October 22, 2020

Review : One Day


Masih ingat dengan film komedi romantis asal Thailand yang bikin geli-geli gregetan, Hello Stranger? Apabila masih mengingatnya terperinci – bahkan dirimu yaitu salah satu yang dibentuk jatuh hati olehnya – maka One Day yang juga menjamah ranah komedi romantis tentunya harus menduduki peringkat teratas dalam daftar “film yang wajib ditonton secepat mungkin, begitu ada waktu senggang”. Alasannya sederhana; One Day menandai kerja sama reuni antara sutradara Banjong Pisanthanakun (Shutter, Pee Mak) bersama pemain film sekaligus peracik skenario Chantavit Dhanasevi yang sebelumnya bertanggungjawab atas lahirnya Hello Stranger. Mereka berhubungan dibawah naungan rumah produksi GDH (Gross Domestic Happiness) yang merupakan jelmaan GMM Tai Hub sesudah pecah kongsi selesai tahun lalu. Guliran penceritaan diajukan di karya terbaru ini pun sejatinya tidak jauh berbeda. Apabila Hello Stranger mempersilahkan dua orang asing untuk saling merajut kasih dalam tempo sepekan di Korea Selatan, maka One Day mempersingkatnya ke batasan maksimal: satu hari saja. Kali ini, Jepang yaitu saksi bisunya. Mencuplik elemen dongeng berbumbu fantasi, sang protagonis laki-laki disini yang berasal dari kalangan nobody diceritakan memperoleh kesempatannya untuk menciptakan wanita idamannya bertekuk lutut hanya dalam waktu sehari. 

Denchai (Chantavit Dhanasevi), nama sang protagonis laki-laki, yaitu petugas IT berusia 30 tahun yang kehadirannya di kawasan kerja tak dianggap kecuali ketika rekan-rekan kerjanya memiliki problem dengan komputer masing-masing. Kehidupan Denchai yang monoton perlahan mulai berubah tatkala pegawai gres dari bab Marketing yang cantik, Nui (Nittha Jirayungyurn), sanggup mengingat secara baik namanya. Well, karena telah terbiasa diperlakukan sebagai outsider yang mana dominan kerap melupakan namanya, tentu hal sesepele “namamu Denchai, kan?” menciptakan Denchai merasa berharga. Di lubuk hati terdalam, Denchai ingin Nui menjadi kekasihnya. Hanya saja, perbedaan kasta di bulat sosial keduanya – belum ditambah kenyataan Nui telah menjalin relasi dengan sang atasan – menyulitkan mereka untuk bersatu. Denchai pun alhasil menentukan sekadar mengagumi Nui dari kejauhan. Namun takdir ternyata berkata lain begitu perusahaan kawasan mereka bekerja mengadakan wisata ke Hokkaido, Jepang. Sebuah kecelakaan menjadikan Nui mengalami amnesia yang hanya berlangsung sehari saja. Menyadari ada kesempatan menghabiskan waktu bersama Nui, Denchai lantas memanfaatkannya dengan berpura-pura menjadi kekasihnya meski ia mengetahui bahwa Nui tidak akan bisa mengingat kebersamaan mereka keesokan harinya. 

Yang sedikit memberi corak lain dibanding film bergenre senada keluaran GMM Tai Hub terdahulu, konten komikalnya agak dibatasi. One Day mencoba menguarkan aroma romansa lebih pekat yang mengambil beberapa elemen dongeng dengan laju cenderung syahdu nan mendayu-dayu. Kamu memang masih menjumpai lawakan-lawakan abstrak khas film buatan Negeri Gajah Putih, tapi gelak tawanya tak akan habis-habisan ibarat menonton May Who? atau Hello Stranger misalnya. Saat Denchai memproklamirkan dirinya sebagai potongan jiwa Nui, kadar kelucuan dari film mulai mundur teratur. Paling-paling, pemantiknya yaitu tingkah serba awkward Denchai yang kentara sekali belum pernah memiliki relasi percintaan bersama lawan jenis. Dengan adanya tenggat waktu yang pendek (kurang dari 24 jam), Banjong Pisanthanakun ingin fokus terhadap bagaimana protagonis utama kita berupaya menciptakan Nui percaya bahwa ia yaitu potongan jiwanya yang sesungguhnya. Itu artinya, sebisa mungkin menghadirkan momen-momen manis plus romantis yang diterjemahkan ke rentetan adegan bertemakan memperlihatkan kebahagiaan bagi Nui dengan membuatnya mencicipi kenyamanan pula kehangatan ditengah-tengah udara Hokkaido yang menusuk tulang. Tanpa harus disesaki dialog-dialog puitis melelahkan, keromantisan dalam One Day semata-mata tercipta dari kemahiran si sinematografer menata gambar, iringan musik sentimentil, serta interaksi kompak pula mesra dari duo pemain utamanya. 

Chantavit Dhanasevi bermain bagus sebagai Denchai yang dipresentasikan selayaknya pecundang. Kekikukkannya kala berinteraksi dengan Nui begitu pula verbal ketusnya dalam menanggapi keluhan mengundang tawa, dan perjuangannya mendapat cinta sang wanita idaman mengundang simpati. Memang sih tindakannya kadangkala mendekati creepy tapi berkat permainan lakon jago Chantavit dan dijustifikasi oleh obrolan “saat kau jatuh cinta kepada seseorang, kau akan melaksanakan hal-hal yang cenderung tidak rasional” yang juga bukan muncul tiba-tiba melainkan berproses terhitung dari momen Nui bisa mengingat nama Denchai, semuanya sanggup dimaklumi malah somehow meninggalkan cita rasa manis-manis pahit. Dan Chantavit mendapat proteksi dari Nittha Jirayungyurn yang pesonanya memiliki daya tarik berpengaruh sehingga kita sangat bisa mengerti mengapa Nui digilai dua laki-laki secara bersamaan. Mereka berdua yaitu tim solid yang cukup dari chemistry saja sudah bisa menggerakkan roda film. Mesranya Chantavit dan Nittha memunculkan impian penonton – khususnya kaum-kaum lajang – semoga mereka berdua sanggup bersatu di penghujung film meski sama-sama tahu tidak akan semudah itu. Yang kemudian menjadi pertanyaan, akankah masih ada cinta dalam diri Nui ketika ingatannya pulih? Tidak bisa disangkal, pertanyaan inilah yang lantas menjerat keingintahuan kita untuk mengetahui hingga selesai lika-liku perjalanan asmara antara Denchai dengan Nui yang kadangkala manis, kadangkala lucu, kadangkala aneh, dan tak jarang pula menyesakkan dada… ibarat rasa cinta itu sendiri.

Outstanding (4/5)