October 20, 2020

Review : My Stupid Boss


“Impossible we do, miracle we try.” 

Coba bayangkan, bagaimana rasanya kalau kau bekerja di negeri orang dan mendapatkan komando dari seorang atasan bersemboyan “Bossman always right” serta mempunyai prinsip “impossible we do, miracle we try”? Belum apa-apa, hanya membayangkannya saja sudah terdengar mirip mimpi buruk, bukan? Nasib apes mempunyai bos luar biasa absurd ini dialami Diana (Bunga Citra Lestari) kala menetap di Kuala Lumpur, Malaysia, mengikuti sang suami, Dika (Alex Abbad). Begitu mendengar calon atasannya ialah warga Indonesia mirip dirinya dan merupakan mitra usang sang suami, beliau berpikir “apa sih yang mungkin salah?.” Adanya satu dua kesamaan sanggup jadi akan memudahkan mereka untuk saling berinteraksi dan segala bayangan bagus mengenai calon atasan seketika buyar tak bersisa pada perjumpaan pertama. Ternyata oh ternyata, laki-laki berkumis lele dengan rambut setengah botak dan perut menggelembung yang minta dirinya dipanggil “Bossman” (Reza Rahadian) ini sangat mungkin memperoleh nominasi, bahkan memenangkan, penghargaan Atasan Paling Menjengkelkan apabila penghargaan semacam itu benar-benar ada. Tidak pernah terbersit sedikitpun dalam benak Diana bekerja dengan Bossman akan membuatnya tersiksa lahir batin sedemikian rupa.  

My Stupid Boss merupakan hasil visualisasi Upi (Realita Cinta dan Rock ‘n Roll, Belenggu) dari rangkaian buku laku berjudul sama karya Chaos@work yang menceritakan pengalaman-pengalaman konyol sang pengarang dalam menghadapi tingkah laku sang atasan. Seperti halnya materi sumber, My Stupid Boss pun lebih mirip sekumpulan bagan komedi yang dirajut menjadi satu mempergunakan teknik penyuntingan ketimbang satu dongeng utuh. Sepanjang film penonton hanya disodori segmen demi segmen yang mempertontonkan ‘kekejaman’ Bossman dalam menyiksa para bawahannya tanpa ada dongeng yang berkesinambungan. Tiada dibekali skrip kokoh dengan guliran penceritaan mengikat dan barisan huruf yang simpatik untuk menambat atensi penonton, Upi bahwasanya mengambil keputusan sangat beresiko. Apabila lontaran-lontaran humor yang dijadikan pegangan utama tidak mencukupi kandungan gregetnya, My Stupid Boss sangat berpotensi berakhir sebagai bencana. Dibutuhkan konsistensi menjaga derai tawa semoga penonton tidak harus menghadapi kelelahan atau malah kantuk berat. Ini terang bukan kasus mudah. My Stupid Boss pun sempat beberapa kali berada dalam posisi nyaris kehabisan materi bakar sehingga besar lengan berkuasa pada melambatnya laju film di beberapa titik. 

Untungnya, My Stupid Boss mempunyai lebih banyak stok dagelan yang mengenai sasaran ketimbang meleset. Saat sasaran dikenai, kelucuannya sanggup sangat-sangat lucu. Dengan penghantaran guyonan sering sempurna sesuai waktu, misi untuk meledakkan bioskop memakai tawa berkepanjangan sanggup dicapai. Pepesan kosong terhindarkan dan keputusan nekat Upi mempertahankan film selayaknya kumpulan bagan komedi pun terbayarkan. Menghibur dan mengasyikkan, seketika menjadi padanan kata yang cocok bagi My Stupid Boss. Semenjak Diana menjejakkan kaki di kantor barunya, kemudian mencium adanya ketidakberesan dalam sosok Bossman – beserta rekan-rekan kerjanya – perut penonton telah dikocok-kocok tanpa ampun. Dan ini terus berlanjut pada menit-menit berikutnya. Bagi kau yang pernah mencicipi berada di posisi Diana, level kekocakannya sangat mungkin berlipat ganda. Memang sih, mirip telah disinggung juga di paragraf sebelumnya, megap-megap alasannya materi candaan mulai mengering tak sanggup terhindarkan terlihat dari adanya repetisi-repetisi, namun untuk ukuran sebuah film yang kontennya melulu ngebanyol tanpa mempergunakan momen dramatik di sela-sela (well, kecuali pada bab konklusi yang kemunculannya juga terasa dipaksakan dan sama sekali tidak perlu) maupun momen berintensitas tinggi, My Stupid Boss terhitung berhasil menjaga laju film secara konstan untuk senantiasa berada di atas garis ‘bisa dinikmati’ hingga tutup durasi. 

Setidaknya ada dua kunci keberhasilan My Stupid Boss. Pertama, timing ngelaba yang pas. Kedua, performa mempesona jajaran pemainnya. Tidak peduli seberapa bosan kau melihat wajah Reza Rahadian wara-wiri di aneka macam judul film layar lebar – sampai-sampai mengeluh, “Reza lagi, Reza lagi” – sangat sulit menampik fakta bahwa beliau ialah pemeran hebat. Menunjukkan totalitasnya dalam bersandiwara, Reza bertransformasi secara mulus menjadi Bossman yang tindak tanduknya akan membuatmu gemas bukan kepalang. Bahkan, hanya melihat gestur muka Bossman saja tanpa perlu beliau mengucap sepatah katapun memakai logat Jawanya yang kental, kita sudah serasa ingin memelintir kumis lelenya. Ngeselin! Bagusnya akting Reza turut menular ke pelakon lain. Sosok Diana atau Kerani yang agak-agak judes dimainkan Bunga Citra Lestari dengan luwes dan jalinan chemistry-nya bersama Reza tampak meyakinkan tanpa sedikitpun mengingatkan kita kepada Habibie & Ainun (which is good!). Sedangkan para huruf pendukung mirip Dika, Sikin (Atikah Suhaime), Adrian (Bront Palarae), Azhari (Iskandar Zulkarnain), Mr. Kho (Chew Kinwah), dan Bu Boss (Melissa Karim) juga menunjukkan donasi penting semoga aliran humor tetap mengalir lancar dengan kredit khusus diberikan kepada Chew Kinwah yang kemunculan khasnya tidak pernah gagal mengundang gelak tawa. 
Adegan favorit : Bossman ‘menghilang’ sejenak, para pekerja merayakannya penuh suka cita dengan iringan lagu Cindai kepunyaan Siti Nurhaliza.

Exceeds Expectations (3,5/5)