October 22, 2020

Review : My Stupid Boss 2


“Ini Vietnam, bukan Cililitan. Mereka kalau nyerang itu pakai granat.”

Bagi saya, My Stupid Boss (2016) yaitu film komedi yang cukup mengasyikkan. Memang sih film kode Upi (30 Hari Mencari Cinta, My Generation) yang didasarkan pada rangkaian buku laku rekaan chaos@work tersebut lebih mirip denah mirip materi sumbernya yang tersusun atas kumpulan-kumpulan bencana konyol dan peralihan nada penceritaan di babak pamungkas sempat memunculkan reaksi “hah, kok jadi gini?”, tapi setidaknya film berhasil beberapa kali menciptakan saya tergelak-gelak menyaksikan tingkah laku Bossman (Reza Rahadian) yang ngeselinnya naudzubillah beserta karyawan-karyawan pabriknya. Ada dagelan yang manjur di sini, ada pula performa pemain yang tidak main-main, dan film pun memiliki tampilan visual bergaya yang sedikit banyak melayangkan ingatan kepada sajian-sajian karya Wes Anderson. Itulah mengapa saya tidak mengeluh panjang-panjang mengenai titik lemahnya dan saya langsung sangat menanti ketika rumah produksi Falcon Pictures mengumumkan bahwa My Stupid Boss 2 tengah dipersiapkan. Berhubung Upi bukanlah tipe “sequel person” sehingga proses pengembangan film kedua membutuhkan waktu cukup lama, diri ini pun tak kuasa untuk bertanya-tanya. Apa yang akan dipersiapkannya sebagai daya pikat di film kedua ini? Akankah beliau semata-mata melipatgandakan semua kegilaan dari film terdahulu mengikuti hukum tak tertulis sebuah sekuel? Atau… ada kejutan lain yang menyertai?

Dalam My Stupid Boss 2, penonton sekali lagi diajak mengikuti kisah menggelikan nan menyebalkan dari Bossman yang level kikirnya bolehlah bersaing dengan Tuan Crab dari Spongebob Squarepants. Meski kita telah mengetahui bahwa beliau memiliki sisi malaikat mirip ditunjukkan di penghujung film pertama, tapi ternyata sifat dasarnya sebagai atasan diktator yang kerap bertindak semena-mena terhadap karyawannya tetaplah tidak berubah. Dia kerap nunggak dikala membayar gaji, sering memotong honor ketika karyawan melaksanakan kesalahan kecil, dan tak bersedia sedikitpun terbuka terhadap kritik saran yang dianggapnya sebagai “keluhan”. Menilik perlakuan Bossman yang ngawur – bahkan beliau tidak segan-segan memberi kiprah embel-embel yang melenceng jauh dari jobdesc – maka tak mengherankan jikalau lalu para pekerja menentukan untuk hengkang beramai-ramai yang seketika menghambat proses produksi di pabrik. Guna mengatasi problem ini, Bossman pun berinisiatif mengajak Diana alias Kerani (Bunga Citra Lestari), Mr. Kho (Chew Kin Wah), serta Adrian (Iedil Putra), ke Vietnam untuk mencari tenaga kerja yang bersedia dibayar dibawah standar gaji. Berhubung Bossman yaitu langsung yang menjunjung tinggi prinsip “bertindak semau-mau gue”, maka tentu saja perjalanan ini tak ubahnya mimpi jelek bagi ketiga anak buahnya. Betapa tidak, mereka dipaksa menjelajah pedalaman Vietnam hanya untuk mendapati mereka dikejar-kejar oleh sekelompok preman yang marah. Kurang aneh apa coba?


Tidak mirip film pertamanya yang dikonstruksi kolam denah komedi dimana kontennya sebatas kompilasi kisah “mimpi buruk” Kerani dalam menghadapi atasannya, My Stupid Boss 2 mempunyai bangunan konflik yang lebih jelas. Setidaknya ada dua permasalahan utama yang dikedepankan oleh film; 1) perjalanan penuh ancaman ke Vietnam demi mencari buruh murah, dan 2) dua karyawan Bossman – Sikin (Atikah Suhaemi) dan Azahari (Iskandar Zulkarnaen) – disandera oleh gangster gara-gara si bos berkumis lele ini tak kunjung melunasi hutang. Memang sih kedua konflik tersebut urung memperoleh penggalian yang mumpuni. Penonton seharusnya bisa menyimak interaksi intens antara Bossman bersama karyawan-karyawannya serta bagaimana kejadian-kejadian apes yang menghampiri mereka ini membawa perubahan terhadap kekerabatan antara satu dengan lain. Tapi paling tidak, keberadaan narasi menciptakan My Stupid Boss 2 tahu harus mengarah kemana. Adanya narasi juga menciptakan saya bisa mendapatkan konklusi cenderung ujug-ujug (baca: mendadak) yang disodorkan sebab satu dua adegan telah memperlihatkan petunjuk mengenai cara film mengurai konflik. Berbeda dengan penyelesaian di seri pendahulu yang benar-benar bikin terhenyak sebab peralihan nadanya terlampau ekstrim. Di sini, Upi yang bertindak sebagai sutradara sekaligus penulis skenario berusaha untuk tak menghadirkan babak pamungkas dalam mode sentimentil demi memancing haru, melainkan mencoba tetap mempertahankan semangat bersenang-senang yang telah diaplikasikan sedari menit pembuka. Interesting, huh?

Ya, My Stupid Boss 2 diupayakan untuk tampil dengan level kegilaan dan absurditas di atas instalmen pendahulunya. Saya menjumpai aneka macam kesenangan selama menyaksikan film ini di layar lebar, walau tak menampik kenyataan bahwa terdapat beberapa lontaran humor yang meleset dari sasaran. Temuan paling banyak ada di menit-menit pertama sebelum lalu candaan demi candaan sanggup bekerja secara semestinya begitu film memboyong para karakternya menuju ke Vietnam. Disokong oleh penyuntingan rapat dan performa jajaran pemain yang boleh dibilang “liar”, maka tak sulit bagi film untuk mengompensasi kegaringan lelucon. Reza Rahadian dalam penampilan yang lagi-lagi patut diberi apresiasi bisa menyebarkan abjad yang dimainkannya menjadi lebih menjengkelkan dari sebelumnya. Saya sungguh tak habis pikir, kok bisa sih ada insan sedemikian kikir, sok tahu, serta gemar mengeluh di muka bumi ini? Apakah ini yaitu cara Tuhan menguji kesabaran hamba-hamba-Nya? Saya rasa demikian dan trio “korban” yang dimainkan dengan sangat baik oleh Bunga Citra Lestari, Iedil Putra, serta Chew Kin Wah bisa dibilang berhasil lolos tes kesabaran. Disamping keempat pelakon ini, My Stupid Boss 2 juga menerima sumbangsih dari Morgan Oey sebagai laki-laki Vietnam yang meledak-ledak berjulukan Nguyen, Verdi Solaiman sebagai gangster Cina, dan Sahil Shah sebagai gangster India. Meski tergolong singkat, mereka bertiga memperlihatkan penampilan sangat membekas dalam beberapa momen paling pecah di film. Entah denganmu, saya sih tergelak-gelak dalam adegan “pemandu jalan dari neraka” dan dance battle yang sedikit banyak memperlihatkan citra mirip apa film secara keseluruhan: kocak dan juga mengasyikkan!       

Exceeds Expectations (3,5/5)