October 20, 2020

Review : Ngenest


“Satu hari yang kau sia-siain hari ini ialah satu hari yang kau pinjem dari masa depan.” 

Tanpa bermaksud mendeskreditkan kapabilitas Ernest Prakasa, namun sulit dielakkan ada semacam keraguan besar menggelayuti hati begitu mengetahui Ernest memperoleh kepercayaan untuk bertanggung jawab terhadap kelangsungan tiga divisi: akting, naskah, dan sutradara, di film debutnya menduduki kursi penyutradaraan sementara jejak rekamnya sendiri belum sanggup dikatakan istimewa. Ernest lebih sering menempati posisi penggembira di rentetan film yang dibintanginya dan gaya bercandanya kurang nyantol di selera saya sehingga skeptis pun menjadi mitra dekat yang menemani saya melangkahkan kaki ke gedung bioskop. Dengan pengharapan diatur di level seadanya, maka siapa yang kemudian menyangka kalau jebolan Stand Up Comedy Indonesia ini malah berhasil menginjeksikan kesenangan tiada simpulan dalam karya pertamanya di medium visual? Ngenest, sebuah film dengan dasar dongeng berasal dari buku tiga seri bertajuk Ngenest: Ketawain Hidup a la Ernest karya sang komika, menyumbangkan kejutan paling membahagiakan bagi sinema Indonesia di penghujung tahun 2015 lewat gelaran penuh canda tawa tanpa henti yang juga manis dan hangat. 

Terlahir di keluarga keturunan Cina, Ernest (Kevin Anggara/Ernest Prakasa) telah terbiasa mengalami perundungan sejak menduduki dingklik sekolah dasar. Diejek, dipalak, bahkan dikucilkan menjadi santapannya setiap hari dalam pergaulan sosial. Satu-satunya mitra Ernest ialah Patrick (Brandon Salim/Morgan Oey) yang juga beretnis Tionghoa. Tidak ingin terus menerus menempati posisi korban, Ernest memutuskan untuk lebih berbaur dengan kawan-kawan pribuminya walau memperoleh saingan keras dari Patrick. Dan memang, Ernest pun tidak pernah benar-benar diterima sebab keberadaannya hanya untuk dimanfaatkan. Pengalaman serba tak mengenakkan ini lantas membawa Ernest pada satu kesimpulan bahwa cara terbaik semoga tidak lagi dianggap ‘berbeda’ ialah menikahi wanita pribumi. Kesempatan bagi Ernest untuk mewujudkan mimpinya tersebut gres benar-benar menghampiri kala ia berjumpa dengan mojang Sunda berjulukan Meira (Lala Karmela) di sebuah daerah kursus. Mengira segala pergumulan hidupnya telah tuntas begitu meminang Meira, kenyataannya Ernest malah justru dihantui ketakutan lain yang membuatnya terus menerus menunda dalam mempunyai momongan hingga memicu konflik dengan orang-orang terdekatnya. 

Memutuskan menonton Ngenest di bioskop, berarti kudu siap mendapatkan konsekuensinya: tertawa tiada habis-habisnya hingga perut serasa kaku sepanjang durasi. Ya, curhatan Ernest Prakasa soal kengenesannya semasa belia karena mempunyai ‘mata minimalis’ dan merupakan potongan dari kaum minoritas (baca: Cina) di Indonesia ini merupakan obat mujarab pelepas penat. Sebisa mungkin menghindari lawakan slapstick dengan lebih banyak menonjolkan banyolan-banyolan dipicu oleh obrolan menggelitik nan cerdas plus ketepatan waktu dalam melontarkannya (ya, kuncinya ada pada timing!) – kekocakan paling jawara sanggup ditemukan memakai kata kunci “pakaian”, “bajaj”, dan “dokter” – Ngenest terasa luar biasa menggigit terlebih Ernest pun tidak terkungkung pada topik itu-itu saja sehingga otomatis bahan ngebanyolnya menjadi luas, bervariatif, serta tidak gampang tertebak dibanding film lucu-lucuan para komika pada umumnya. Keleluasaan si pembuat film dalam melancarkan humor yang tidak sedikit diantaranya berani (tetapi tetap elegan) untuk mengomentari fenomena sosial di sekitar kita dan mengkritisi juga etnisnya sendiri ini pula yang menghindarkan Ngenest sejauh mungkin dari penyakit mematikan suatu film: membosankan. 

Mempunyai laju penceritaan yang mengalir lancar, cepat, dan dinamis, Ngenest memang tidak mempunyai kesempatan memunculkan rasa jenuh pada penonton. Kita terlalu sibuk dibentuk tertawa, kemudian gemas, untuk kemudian tersentuh. Ernest Prakasa tidak saja mengakomodir film dengan senda gurau yang nyaris kesemuanya sempurna target melainkan juga menyuplai Ngenest memakai cukup banyak ‘hati’ yang memungkinkan kita turut mencicipi kehangatan pada interaksi Ernest-Meira atau Ernest-Patrick, sekaligus momen-momen manis menghanyutkan di korelasi dua sejoli Ernest-Meira (adegan “jangan pernah kau tinggalin saya ibarat itu lagi” ialah favorit saya!). Sisi emosi ini semakin mencengkram berkat akting besar lengan berkuasa dari para pelakonnya ibarat Morgan Oey yang menerangkan bahwa karir keaktorannya semakin perlu diperhitungkan, Lala Karmela meniupkan ruh pada abjad Meira yang menghasilkan chemistry pahlawan antara ia dengan Ernest, hingga Ernest Prakasa sendiri yang tampil sangat nyaman. Dan oh, jangan lupakan pula cameo dari rekan-rekan sesama komika yang kemunculannya didayagunakan secara maksimal oleh Ernest menyesuaikan gaya ngelawak masing-masing; Ge Pamungkas, Muhadkly Acho, Lolox Ahmad, Arie Kriting, Awwe, Adjis Doaibu plus Fico Fachriza, yang efektif meninggikan level kelucuan Ngenest tanpa pernah mendistraksi plot utama. Sangat, sangat menghibur.

Note : Jangan terburu-buru meninggalkan gedung bioskop dikala film telah berakhir sebab closing credit-nya sangat layak buat disimak.

Outstanding (4/5)