October 22, 2020

Review : Nanti Kita Dongeng Wacana Hari Ini

“Gimana caranya bahagia, kalau sedih aja nggak tahu rasanya kayak apa?”

(Ada sekelumit bahasan mengenai menit-menit puncak di paragraf akhir. Bagi beberapa orang mungkin dianggap spoiler, meski saya tidak menjabarkan secara spesifik.)

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini yaitu sebuah fenomena di khasanah perbukuan tanah air. Betapa tidak, ketika pertama kali diterbitkan pada bulan Oktober 2018 silam, buku rekaan Marchella FP tersebut bisa terjual lebih dari 5 ribu eksemplar hanya dalam kurun waktu sehari. Itupun sebatas meliputi Pulau Jawa dan belum pula ditambahkan dengan penjualan melalui pre-order yang tak kalah dahsyatnya. Hingga ulasan ini diturunkan, buku berisi kutipan kalimat-kalimat perenungan hidup ini sudah mencapai cetakan ke-12 dan masih banyak diburu oleh khalayak ramai. Mengagumkan, bukan? Menilik respon yang sedemikian antusias dari masyarakat, tentu tak mengherankan kalau kemudian Visinema Pictures meminang Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini untuk diekranisasi ke layar lebar. Seperti halnya Imperfect (2018) maupun Aku, Kau, dan KUA (2014) yang juga disadur dari buku non-fiksi tanpa ada narasi di dalamnya, Angga Dwimas Sasongko selaku sutradara beserta Jenny Jusuf dan Melarissa Sjarief yang membantu Angga dalam memoles skenario pun sejatinya mengkreasi satu jalinan pengisahan baru. Yang menjadi landasan mereka ada dua: 1) abjad berjulukan Awan yang dalam materi sumber merupakan “tokoh kunci” yang dikisahkan mengirim surat berisi wejangan-wejangan untuk anaknya di masa depan, dan 2) jalinan pengisahannya yaitu klarifikasi terperinci dari kalimat-kalimat bernada kontemplatif di bukunya yang secara garis besar memperbincangkan perihal keluarga, kebahagiaan dan kehidupan. Sebuah materi yang mesti diakui menggugah selera karena terasa begitu membumi, begitu dekat, dan begitu personal bagi banyak orang.

Dalam versi layar lebar Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, abjad yang ditempatkan di posisi sentral masihlah Awan (Rachel Amanda) yang diceritakan sebagai bungsu dari tiga bersaudara. Dia mempunyai dua kakak, Angkasa (Rio Dewanto) dan Aurora (Sheila Dara), yang mengatakan perilaku bertolak belakang kepadanya. Angkasa tak ubahnya malaikat pelindung bagi Awan yang sigap dalam mengulurkan tunjangan untuk adiknya, sementara Aurora justru membuat jarak dengan Awan karena ada perasaan cemburu yang terpendam. Pemicunya berasal dari kedua orang tuanya, Narendra (Donny Damara) dan Ajeng (Susan Bachtiar), yang kelewat memanjakan Awan hingga abai dengan keberadaan Aurora. Si bungsu dihentikan kesusahan, dihentikan bersedu sedan, dan semestinya selalu dilindungi. Oleh karena itu, Narendra memberlakukan batasan-batasan mengenai apa yang boleh dilakukan oleh Awan dan ia pun menugaskan Angkasa untuk senantiasa menjaga sang adik termasuk menyediakan kemudahan antar jemput ke kantor. Sikap overprotektif Narendra ini secara perlahan tapi niscaya membentuk Awan sebagai langsung yang pembangkang. Dia enggan lagi menuruti perkataan sang ayah, utamanya sesudah berkenalan dengan manager dari grup band kesukaannya, Kale (Ardhito Pramono), yang memberinya perspektif menarik mengenai menjalani hidup. Merasa bahwa putri bungsunya tidak lagi bisa diatur, Narendra terang naik pitam yang lantas memantik percikan-percikan konflik dengan ketiga anaknya. Dari pertikaian andal antara empat insan ini, sebuah belakang layar memilukan yang selama ini berusaha untuk dipendam pun mengemuka yang memaksa setiap personil keluarga untuk berdamai dengan murung dan luka. 


Sebagai bungsu dari tiga bersaudara dengan dua abang perempuan, saya tentu bisa terkoneksi ke sebagian masalah yang menghiasi durasi Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini. Soal ayah yang mempergunakan kekuasannya di lingkup rumah tangga untuk mengontrol anak-anaknya, soal anak bungsu yang kehilangan arah tujuan dalam hidup karena tidak pernah diberi kekebasan untuk memilih pilihannya sendiri sedari cilik, dan soal kekerabatan kurang hangat dengan anak tengah yang kerap kali dilingkupi amarah akhir ketimpangan dalam pemberian afeksi dari orang tua. Selama paruh awal, saya yang mengalami segenap konflik tersebut seolah dibentuk bercermin sehingga tak sulit bagi diri ini untuk tertambat ke guliran pengisahan yang dilantunkan secara perlahan dengan mode kontemplatif oleh Angga Dwimas Sasongko (Hari Untuk Amanda, Cahaya Dari Timur Beta Maluku). Sebuah bentuk pendekatan yang sejalan dengan materi sumbernya yang memang mengajak para pembacanya untuk merenungi, mempertanyakan, kemudian mendefinisikan kehidupan. Upayanya untuk patuh pada versi buku memang memunculkan konsekuensi berupa kejanggalan obrolan yang acapkali terdengar kelewat filosofis. Tapi sebagai seseorang yang pernah (dan mungkin masih?) berada di posisi Awan, saya langsung tidak terlalu keberatan karena film menghadirkan pembicaraan menarik melalui tukar obrolan maupun pertikaian antar karakter. Disamping membentuk pertanyaan utama berbunyi “apakah kita semestinya meredam murung demi membuat kebahagiaan?”, ada pula materi renungan untuk setiap individu mengenai keberanian dalam memilih pilihan, materi obrolan mengenai kerapuhan maskulinitas beserta materi diskusi setiap keluarga mengenai “keinginan dan kebutuhan”. Sebuah diskusi yang terang diharapkan oleh seluruh keluarga demi tercapainya kekerabatan yang harmonis.

Berat? Begitulah adanya. Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini mencoba untuk menangkap keresehan-keresahan generasi muda masa sekarang yang boleh jadi acapkali dipandang sebelah mata oleh orang-orang di sekelilingnya. Keresahan itu diimplementasikan ke dalam masalah yang merongong Angkasa dimana ia dibebani tanggung jawab besar oleh orang tuanya tanpa pernah mempunyai waktu untuk memikirkan dirinya sendiri, kemudian Aurora yang seolah dianggap tidak pernah ada sekalipun kerap menorehkan prestasi, dan Awan yang berkeinginan untuk diberi kebebasan dalam memilih jalan hidupnya sendiri. Tatkala si pembuat film meletakkan fokusnya pada pergolakan batin tiga individu yang disebabkan oleh “pembungkaman” dari sang ayah, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini terhidang begitu menggigit. Apalagi, film disokong barisan pemain ansambel yang sodorkan akting memuaskan mirip Rachel Amanda yang cenderung meletup-letup dalam mengatakan emosinya hingga pada titik Awan tidak menyadari ada yang salah dengan tindakannya, Rio Dewanto yang menunjukkan kewibawaan seorang abang yang menjadi tulang punggung bagi adik-adiknya, dan Sheila Dara yang tak dibekali banyak obrolan tapi sanggup memancarkan kegundahan hati seorang Aurora melalui sorot mata. Disamping tiga nama utama ini, masih ada pula Donny Damara beserta Susan Bachtiar yang merepresentasikan masa kini, dan pelakon-pelakon yang didapuk untuk melakonkan karakter-karakter krusial di masa lampau dimana kredit khusus patut disematkan kepada Oka Antara, Niken Anjani, maupun aktris cilik Nayla Denny Purnama yang meyakinkan penonton bahwa Aurora telah “kehilangan” keluarganya sedari kecil.


Mengobrak-abrik emosi dan ada kalanya terasa hangat di paruh awal, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini sayangnya menjumpai kendalanya pada puluhan menit terakhir yang ditandai oleh adanya kelokan dongeng alias twist. Selain babak pengungkapannya yang agak terlalu dini, misteri yang semestinya kejut positif ini nyatanya terasa kurang meyakinkan. Peristiwanya memang betul traumatis, tapi mengapa harus disembunyikan selama puluhan tahun? Apakah ini satu cara bagi si pembuat film untuk berkomunikasi dengan penonton mengenai ancaman dari meredam duka? Bisa jadi demikian, meski tak seketika bisa membuat saya sanggup menerimanya mirip ketidaksanggupan diri ini untuk mendapatkan keberadaan lagu-lagu pengiringnya yang lebih sering mengganggu ketimbang menguatkan emosi dari setiap adegan. Lebih-lebih, twist tersebut justru membuat abjad Ajeng tampak egois karena ia mirip abai dengan keberadaan putra-putrinya. Demi babak ini, sosoknya sering diperlihatkan “terpisah” dari abjad lain yang seketika membuat diri ini bertanya-tanya: apakah ia betul-betul ada untuk buah hatinya? Betulkah ia menyayangi mereka? Padahal, saya sempat menduga Ajeng akan menjadi sobat berkeluh kesah bagi Aurora yang senantiasa sendirian baik di rumah atau di lingkungan kerja. Tapi ternyata dua abjad dengan potensi konflik paling greget ini justru agak terpinggirkan dalam perjalanan narasi yang ironisnya mirip masalah yang mendera Aurora. Sayang banget nggak sih? Andai saja mereka diberi kesempatan untuk lebih dilibatkan ke dalam penceritaan, diberi kesempatan untuk berbuat, dan diberi kesempatan untuk mengatakan transisi perubahan di ujung dongeng (alih-alih secara mendadak!), bukan mustahil Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini akan lebih menguras emosi. Bahkan dengan kekurangannya ini saja, saya masih sempat dibentuk menitikkan air mata.

Exceeds Expectations (3,5/5)