October 20, 2020

Review : Negeri Van Oranje


“Cukup satu kejadian. Cukup satu. Untuk mengingat seseorang.” 

Sulit untuk menahan godaan untuk tidak merasakan Negeri Van Oranje ketika bintang-bintang berbakat sinema Indonesia masa sekarang berkumpul menjadi satu dalam satu layar; ada Abimana Aryasatya, Chicco Jerikho, Arifin Putra, Tatjana Saphira, sampai Ge Pamungkas, untuk memerankan lima sahabat yang di sela-sela padatnya aktivitas perkuliahan S-2 dan problematika-problematika perihal asmara mengajak kita berjalan-jalan menikmati eloknya pemandangan Eropa (dalam hal ini, Belanda dan Republik Ceko). Ya, mereka dikumpulkan oleh Falcon Pictures dalam sebuah film instruksi Endri Pelita (Dawai 2 Asmara, Air Mata Terakhir Bunda) yang dasar pengisahannya dinutrisi dari novel laku berjudul serupa. Walau bahan aslinya turut menguliti perihal usaha barisan karakternya – kesemuanya ialah mahasiswa pascasarjana – dalam bertahan hidup selama menimba ilmu di negeri orang, jangan harap kau sanggup memperoleh tuturan inspiratif serupa pada versi film Negeri Van Oranje alasannya ialah Endri dan tim sendiri lebih memfokuskannya kepada dongeng persahabatan berbalut percintaan segi rumit diantara mereka. 

Negeri Van Oranje memperkenalkan kita kepada lima sahabat, yakni Geri (Chicco Jerikho), Wicak (Abimana Aryasatya), Lintang (Tatjana Saphira), Banjar (Arifin Putra), dan Daus (Ge Pamungkas). Menempuh kuliah S-2 di kota berbeda-beda, pertemuan kelimanya bermula dari dialog perihal rokok ketika masing-masing ‘terdampar’ di sebuah stasiun kereta api. Merasa cocok satu sama lain – well, intinya kesamaan kultur dan asal menciptakan mereka gampang nyambung – Geri beserta konco-konco barunya ini pun setuju menjalin tali persahabatan dan menamai kelompok mereka ‘AAGABAN’. Mengingat salah satu personil dari AAGABAN ialah perempuan, belum lagi ini merupakan film yang membutuhkan konflik pelik, maka permasalahan perihal cinta pun tak terelakkan. Lintang rahasia menaruh cinta ke Geri, sedangkan kawan-kawannya yang lain pun sama-sama naksir kepada Lintang dan berusaha memenangkan perasaan Lintang melalui caranya masing-masing. Persoalan hati inilah yang lantas menggoyahkan persahabatan mereka terutama sehabis sebuah rahasia besar terungkap. 

Sebelum memasuki tahapan konflik mencengangkan (dengan catatan, kau memang sama sekali buta soal Negeri Van Oranje) serta cukup memberi tonjokkan pada emosi meski dalam waktu relatif singkat, tuturan yang dilantunkan oleh Endri Pelita menurut skrip racikan Titien Wattimena beserta Annisa Rijadi sejatinya cenderung aman-aman saja. Dalam artian, nyaris tidak ada gelombang besar berwujud konflik yang ditemukan menghantam sehingga keasyikkan menikmati film murni bergantung kepada keahlian Yoyok Budi Santoso membingkai lanskap manis Belanda plus Republik Ceko (pada dasarnya pemilihan lokasi latar pun sudah jitu), iringan skoring indah dari Andhika Triyadi, lantunan tembang-tembang easy listening, penataan busana luar biasa cakep yang menegaskan karakteristik barisan tokohnya dan kekuatan lakon ensemble cast-nya. Setidaknya sepanjang paruh pertama film, penonton diajak berkenalan singkat ke setiap aksara pria (Lintang bertindak sebagai narator) seraya berjalan-jalan menelusuri sudut-sudut kota Leiden, Utrecht, Rotterdam, Wageningen, plus Den Haag tanpa pernah ada dilema berarti pula mencengkram erat yang mengiringi. 

Dan film pun tidak pernah terasa lempeng sekalipun minim konfik lantaran, sulit dipungkiri, ada kesenangan tersendiri menyaksikan Negeri Van Oranje berkat segenap elemen yang telah aku jabarkan di paragraf sebelumnya sanggup terkombinasikan secara tepat khususnya pada poin pemandangan serba membuai mata (ehem, termasuk penampilan fisik para pemainnya). Dengan setiap jajaran pemainnya mempersembahkan chemistry lekat, muncul pula kepercayaan bahwa Chicco Jerikho, Abimana Aryasatya, Arifin Putra, Ge Pamungkas, serta Tatjana Saphira betul-betul menjalin kekerabatan persahabatan. Bukankah menyenangkan menyaksikan sekelompok sahabat berkepribadian sungguh likable berkumpul bersama untuk saling melempar senda gurau kemudian berkelana ke beberapa kawasan di negeri orang berpanorama indah dengan sesekali konflik meletup? Ya, kuncinya terletak pada chemistry. Saat kita sanggup terhubung kepada mereka, merasakan kedekatannya, dan pada jadinya ingin ikut berpetualang bersama mereka, itu artinya chemistry bekerja semestinya. Negeri Van Oranje sangat diuntungkan oleh keberadaan chemistry, selain konklusi sangat manis, yang pada jadinya mengangkat film ke level lebih terhormat daripada sekadar film jalan-jalan penjual keindahan luar negeri semata.

Exceeds Expectations