October 20, 2020

Review : Nerve


“Are you a Watcher? Or a Player?” 

Venus ‘Vee’ Delmonico (Emma Roberts) memiliki wajah ayu, kemampuan membidik kamera yang apik, tapi ia bukanlah gadis paling digilai para lelaki di sekolahnya. Ketakutannya untuk keluar dari zona nyaman menyulitkannya berterus terperinci kepada sang ibu (Juliette Lewis) mengenai masa depannya dan memerangkapnya sebagai dayang-dayang dari Sydney (Emily Meade), seorang pemandu sorak yang populer. Kehidupan Vee yang bisa dibilang monoton mendadak berubah 180 derajat ketika sebuah tragedi memalukan memicu kemarahannya hingga mencapai titik kulminasi, membuatnya nekat mendaftarkan diri menjadi salah satu kontestan di permainan ilegal berbasis dunia maya berjulukan Nerve yang tengah digandrungi generasi muda. Aturan permainan Nerve sendiri terbilang sederhana. Saat kau memasuki laman utama, muncul dua opsi untuk dipilih; pemain atau penonton. Melibatkan diri sebagai pemain berarti merampungkan setiap tantangan demi merebut hadiah berupa uang sekaligus popularitas, sementara menentukan sebagai penonton berarti membayar guna menyaksikan para pemain beraksi via ponsel arif maupun komputer. Pemain sanggup mencapai level lebih tinggi tidak semata-mata ditentukan oleh keberhasilannya menaklukkan tantangan, tetapi juga seberapa besar respon penonton terhadapnya. 

Pemain memperoleh status ‘game over’ apabila gagal merampungkan tantangan atau mundur teratur. Disamping harus direkam memakai ponsel genggam dan kegagalan berujung dicabutnya raihan hadiah, peraturan Nerve secara tegas turut menyatakan: tidak boleh melaporkan keberadaan game ini ke otoritas berwenang atau terima konsekuensinya. Mulanya, Nerve tak ubahnya film komedi bertema coming of age yang mengalun santai-santai saja. Vee bertindak nekat demi pembuktian diri, Sydney haus akan popularitas sehingga menentukan berpartisipasi dalam Nerve sedari awal, dan Tommy (Miles Heizer), sobat kedua gadis ini, belakang layar menaruh hati kepada Vee namun tidak memiliki cukup nyali buat mengungkapkannya. Munculnya kontestan lain, Ian (Dave Franco), yang secara cepat erat dengan Vee kian memperumit posisi Tommy. Tapi kemudian, duo sutradara Henry Joost-Ariel Schulman yang pernah memberi kita paparan mind-blowing wacana online dating di film dokumenter bertajuk Catfish, perlahan tapi niscaya memudarkan nada penceritaan bersifat ringan penuh keceriannya begitu tantangan dieskalasi level kesulitannya yang menjurus ke marabahaya. Ya, Nerve berpindah lajur ke ranah thriller

Tanda-tandanya mulai tercium ketika Vee dan Ian yang popularitasnya melesat seusai memutuskan berafiliasi tidak lagi memperoleh tantangan remeh temeh bermodalkan muka rino semacam mencoba gaun mahal dan tergantikan oleh tantangan selesai hayat menyerupai mengendarai sepeda motor dalam kecepatan tinggi dengan pandangan tertutup. Mengetahui Vee makin tak terkontrol, orang-orang terdekat Vee pun bereaksi. Tommy mencoba membongkar identitas sesungguhnya dari rekan Vee, Ian, yang lantas menuntunnya pada fakta mengejutkan. Seiring semakin berbahayanya permainan, laju Nerve pun kian kencang. Dari awalnya berada di fase ketawa ketiwi menyaksikan betapa konyolnya bentuk tantangan yang diberikan kepada kontestan, penonton dibawa mencicipi fase jantung berdebar-debar ketika protagonis kita mendapat tantangan mengancam nyawa. Meski kita tahu benar Vee tidak akan meregang nyawa secepat itu – well, durasi masih tersisa 60 menit – tapi adanya keterikatan emosi berkat performa manis Emma Roberts yang menjalin kekompakan meyakinkan pula bersama Dave Franco menciptakan kita tidak bisa duduk nyaman di dingklik bioskop setiap kali sosok Vee dipaksa menjalankan tantangan yang semakin usang semakin tidak masuk akal. 

Ketegangan muncul sebagai hasil dari kepedulian kita pada Vee, plus tentunya kemahiran si pembuat film mengkreasi momen-momen penahan nafas. Ya, Joost-Schulman piawai menceritakan kembali goresan pena Jessica Sharzer yang mengadaptasi novel berjudul sama karya Jeanne Ryan ke bahasa gambar menimbulkan Nerve renyah buat disantap dari menit ke menitnya. Selain sanggup menciptakan kita peduli terhadap abjad utama, mereka pun berhasil menjerat perhatian pada tuturan sarat misterinya dengan merongrong keingintahuan penonton wacana “siapa bahu-membahu otak dibalik Nerve?” atau “siapa sejatinya Ian?” hingga “bagaimana Vee terbebas dari permainan neraka ini?”. Faktor lainnya, Nerve melontarkan kritik sosial sempurna guna mengenai para pengguna internet sampaumur ini. Terlahirnya serangkaian aplikasi gres hampir setiap hari, mengakomodir para netizen memenuhi hawa nafsunya. Nerve memperlihatkan sorotan pada mencuatnya sisi gelap insan berkat keleluasaan ‘bermain peran’ dan fasilitas mengakses dunia maya. Dari pihak pemain, si pembuat film menelisik bagaimana nikmatnya merengkuh popularitas – tidak peduli walau hanya sekejap mata – memafhumkan insan melakoni tindakan-tindakan diluar ambang batas bisa ditolerir demi mendapat perhatian khalayak. 

Sedangkan pihak penonton yaitu visualisasi istilah keyboard warrior yang merujuk kepada pengguna internet yang gemar memantik kericuhan (contoh, cyber bullying, tweetwar, dan semacamnya) namun seringkali terlalu pengecut hingga dirasa perlu berlindung dibalik akun anonim. Melalui Nerve, kita bisa melihat sejauh mana para insan yang menyembunyikan identitasnya di dunia maya sanggup bertindak ketika tidak ada kontrol. Adegan pengungkapan di titik puncak film yang dirancang agak sedikit berlebihan – pula kurang memberi balasan memuaskan untuk satu dua pertanyaan – nyatanya cukup efektif memberi kita tamparan jago sekaligus renungan seusai menonton Nerve, “jika satu dua kata di internet bisa menciptakan perubahan, mengapa kita tidak memanfaatkannya untuk hal-hal positif dan justru bersuka ria ketika ada orang lain menderita?.” Sungguh sebuah tontonan menegangkan yang menggugah pikiran.

Exceeds Expectations (3,5/5)