The name is Lee Gates, the show is Money Monster. Without risk, there is no reward. Should I sell? Should I a loan? Get some balls!” 

Pernah nonton film thriller dari Negeri Gingseng berjudul The Terror Live arahan Kim Byung-woo? Kalau belum, begini garis besar ceritanya. Seorang mantan news anchor ternama berjulukan Yoon Young-hwa (Ha Jung-woo) yang sekarang dimutasi ke radio mendapat telepon gelap bernada ancaman. Mulanya menganggap hanya sekadar perbuatan iseng, tak disangka-sangka ancaman tersebut diwujudkan dalam bentuk pengeboman jembatan hingga menewaskan puluhan sipil tak bersalah. Alih-alih melaporkan ke pihak berwenang, Yoon Young-hwa justru melihat teror yang didapatnya sebagai kesempatan untuk melambungkan kembali karirnya. Didukung pula oleh sang atasan yang aneh rating, telepon gelap ini diboyong ke siaran pribadi jadwal isu nasional tanpa menyadari besarnya ancaman yang mengintai mereka. Si protagonis tiba-tiba menjadi sandera dalam jadwal televisi yang dipandunya dan menjadi tontonan seantero Korea Selatan. Sampai disini kau mungkin bertanya-tanya, kemudian apa keterkaitannya dengan Money Monster? Nah, nasib kurang lebih serupa dialami oleh Lee Gates (George Clooney), seorang pembawa jadwal seputar dunia saham dari film layar lebar keempat yang digarap Jodie Foster usai The Beaver ini. 

Keduanya sama-sama disandera oleh seorang laki-laki penuh amarah di hadapan jutaan jiwa pemirsa layar beling. Keduanya sama-sama bangun di atas garis tipis yang memisahkan antara hidup dan mati. Dan, keduanya sama-sama tidak mempunyai sedikitpun kesempatan untuk berbuat kesalahan atau konsekuensinya yaitu mati konyol. Kalau ada pembeda diantara mereka, maka itu keberadaan si pelaku (dan motifnya, tentu saja!). Penonton beserta para korban di The Terror Live tidak dibiarkan tahu dimana si peneror bersembunyi hingga detik-detik menjelang klimaks. Kita mendapat teror melalui bunyi dari ujung gagang telepon. Sementara dalam Money Monster, wajah si penebar teror telah tersibak sedari awal. Seorang laki-laki yang menyamar sebagai kurir, Kyle Budwell (Jack O’Connell), nyelonong masuk ke studio dikala jadwal milik Lee gres saja mengudara dan tanpa memberi instruksi pribadi menodongkan pistol ke arah Lee. Dia meminta pertanggungjawaban Lee atas raibnya uang sebanyak $60 ribu miliknya yang diinvestasikan dalam bentuk saham di IBIS Global Capital sesuai rekomendasi Lee melalui salah satu episode.

Seperti halnya Kyle, Lee pun tak tahu menahu mengenai dilema ini. Sang sutradara, Patty Fenn (Julia Roberts), yang membantu Lee menenangkan Kyle lewat earphone, mencoba melacak kebenaran soal saham di IBIS Global Capital. Dari hasil penelusuran, didapat kenyataan bahwa setidaknya uang senilai $800 juta amblas tak terang juntrungnya dan CEO perusahaan tersebut, Walt Camby (Dominic West), menghilang entah kemana. Kedua kasus tersebut dijelmakan Jodie Foster ke bentuk pertanyaan “kemana perginya uang dan CEO IBIS Global Capital?” demi mengikat erat penonton di dingklik bioskop. Menariknya, untuk menjumpai cikal bakal tercetus pertanyaan “apa yang bersama-sama terjadi disini?” penonton tidak diayunkan-ayunkan terlalu lama. Basa-basi sejenak di menit pembuka yang bertujuan memberi citra menyerupai apa ‘dunia’ yang akan kita masuki, Jodie Foster secara tegas mulai mengeskalasi ketegangan bahkan sebelum Money Monster memasuki menit belasan. Kemunculan pertama kali Kyle telah mengumbar aroma kurang sedap yang memberi mengambarkan adanya ketidakberesan pada abjad ini. Betul saja, hanya dalam hitungan menit, nuansa film yang semula cerah ceria perlahan tapi niscaya beralih ke mencekam seiring semakin dekatnya Kyle dengan Lee. 

Jodie Foster berilmu menyulap ruang gerak serba terbatas yang sejauh mata memandang kita hanya melihat isi studio, jalanan di luar studio serta kantor IBIS Global Capital menjadi wahana permainan yang memungkinkan para pengunjungnya tersergap rasa ‘harap harap cemas’. Berulang kali, penonton dihadapkan pada momen-momen yang sangat memungkinkan untuk kesulitan menghembuskan nafas lega dengan beberapa titik disisipi humor sempurna target sebagai penawar stres. Lawakannya pun tak sembarangan, melainkan sentilan sentilun sosial yang mempergunjingkan soal korupsi, masyarakat modern, hingga pertelevisian. Selain itu, Money Monster mempunyai barisan abjad utama yang gampang untuk diberi simpati – kejengkelan terhadap Lee dan Kyle di awal film seketika memudar begitu kita mengetahui lebih jauh latar belakang mereka – dan dimainkan sangat baik pula oleh jajaran pelakonnya terutama George Clooney, Julia Roberts, beserta Jack O’Connell sehingga memudahkan kita dalam menginvestasikan emosi. Dengan terinvestasinya emosi, penonton seolah mempunyai kedekatan bersama karakter-karakter di film yang lantas melahirkan kepedulian menyerupai contohnya keinginan untuk melihat para korban ini sanggup lancar jaya merampungkan misi-misi mereka. Kita bersorak kepada mereka dan diliputi keingintahuan lebih lanjut tentang apa yang menanti mereka di ujung hari. Mengasyikkan!

Outstanding (4/5)