October 20, 2020

Review : Nirwana Yang Tak Dirindukan


“Surga yang Mas Amran gambarkan begitu indah. Tapi maaf, bukan nirwana itu yang saya rindukan.” 

Apakah kau termasuk penonton yang membutuhkan sapu tangan untuk menyeka cucuran air mata ketika menyaksikan Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, atau paling baru, Assalamualaikum Beijing, di layar bioskop? Lebih mendalam lagi, apakah kau termasuk penonton yang menggandrungi tontonan melodrama cukup umur dengan tuturan kisah seputar lika-liku kehidupan pernikahan? Jika kau memperlihatkan tanggapan ya, bahkan mengharap adanya tontonan serupa, maka film terbaru produksi MD Pictures yang diangkat dari novel rekaan Asma Nadia, Surga Yang Tak Dirindukan, ini kemungkinan besar tidak akan mengalami kesulitan untuk merebut hatimu. Tapi kalau tidak, well… mungkin membutuhkan usaha lebih untuk menyukainya. Problematika yang dikedepankan pun tidak jauh-jauh dari mengarungi perahu rumah tangga yang sekali ini dihadang ombak besar berwujud poligami dengan premis yang sekaligus menjadi pertanyaan kunci untuk dihadapkan pada penonton, “apakah mungkin bersikap adil, sabar, serta nrimo dalam sebuah rumah tangga yang di dalamnya terdapat lebih dari satu istri? Bisakah ijab kabul serasi dicapai ketika sang suami berpoligami?.” 

Bagi Arini (Laudya Cynthia Bella), kehidupan pernikahannya kolam kisah yang menjadi kenyataan. Memiliki Pras (Fedi Nuril) yang penuh cinta kasih, dikaruniai momongan menggemaskan, dan secara finansial pun serba tercukupi. Apa lagi yang kurang? Dengan mengabdikan diri sebagai seorang istri serta ibu yang baik, impian yang digenggam oleh Arini hanya satu, rumah tangganya bersama Pras akan menjadi nirwana yang dirindukan oleh banyak orang. Tapi ya, tentu saja semuanya tidak berlangsung dengan mulus terlebih ketika seorang wanita berjulukan Mei Rose (Raline Shah) mendadak hadir di tengah-tengah Arini dan Pras. Mencoba untuk bunuh diri sebab serangkaian ketidakberuntungan yang menimpa hidupnya, Mei Rose diselamatkan oleh Pras yang berjanji akan memberinya kebahagiaan dengan menikahi dan membesarkan putranya. Keduanya lantas membina rumah tangga secara belakang layar tanpa diketahui Arini. Mencium adanya perubahan-perubahan tidak masuk akal dalam diri sang suami, Arini mulai menaruh curiga dan mencoba menelusuri kebenaran. Alangkah hancurnya Arini tatkala mendapati Pras yang selama ini diagungkannya sebagai suami setia ternyata mengkhianati janjinya. 

Sejatinya, Surga Yang Tak Dirindukan tak lebih dari sekadar film drama reliji formulaik yang tersusun dari guliran pengisahan rancangan Alim Sudio yang gampang diterka muaranya (well, ada pasangan bahagia, kemudian sederet cobaan tak berkesudahan mendera keduanya, dan entah bagaimanapun caranya kebahagiaan kembali menyambangi di ujung kisah) dan iringan skoring musik cenderung berlebihan gubahan Tya Subiakto guna memancing penonton mengeluarkan air matanya. Jika kau khatam sederet tontonan tearjerker produksi MD Pictures, Surga Yang Tak Dirindukan sanggup dikatakan mempunyai contoh serupa. Ya, kesejukan memang sesuatu yang tidak sanggup kau dapatkan dengan gampang disini mengingat trik dipergunakan si pembuat film, Kuntz Agus (Republik Twitter), hanyalah pengulangan yang sudah-sudah tanpa ada penemuan berarti menciptakan film menjauhi kesan istimewa. Errr… apakah keklisean ini menciptakan Surga Yang Tak Dirindukan menjadi gelaran jelek nan membosankan? Tidak juga. Untungnya, berkat amunisi yang dipersiapkan oleh Ipung Rachmat Syaiful lewat bingkaian gambar bagus dan lakon besar lengan berkuasa jajaran pemain, Surga Yang Tak Dirindukan berhasil sedikit mengangkasa. Paling tidak, masih mencicipi adanya emosi di dalamnya. 
Kelihaian para bintangnya dalam memainkan tugas ini sedikit banyak berkontribusi terhadap tumbuhnya emosi pada film. Sekalipun Fedi Nuril dan Raline Shah seringkali hit-and-miss ketika menginterpretasikan tugas mereka, Laudya Cynthia Bella benar-benar memperlihatkan taringnya disini. Kebahagiaannya, kegelisahannya, kekecewaannya, keterpurukannya, ketegarannya dan keikhlasannya dipaparkan melalui permainan air muka yang sungguh layak diacungi dua jempol. Kecemerlangannya dalam berolah tugas ini menempatkan sosok Arini sebagai sosok yang gampang dicintai oleh penonton terlebih Arini juga tidak digambarkan sepenuhnya berhati malaikat. Apiknya performa Laudya Cynthia Bella ini memperoleh sokongan pula dari Tanta Ginting dan Kemal Palevi yang memperlihatkan chemistry meyakinkan sebagai sobat yang kerap berselisih paham. Keduanya mencairkan suasana dengan memberi tawa canda dalam dosis mencukupi ditengah-tengah hentakan konflik tanpa pernah sekalipun mendistraksi. Kebolehan dalam berakting para pemain inilah yang kemudian menciptakan emosi dalam Surga Yang Tak Dirindukan berasa bergejolak. Walau mungkin akan mengalami sedikit kendala untuk menjangkau mereka yang tidak menggemari tontonan reliji, Surga Yang Tak Dirindukan setidaknya akan sanggup membahagiakan para pecinta film melodrama mengingat emosi telah dikocok sedemikian rupa sejak menit-menit awal.

Acceptable