October 23, 2020

Review : Okja


“The Mexicans love the feet. I know. Go figure. We all love the face and the anus, as American as apple pie. Hot dogs. It’s all edible. All edible, except the squeal.” 

Ada kabar bangga bagi para pecinta sinema dunia. Salah sutradara terkemuka di Korea Selatan, Bong Joon-ho (The Host, Mother), telah keluar dari pertapaannya dan mempersembahkan sebuah tontonan yang sekali lagi akan mengusik emosi beserta pikiranmu di dikala bersamaan bertajuk Okja. Menjadi film berskala internasional Bong Joon-ho yang kedua seusai Snowpiercer (2013) yang merupakan sebentuk sentilan terhadap stratifikasi sosial dalam kehidupan masyarakat modern, Okja yang memperoleh suntikan pendanaan sebesar $50 juta dan diproduksi oleh Netflix sehingga memungkinkannya untuk dikonsumsi khalayak ramai dari aneka macam penjuru dunia secara bersamaan melalui gawai personal masing-masing ini menghadirkan barisan pemain berjulukan besar mirip Tilda Swinton, Jake Gyllenhaal, Paul Dano, Shirley Henderson, Giancarlo Esposito, dan Lily Collins. Mereka beradu tugas bersama Ahn Seo-hyun, Byun Hee-bong, Yoon Je-moon, beserta Choi Woo-shik yang mewakili kubu Korea Selatan dan telah dikenal baik di negaranya. Seperti halnya film-film terdahulu dari sang sutradara, Okja pun masih bermain-main di ranah satir dibalik kemasannya sebagai tontonan blockbuster bergenre action-adventure dengan sentilan utamanya kali ini menyinggung perihal kapitalisme, konsumerisme, hingga politik pencitraan. 

Protagonis utama dalam Okja ialah seorang gadis yatim piatu berusia 14 tahun berjulukan Mija (Ahn Seo-hyun) yang tinggal bersama sang kakek (Byun Hee-bong) dan binatang peliharaan raksasanya yang mirip percampuran babi-anjing-kuda nil,  Okja, di suatu pedesaan Korea Selatan yang tenang nan terpencil. Kehidupan keluarga kecil yang tenang sentosa ini lantas terusik tatkala Mija mendapati bahwa Okja ialah properti milik Mirando Corporation – sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pangan – dan perusahaan tersebut meminta Okja dikembalikan sesudah 10 tahun ‘dipinjamkan’ untuk diberi perawatan alami. Sang binatang yang merupakan hasil dari mutasi genetik ialah cuilan dari rencana besar Lucy Mirando (Tilda Swinton), CEO Mirando Corporation, untuk memulihkan nama baik perusahaan yang selama ini tercoreng. Tidak terima sahabatnya yang penuh perhatian direnggut paksa darinya, Mija pun nekat menempuh perjalanan seorang diri menuju Seoul guna merebut kembali Okja. Dalam perjalanannya, Mija menerima pertolongan dari Front Pembebasan Hewan yang dipimpin oleh Jay (Paul Dano) yang berniat membongkar kebusukan-kebusukan Mirando Corporation sekaligus kendala dari pihak-pihak yang mempunyai kepentingan dalam badan perusahaan sehingga upaya untuk menyelamatkan Okja tidak begitu saja berlangsung mudah.

Jangan terkecoh pada sinopsis Okja yang memperlihatkan kesan berpengaruh bahwa film ini sanggup ditonton beramai-ramai bersama seluruh anggota keluarga mirip (katakanlah) E.T. garapan Steven Spielberg. Jangan terkecoh pula pada belasan menit pertama Okja yang memperlihatkan kesan menipu lainnya seakan-akan penonton tengah menonton salah satu versi live action untuk film animasi produksi Studio Ghibli. Okja, kenyataannya, bukanlah sebuah tontonan yang ramah bagi penonton cilik sekalipun huruf utamanya ialah seorang gadis berusia belasan tahun dan seekor binatang mutan yang sungguh menggemaskan. Pidato sambutan dari Lucy Mirando di awal mula yang berfungsi menjabarkan wacana latar belakang film – menjabarkan mengenai bagaimana babi mutan ditemukan, rencana untuk mengembangbiakkannya, dan keuntungannya bagi peradaban insan – telah sedikit banyak menyiratkan bahwa gelaran kisah yang hendak disampaikan oleh Bong Joon-ho masihlah kompleks. Dalam artian, well, ini bukanlah film belum dewasa yang penuh dengan keajaiban dan kegembiraan selaiknya tampak luar. Seperti telah disinggung sekelumit sebelumnya, Okja melemparkan topik dialog seputar pengaplikasian sistem kapitalisme yang kejam, budaya konsumerisme yang merusak, beserta pemelintiran fakta dengan mendayagunakan media demi membuat gambaran sepatutnya bagi korporasi. Disamping itu, ada pula penggunaan bahasa agresif dan muatan kekerasan cukup eksplisit di dalamnya. 

Hmmm… terdengar mirip tontonan yang bermuram durja ya? Tidak juga. Mengira Okja akan dilantunkan dengan nada penceritaan yang depresif dan pesimistis, Bong Joon-ho justru menghadirkan sebaliknya meski paruh alhasil menuju kesana. Ada kehangatan, lawakan, dan keseruan yang tertuang menjadi satu di dalamnya. Saat film mengambil latar penceritaan di kampung halaman Mija, penonton mendapati korelasi antar makhluk hidup berikut hamparan pemandangan yang menyejukkan mata. Mija dan Okja berjalan-jalan menyusuri hutan bersama, berburu lauk untuk makan malam bersama, kemudian tidur siang bersama. Intensitas paling tinggi di belasan menit awal yang sanggup kita peroleh yakni tatkala Mija terperosok ke tebing dan sang sahabat berupaya untuk menyelamatkannya. Melalui adegan ini, penonton menyadari bahwa korelasi diantara mereka lebih dari sekadar korelasi antara majikan dengan binatang peliharaannya. Mereka ialah keluarga yang saling peduli satu sama lain. Maka begitu keluarga kecil ini didatangi juru bicara Mirando Corporation, Johnny Wilcox (Jake Gyllenhaal), beserta rombongan yang sejurus kemudian membongkar fakta mengenai nasib yang menanti Okja, muncul ketidakrelaan untuk melihatnya pergi dan kita pun memberi dukungan penuh kepada sang protagonis utama dalam menjalankan misi penyelamatan. Membawa Mija ke Seoul, ritme pengisahan yang semula mengalun cenderung tenang seketika berdentum andal dimulai dari menerobos masuk kantor Mirando cabang Korea Selatan, disusul kejar-kejaran seru yang membuat kekacauan besar di suatu pertokoan, dan diakhiri ‘serangan tai’. 

Okja sendiri terdiri dari tiga fase yang masing-masing merepresentasikan nada pengisahan berbeda satu sama lain; pedesaan mewakili ketenangan, perkotaan di Seoul mewakili kekacauan/kesenangan, dan perkotaan di New York mewakili kemuraman. Ya, Okja kembali mengganti ‘warna kulitnya’ ketika penonton mendapati nasib yang menanti si babi mutan raksasa. Paruh selesai film ditampilkan oleh si pembuat film dalam nuansa kelam pula menyesakkan dada yang akan mengusik emosimu sedemikian rupa. Mengusik kebiasaanmu dalam mengonsumsi daging. Kecakapan Bong Joon-ho dalam membolak-balik emosi ini tentu akan berakhir tanpa arti apabila tidak memperoleh dukungan dari pemain ansambelnya yang memperlihatkan performa nyaris tanpa cela. Ahn Seo-hyun mengomando dalam setiap kemunculannya dengan mempertontonkan akting konsisten sebagai bocah pemberani yang bertekad untuk membawa pulang anggota keluarganya, kemudian Tilda Swinton membawakan tugas ala Cruella de Vil dari 101 Dalmatians yang mengombinasikan antara kebengisan mengintimidasi dengan kerapuhan sehingga sosoknya tetap terlihat manusiawi, kemudian Paul Dano yang kalem namun menyimpan ambiguitas dalam karakternya, dan Jake Gyllenhaal yang memberi penampilan berbeda melalui huruf eksentriknya. 

Disamping mereka, masih ada pula Shirley Henderson, Giancarlo Esposito, Steven Yeun, beserta Byun Hee-bong yang turut berkontribusi dalam memperkokoh Okja yang sejatinya telah bangun dengan kokoh sebagai suatu tontonan satir yang terbungkus lucu, seru, sekaligus menyesakkan dada. Bagus!

Note: Ada sebuah post credits-scene yang terletak di penghujung durasi.

Outstanding (4/5)