October 18, 2020
Film / REVIEW / US

Review : Olympus Has Fallen

Bagaimana jadinya kalau daerah teraman di negeri adikuasa – atau bahkan dunia – yakni Gedung Putih berhasil dilumpuhkan secara total oleh sekelompok teroris sehingga berarti tidak lagi tersisa daerah yang benar-benar kondusif dan tidak terjamah di muka bumi ini? Kekacauan dalam tingkatan yang masif pun hampir sanggup dipastikan dengan segera melanda banyak sekali belahan dunia tatkala rumah kepresidenan di Amerika Serikat berhasil diduduki dengan gampang oleh para teroris yang bengis. Perang dunia akan kembali pecah. Yang menjadi pertanyaan, apakah hal ini akan benar-benar terjadi? Tiada yang mustahil di dunia ini – walau tentunya saya tidak berharap demikian – meski untuk sekali ini, hal tersebut hanyalah bab dari premis setidaknya dua film Hollywood yang beredar di tahun 2013, Olympus Has Fallen dan White House Down. Judul pertama yang diproduksi oleh Millennium Films lebih dahulu mencuri start pada simpulan Maret ini di bawah komando Antoine Fuqua. Sayangnya, belum apa-apa rasa skeptis telah membuncah dengan memeriksa formasi pemain, sutradara, serta studio yang tergolong bukanlah nama besar di Hollywood. Akankah Olympus Has Fallen sanggup bangun dengan kokoh atau malah justru runtuh kala disajikan ke khalayak ramai? Mari kita simak. 

Olympus sendiri merupakan isyarat fiksi yang dipakai oleh Dinas Rahasia Amerika Serikat yang merujuk kepada Gedung Putih. Kejatuhan dari Gedung Putih sendiri bermula dari sebuah kunjungan yang dilakukan oleh Perdana Menteri Korea Selatan pada 5 Juli 2012. Tiada yang menyangka kalau pertemuan antara petinggi dari Negeri Gingseng dengan Presiden Benjamin Asher (Aaron Eckhart) tersebut akan berujung kepada malapetaka. Dengan persiapan yang matang serta dilengkapi persenjataan maha canggih, para teroris dari Korea Utara berhasil menyusup ke daerah teraman di dunia tersebut dan melumpuhkannya. Presiden serta beberapa staf penting digiring ke bunker dan menjadi sandera Kang Yeonsak (Rick Yune), salah satu teroris paling dicari di muka bumi. Sementara terjadi kekosongan di tampuk pemerintahan, Allan Trumbull (Morgan Freeman) yang merupakan Juru Bicara Kepresidenan mengambil alih untuk sementara. Kekuatan dari para teroris dibuktikan dengan betapa sulitnya menembus pertahanan mereka serta banyaknya biro yang bertumbangan satu demi satu. Berpacu dengan waktu, satu-satunya keinginan Amerika Serikat – dan dunia, tentu saja – tersisa kepada Mike Banning (Gerard Butler), salah satu jasus terbaik sekaligus kepercayaan Presiden Asher yang sempat vakum dari lapangan untuk beberapa dikala karena sebuah insiden traumatis menjelang perayaan Natal yang berkaitan dengan keluarga sang presiden. 
Baiklah, Olympus Has Fallen memang bukanlah sebuah film yang dipersenjatai dengan naskah yang menakjubkan maupun serangkaian obrolan yang brilian. Anda tentu sudah mengetahuinya. Segalanya dalam film ini, sangat gampang untuk ditebak dan tentunya… klise. Memang ada satu dua ‘twist’ yang disisipkan oleh duo penulis skrip Creighton Rothenberger dan Katrin Benedikt yang sanggup menciptakan beberapa penonton berkata ‘Oh, saya tidak menyangka ternyata dia…’ atau ‘Ya Tuhan, ternyata menyerupai itu…’ meski sebagian besar tentu telah menduga hal tersebut akan tiba terlebih kalau telah hafal di luar kepala dengan formula yang memang kerap dipakai oleh film sejenis. Pun demikian, segala sesuatu yang berbau klise, gampang ditebak, dan tidak lebih dari sekadar bongkar pasang ini tetap sanggup dikemas menjadi sesuatu yang menyenangkan serta menarik untuk disimak berkat penanganan yang cermat dari Antoine Fuqua yang sebelumnya kita kenal melalui Training Day, Shooter, dan The Replacement Killers serta editing andal hasil kerja keras dari John Feroua. Sejumlah momen yang sanggup menciptakan penonton menahan nafas selama beberapa detik pun berhasil dihadirkan. 
Untuk sekali ini, Fuqua menyingkirkan sejenak idealismenya dan benar-benar menyuguhkan sebuah tontonan eskapisme murni bagi penonton. Berbagai adegan tak sanggup diterima nalar sehat lengkap dengan serba kebetulannya yang kerap menghiasi film heroisme Hollywood pun turut dimunculkannya atas nama hiburan. Fuqua benar-benar menjaga tensi film semoga tetap stabil serta cenderung merangkak naik tanpa sekalipun mengendur hanya untuk memberi ruang bagi dramatisasi maupun klarifikasi panjang lebar motif para teroris yang melelahkan. Tidak, sama sekali tidak. Dengan ‘pace’ yang melaju kencang tak terhentikan disertai ledakan disana-sini, plus muncratan darah sebagai bonus, adrenalin Anda akan terus dipacu sampai film menyudahi segalanya di menit ke-120. Segala bentuk ketegangan dan keseruan yang hadir di sini tentu tidak bisa dilepaskan dari kinerja departemen dampak khusus yang luar biasa. Anda tentu tidak berpikir bahwa Gedung Putih betul-betul dihancurkan hanya demi kebutuhan film, bukan? Ini hanyalah sebuah set khusus yang kemudian diluluhlantakkan dengan pertolongan CGI. Sesekali memang terlihat berangasan dan palsu (setidaknya di awal film), namun seringkali terlihat meyakinkan dan menciptakan penonton percaya bahwa Gedung Putih hancur. Mengesankan. 
Meski ini tidak lebih dari sebuah film untuk bersenang-senang, pada kenyataannya jajaran pemain bermain dengan serius yang secara otomatis turut mengangkat Olympus Has Fallen ke tingkatan yang lebih terhormat. Gerard Butler dengan fisiknya yang tegap atletis sanggup merasuk ke jiwa Banning dan tampil beringas tanpa kenal ampun kala berhadapan dengan Kang Yeonsak dan kroni-kroninya. Morgan Freeman, yah… menyerupai biasa ya, tidak mengecewakan, mengingat ini ialah zona nyamannya maka tiada sesuatu yang benar-benar mengejutkan. Justru yang menarik perhatian saya, di samping Butler dan Aaron Eckhart yang mengatakan penampilan terbaik mereka sehabis beberapa tahun terakhir cenderung meredup serta Rick Yune yang sangat menjengkelkan, ialah Angela Bassett yang memerankan Kepala Dinas Rahasia yang tangguh serta Melissa Leo sebagai Sekretaris Negara Ruth McMillan yang berjuang habis-habisan melindungi negaranya meski didera siksaan yang tiada berkesudahan dari para teroris. Dua aktris senior ini masih sanggup tampil maksimal sekalipun dalam porsi tampil yang minimal. 
Pada akhirnya, sekalipun Olympus Has Fallen tidak mengatakan sesuatu yang benar-benar segar serta inovatif dalam genre agresi yang bersinggungan dengan dunia politik (atau sebut saja political thriller) namun Fuqua berhasil menyajikan sebuah tontonan yang bisa mengikat penontonnya untuk tetap duduk anggun di dingklik bioskop semenjak menit pertama sampai lampu bioskop dinyalakan. Menyaksikan Olympus Has Fallen bagaikan mendapatkan sebuah bingkisan yang dikemas seolah ala kadarnya namun menciptakan hati terpuaskan dan riang besar hati sehabis membukanya. Sebuah kejutan anggun yang tidak disangka-sangka. Saya benar-benar terhibur dan berhasil dibentuk tegang kala menyaksikan Olympus Has Fallen.

Acceptable