July 14, 2020

Review : One Cut Of The Dead


“Pom!” 


Seusai menonton One Cut of the Dead, sulit untuk tak menyebutnya sebagai film yang mengagumkan. Saya sama sekali tak mengira bahwa sajian zombie yang belakangan ini sudah mulai memudar pesonanya masih memungkinkan untuk dieksplorasi dengan pendekatan yang tak terbayangkan sebelumnya. “Ini gila sih,” adalah respon yang pertama kali meluncur dari lisan begitu lampu bioskop dinyalakan yang disambut tepuk tangan malu-malu dari beberapa penonton. Ya, ada banyak kegilaan yang sanggup kau dapatkan di film ini dan catatan terbesar yang perlu saya sampaikan kepada kalian: ini tidak berafiliasi dengan muncratan darah, potongan-potongan tubuh, maupun gaya membunuh si zombie yang kreatif. Sesuatu yang kerap diperkirakan oleh banyak orang, termasuk beberapa mitra baik yang sudah terlampau malas untuk menonton film teror jenazah hidup. Perlu ditekankan, One Cut of the Dead bukanlah tontonan zombie konvensional dan apa yang kau saksikan di bahan promosi hanyalah mengungkap segelintir apa yang telah dipersiapkan oleh sang sutradara, Shinichiro Ueda. Benar-benar mengecoh atau dalam hal ini berfungsi untuk ‘melindungi’ film sehingga penonton sanggup memperoleh kenikmatan yang mengejutkan ketika memutuskan memberi kesempatan pada film berdurasi 97 menit ini – meski ada konsekuensi akan mengalienasi calon penonton dan mengecewakan penonton dengan ekspektasi memperoleh tontonan selaiknya trailer. 
Saya pribadi memperlihatkan minat pada One Cut of the Dead bukan disebabkan oleh trailer film bersangkutan, melainkan oleh fenomena tersendiri yang diciptakannya di Jepang. Dikreasi dengan bujet sangat minim (konon, sekitar $27 ribu atau setara dengan biaya produksi rata-rata film indie di Indonesia) dan ditayangkan hanya di satu teater cilik pada penghujung tahun 2017, One Cut of the Dead gres memperoleh kesempatan untuk unjuk gigi selepas direspon positif di Udine International Film Festival. Secara bertahap, film dilepas ke bioskop-bioskop Jepang memakai promo “diskon bagi penonton dengan dandanan ala zombie” yang ternyata ditanggapi riuh oleh khalayak ramai. Walau jumlah layar bioskop yang menayangkannya tak melimpah ruah, One Cut of the Dead secara konsisten bertahan di carta mingguan sepuluh besar film terlaris selama beberapa bulan yang seketika memberinya status: sleeper hit. Menilik prestasi komersilnya tersebut – yang juga kerap diwartakan oleh media arus utama kenamaan – maka tentu saja diri ini tergelitik untuk mengetahui: apa sih yang menjadikan word of mouth dari One Cut of the Dead di kalangan penonton umum sanggup berjalan dengan sedemikian baik? Lebih-lebih, apabila ditengok sepintas lalu, tampak tak ada yang istimewa dari film ini kecuali adegan pembukanya yang berlangsung selama 37 menit dan nekat melaksanakan pengambilan gambar dalam satu kali take saja. 


Adegan pembuka yang sudah lebih dari memadai untuk dijadikan sebagai satu film pendek ini yakni satu-satunya yang sanggup saya ceritakan dengan bebas di sinopsis ini. Melalui adegan pembuka tersebut, kita dipertemukan dengan sejumlah kru film yang tengah melaksanakan syuting film zombie di sebuah gudang terbengkalai. Sayangnya syuting tidak berjalan dengan mulus karena si aktris utama, Aika (Yuzuki Akiyama), gagal menampilkan ekspresi ketakutan yang meyakinkan menyerupai diperlukan oleh sang sutradara, Takayuki (Takayuki Hamatsu). Alhasil, Takayuki yang acapkali marah-marah pun menitahkan pemain dan kru untuk melaksanakan pengambilan gambar ulang hingga 42 kali demi memperoleh ekspresi ketakutan yang diharapkan. Luar biasa sekali, ya? Disela-sela rehat sebelum pengambilan gambar berikutnya dilangsungkan, Aika bercakap-cakap dengan lawan mainnya, Kazuaki (Kazuaki Nagaya), beserta penata rias, Harumi (Harumi Shuhama), mengenai aneka macam hal. Dari keluh kelah terhadap sifat perfeksionis Takayuki, berlanjut ke mitos menakutkan dibalik gudang yang dijadikan kawasan syuting, hingga hal remeh temeh mengenai hobi. Percakapan santai yang cenderung ngalor ngidul sesuka hati ini – terutama sehabis beberapa ketika – mendadak buyar usai gudang tersebut kedatangan tamu tak diundang: jenazah hidup betulan. Para kru dan pemain film zombie ini pun seketika panik karena mesti bertahan hidup dari serangan zombie asli, sementara Takayuki justru menganggapnya sebagai kesempatan emas untuk mendapat ekspresi ketakutan Aika yang natural. 

Apabila kau hanya mengandalkan sinopsis singkat ini (plus trailer yang memberi citra mengenai adegan pembuka), One Cut of the Dead memang tak tampak menjanjikan. Bahkan, kau juga akan bergulat dengan perasaan yang senada ketika melihat pengejawantahannya ke dalam bahasa gambar yang luar biasa absurd. Mengingatkan pada film zombie kelas B yang mempunyai kualitas penggarapan serta narasi yang ala kadarnya. Satu-satunya yang sanggup diapresiasi dari adegan pembuka yakni perjuangan si pembuat film untuk merealisasikannya dalam satu kali take. Suatu perjuangan yang terang tidak simpel dan memerlukan keterampilan dalam mengeksekusinya demi meminimalisir kesalahan. Tapi tentu saja, sebagian penonton akan abai dengan fakta ini sehingga reaksi-reaksi menyerupai “apaan sih?” atau “nggak terang banget deh!” mungkin akan sering kau dengar di 37 menit pertama. Jika kau tidak cukup sabar – dan benar-benar merasa terganggu dengan sajian kolam digarap amatir di layar – maka sanggup jadi dirimu akan mengikuti jejak sejumlah penonton yang memutuskan hengkang pada menit belasan. Pada menit dimana pertunjukkan sebenarnya belum dimulai. Pada menit dimana si pembuat film gres mengajak penonton untuk melaksanakan pemanasan. Tapi jikalau kau termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bersabar, maka bersiaplah untuk dibentuk berdecak kagum dan tertawa tergelak-gelak nyaris tanpa henti selama menikmati hidangan utama. 


Saya tidak sanggup menjabarkan secara rinci mengenai apa yang terjadi di satu jam berikutnya karena tidak ingin mengurangi daya kejutnya. Yang jelas, kau akan mendapati bahwa One Cut of the Dead bukanlah film zombie berbumbu komedi yang biasa-biasa saja. Ini yakni surat cinta untuk filmmaking dari seorang filmmaker. Mereka yang pernah mencicipi ribetnya menjalani syuting film – khususnya dalam skala indie dengan bujet mepet – akan dengan simpel terhubung ke guliran pengisahan kemudian dibentuk terkekeh-kekeh olehnya. Dan mereka yang belum pernah terlibat dalam penggarapan film tidak perlu risau akan terasingkan karena apa yang dipaparkan oleh Shinichiro Ueda bukan juga bersifat eksklusif. Kamu tidak harus mengetahui seluk beluk proses penggarapan suatu film untuk sanggup memahaminya. Malah, One Cut of the Dead akan membantumu untuk melongok proses kreatif dibalik tercetusnya suatu film yang akan membuatmu lebih menawarkan apresiasi pada film yang kau tonton, walaupun jeleknya amit-amit jabang bayi. Ada banyak sekali faktor yang menawarkan imbas terhadap keberhasilan atau kegagalan suatu film dan One Cut of the Dead membahasnya secara cerdas dengan gaya komikal yang menyegarkan. Sulit untuk tak terkagum-kagum menyaksikan pengaturan setiap adegan yang presisi, kemudian sulit pula untuk tak tertawa terbahak-bahak selama menyimak penuturan dari si pembuat film lebih-lebih jikalau kau menontonnya dengan crowd yang tepat. Bakal terasa pom, eh maksud saya, pecah maksimal. Go watch it!
Outstanding (4,5/5)