November 28, 2020
Film / REVIEW / US

Review : Monster Trucks


Monster Trucks gotong royong mengkhawatirkan. Betapa tidak, ketika sebuah film maju mundur manis dalam hal perilisan berulang kali (total jenderal, kegiatan edar Monster Trucks direvisi sebanyak 5 kali!), tentunya ada beberapa poin yang mengakibatkan si pemilik film ragu-ragu untuk melepaskan filmnya ke khalayak ramai. Kemungkinan paling masuk nalar dan memang seringkali begitu adanya, hasil final jauh dibawah pengharapan. Turut dijadikan kambing hitam pula sebagai salah satu penyebab kerugian Viacom – konon, film menelan dana sebesar $125 juta (!!!) dan telah diprediksi tidak akan sanggup mencapai titik impas apalagi untung – semakin menguatkan energi negatif yang telah melingkungi Monster Trucks. Belum apa-apa sudah keder duluan, khawatir filmnya bakal bikin dongkol hati begitu menjejakkan kaki di luar gedung bioskop. Dari serentetan perilaku pesimis, timbul satu pertanyaan, “apakah Monster Trucks memang sedemikian mengecewakannya?.” Pertanyaan yang sempat menggelayuti benak selama beberapa pekan ini jadinya terjawab sesudah tetapkan untuk menonton Monster Trucks di layar lebar. 


Jagoan dalam film live action perdana isyarat Chris Wedge (Ice Age, Robots) ini yaitu seorang pelajar Sekolah Menengan Atas tingkat final berjulukan Tripp (Lucas Till). Bermasalah di rumah dan terpinggirkan di sekolah, Tripp menemukan kebahagian dalam hidupnya ketika bekerja paruh waktu di kawasan pembuangan kendaraan beroda empat bekas karena beliau banyak menggunakannya untuk merakit truknya sendiri. Kehidupan Tripp yang penuh kecemasan sontak berubah sesudah sesosok makhluk asing mirip gurita menyambangi kawasan kerjanya. Rupanya makhluk yang belakangan dinamai Creech ini sedang diburu oleh bos minyak, Reece (Rob Lowe), yang tidak ingin bisnisnya terganggu gara-gara diketahui ada satwa langka hidup di sekitaran area kilang minyaknya. Dibantu oleh sobat sekolahnya, Meredith (Jane Levy), yang secara tidak sengaja ikut terlibat, Tripp berupaya menyelamatkan Creech yang belakang layar memiliki intelejensi diatas rata-rata dan sanggup berubah menjadi menjadi mesin bagi truk Tripp, dari kejaran korporasi kejam milik Reece. Di tengah-tengah petualangan ini, persahabatan unik diantara Tripp dan Creech pun lambat laun mulai terbentuk yang lantas mengungkap fakta lain mengenai Creech. 

Plotnya sangat sederhana. Kentara disasarkan bagi penonton cilik dari rentang usia 4 hingga 12 tahun sehingga jalinan pengisahannya bisa dimaklumi kalau tidak pernah tergali mendalam, guliran konfliknya tidak hingga diperuncing, dan sekuens laganya pun masih dalam tahapan aman. Ya, Monster Trucks memang sebuah film yang ditujukan sebagai hiburan ringan untuk seluruh anggota keluarga. Penonton cilik bakal bersorak sorai menyaksikan truk yang ‘dikendarai’ Creech melompat-lompat liar di atas atap pertokoan, kemudian dilanjut kejar-kejaran seru, sementara penonton cendekia balig cukup akal boleh jadi akan dibentuk mendengus kesal olehnya atau malah cukup menikmati tergantung seberapa tinggi kemampuanmu menolerir kekonyolan yang menghiasi sepanjang durasi dan sejauh mana Monster Trucks sanggup membawamu bernostalgia ke film-film keluarga pada dekade 80-an serta 90-an. Mau tidak mau, Monster Trucks melayangkan ingatan ke film-film keluarga bernafaskan fantasi di periode tersebut semacam E.T., Flight of the Navigator, hingga Small Soldiers yang celotehannya turut mengusik seputar perkawanan ganjil antara insan dengan makhluk ajaib. 

Monster Trucks mencuri perhatian aku alasannya yaitu faktor terakhir. Aroma nostalgianya menguar besar lengan berkuasa sampai-sampai sulit menahan sisi kanak-kanak dalam diri untuk tidak ikutan bersuka cita. Hey, semakin jarang kan kini menjumpai film keluarga perihal persahabatan lintas spesies? Mulanya memang agak susah terkoneksi pada film mengingat skrip tipisnya tidak memungkinkan penonton memperoleh informasi memadai mengenai bangunan dunianya maupun terkoneksi ke barisan karakternya. Belum lagi, Creech lebih sering tampak menjijikan ketimbang imut-imut menggemaskan. Tapi seiring berjalannya waktu, ketika Creech diketahui sanggup melebur manis dengan truk yang mengakibatkan truk sanggup meluncur gesit dan misi melarikan diri dari kejaran antek-antek Reece dimulai, film mulai menunjukkan daya pikatnya. Wedge berhasil menginjeksikan kesenangan dalam rentetan adegan kejar-kejarannya yang mengambil lokasi di jalan raya, tengah kota, hingga tebing. Interaksi Tripp bersama Creech dan Meredith pun berangsur lezat disimak. Meski secara perawakan tampak kurang meyakinkan sebagai pelajar SMA, Lucas Till beserta Jane Levy memiliki karisma untuk menciptakan huruf masing-masing tidak berakhir menyebalkan dan gampang disukai. Kombinasi cukup baik antara sabung seru bersama relasi hangat antar huruf (plus, adanya nostalgia!) inilah yang kemudian pada jadinya menggugurkan kata “mengecewakan” untuk mendefiniskan Monster Trucks dan digantikan oleh kata “menyenangkan”.

Acceptable (3/5)