October 31, 2020

Review : Mousehunt


He’s Hitler with a tail. He’s “The Omen” with whiskers. Even Nostradamus didn’t see him coming!” – Ernie 

Beberapa hari terakhir ini aku terhinggapi virus ‘susah move-on’ yang tengah mewabah di banyak sekali penjuru dunia dan menyerang insan tanpa mengenal batasan usia, agama, suku, status sosial, maupun jenis kelamin. Sebuah ‘virus’ yang sangat berbahaya. Hanya saja, bukanlah problem asmara yang aku hadapi, melainkan… ya Anda tahu sendiri, berkaitan dengan hobi, yang ya Anda tahu sendiri… film. Di tengah pikiran yang sumpek karena tak kunjung menemukan gairah membara untuk menuntaskan omong kosong berjulukan skripshit, mendadak aku ingin menyaksikan ulang film-film penuh kenangan manis. Maksudnya disini, film-film yang aku tonton di tiga tahun pertama tatkala rasa cinta kepada film mulai bersemayam di hati mungil ini. Maka Anda jangan terheran-heran bila dalam beberapa ahad ke depan Cinetariz akan dihiasi film-film yang disorotkan pertama kali ke layar putih lebar pada tahun 1996 sampai 1998. Dalam perjalanan melongok ke masa lampau, pilihan pertama jatuh kepada MouseHunt yang memasuki bioskop-bioskop Indonesia pada tahun 1998. Ketertarikan aku kepada film ini lebih disebabkan oleh rasa ingin tahu dan kepolosan anak SD. Bagaimana mungkin sebuah film yang nampaknya kondusif dan ditargetkan untuk konsumsi keluarga – dinilai dari tampilan poster utama dan poster ‘movie stills’ – menerima cap ‘Dewasa’ dari LSF? Hmmm… Dan ketika aku menyaksikannya, pertanyaan itu masih belum terjawab. Jawaban gres aku dapatkan, 14 tahun kemudian! Ouch. 
MouseHunt yaitu film perdana dari Gore Verbinski yang belakangan Anda kenal sebagai nahkoda kapal dari trilogi Pirates of the Caribbean serta menukangi versi Amerika dari film yang melambungkan nama Mbak Sadako, The Ring. Film yang diproduksi oleh DreamWorks Pictures dengan suntikan dana sebesar $38 juta ini yaitu jenis film yang murni dibentuk dengan tujuan sebagai hiburan. Tak usah berpusing-pusing memikirkan budi kisah karena Anda hanya akan sakit hati dibuatnya. Just enjoy the movie! Apa yang disajikan oleh Verbinski di sini kolam tengah menyaksikan sebuah tampilan ‘live action’ dari animasi tak lekang zaman, Tom & Jerry. Tak ada yang benar-benar menjadi tokoh antagonis dalam film ini, semuanya dikembalikan ke perspektif masing-masing penonton. Apakah Anda akan menilai si tikus sebagai ‘villain’ atau malah justru dua bersaudara yang senantiasa tertimpa kesialan, Ernie Smuntz (Nathan Lane) dan Lars Smuntz (Lee Evans)? Bisa juga para tokoh pendukung yang mana menerima porsi tampil minor di sini. Anda bebas memutuskan. 

Kesialan yang dialami oleh Ernie dan Lars bermula ketika ayah mereka, Rudolf Smuntz (William Hickey), berpulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa. Warisan yang ditinggalkannya hanyalah pabrik benang yang kondisinya hidup segan mati tak mau, benda-benda koleksi yang murahan, serta sebuah rumah kuno yang hanya dengan satu tiupan angin saja porak poranda. Tak satupun yang bisa menciptakan mereka berdua berenang-renang di kolam Dollar layaknya Paman Gober. Namun sesudah Lars dicampakkan oleh istrinya yang mata duitan serta Ernie kehilangan restoran yang dikelolanya karena sebuah bencana yang menjadikan janjkematian seorang walikota, maka mereka berdua pun mau tak mau mendapatkan peninggalan sang ayah… termasuk mengurus hutang-hutang yang ditinggalkan. Keberuntungan untuk sesaat tampaknya berpihak kepada mereka ketika terungkap fakta bahwa rumah warisan sang ayah yaitu bangunan bersejarah yang disebut ‘The Missing LaRue’. Lelang pun digelar. Dua bersaudara ini menawarkan sentuhan disana sini demi memerbaiki rumah yang telah bobrok. Hanya saja segalanya tidak serta merta berjalan sesuai rencana. Rumah ini ternyata telah dihuni oleh seekor tikus yang enggan begitu saja ditendang ke luar dan berusaha keras untuk tetap bertahan apapun resiko yang dihadapi. Selama film berlangsung yang akan Anda simak yaitu bagaimana Smuntz bersaudara kewalahan dalam menaklukkan si tikus absurd yang dengan lincah berlari kesana kemari seakan-akan mengejek ketidakbecusan para pewaris resmi ini sampai kemudian memanggil pembasmi profesional, Mr. Caesar (Christopher Walken), yang ternyata bertekuk lutut ketika berhadapan dengan hewan pengerat yang tak kalah absurd dengan Jerry itu. Sungguh luar biasa… menjengkelkan. 

Terakhir kali aku menyaksikan MouseHunt yaitu belasan tahun yang lalu. Apa yang aku rasakan ketika ini ketika menontonnya kembali pun tak jauh berbeda dengan apa yang aku rasakan dulu kecuali tertangkapnya detil-detil kecil sekaligus terjawabnya pertanyaan yang sempat menghantui pikiran itu. MouseHunt tetaplah sebuah sajian yang sangat menyenangkan untuk ditonton, lucu, dan tentu saja menghibur. MouseHunt bagaikan perpaduan antara Home Alone dan Tom & Jerry. Asalkan Anda bisa menikmati kedua hidangan tersebut, maka Anda tak akan kesulitan mendapatkan film yang naskahnya dikelola oleh Adam Rifkin ini. Memang ini bukan film yang dicari oleh para pemburu komedi cerdas karena ledakan tawa penonton dipancing oleh lawak slapstik, namun bila apa yang Anda harapkan yaitu sebuah tontonan yang bisa menciptakan Anda tergelak di kala senggang – atau malah stres – tanpa perlu memutar otak demi memahami maksud dan tujuan film dibuat, maka ini film yang tepat. Duduk, rebahkan punggung ke sandaran kursi, selonjorkan kaki, sisihkan sejenak segala macam problem yang membebani pikiran dan nikmati apa yang tersaji di layar. Kalau perlu, siapkan pula cemilan dan minuman ringan untuk menikmati Anda bersantai. Uh, nikmat sekali.

Acceptable