July 14, 2020

Review : Orang Kaya Baru


“Duit jikalau dikit cukup, jikalau banyak nggak cukup.”


Wahai sobat misqueen dimanapun kalian berada, pernah nggak sih kalian membayangkan nikmatnya mempunyai uang tak terbatas? Membayangkan apa saja yang bisa kalian lakukan dengan uang tersebut tanpa harus khawatir bakal menyesali saldo yang tersisa di ATM? Membayangkan seandainya keluarga kalian tiba-tiba ketiban rejeki nomplok yang tak diduga-duga asal muasalnya? Apabila kau mempunyai banyak mimpi (termasuk mimpi bisa makan yummy sepuasnya!), rasa-rasanya imajinasi semacam ini sulit terhindarkan. Lagian, siapa sih yang tidak ingin segala kebutuhannya sanggup terpenuhi secara mudah? Manusiawi kok. Saya pun cukup sering berandai-andai, “andai orang bau tanah saya ternyata tajir melintir”, meski pada jadinya dibangunkan lagi oleh kenyataan bahwa saya mesti tetap “kerja, kerja, kerja” kemudian “nabung, nabung, nabung” apabila ingin menikmati liburan selama berhari-hari di luar kota. Reality sucks, huh? Yang tak pernah disangka-sangka, sutradara kenamaan Joko Anwar (Pengabdi Setan, A Copy of My Mind) pun pernah berada di fase ini di masa lampau, di masa kecilnya. Menciptakan pengandaian sejenis demi membentengi diri dari gempuran realita kehidupan yang pahit. Sebuah pengandaian yang lantas dimanfaatkannya sebagai premis untuk berbagi naskah film komedi bertajuk Orang Kaya Baru yang dingklik penyutradaraannya diserahkan kepada teman baiknya, Ody C. Harahap (Me Vs Mami, Sweet 20), karena Joko mempunyai kesibukan lain yakni mempersiapkan proyek akbar Gundala. 


Dalam Orang Kaya Baru, Ody beserta Joko menyoroti kekagokan sejumlah sobat misqueen dalam mengikuti keadaan dengan gaya hidup gres sesudah mereka memperoleh warisan seabrek-abrek. Sobat misqueen tersebut terdiri dari seorang ibu (Cut Mini) beserta tiga putra-putrinya; Tika (Raline Shah), Duta (Derby Romero), dan Dodi (Fatih Unru). Pada mulanya, mereka berempat bersama sang kepala keluarga (Lukman Sardi) tinggal di sebuah rumah sederhana yang letaknya berada dalam tempat padat penduduk. Guna menyambung hidup, sang ayah bekerja di bengkel sementara sang ibu berjualan kue. Meski tak dilimpahi harta yang menciptakan Tika dan Dodi acapkali dijadikan bulan-bulanan oleh teman mereka yang kaya, ada kehangatan yang bisa dirasakan dalam keluarga ini. Mereka masih bisa meluangkan waktu untuk makan malam bersama, mereka masih bisa bersenda gurau bersama, dan mereka masih bisa menghabiskan quality time bersama. Sebuah kebersamaan yang makin jarang didapat di kurun serba teknologi ini. Akan tetapi, semuanya seketika berubah sesudah sang kepala keluarga menghadap ke Yang Maha Satu dan memperlihatkan kabar mengejutkan melalui pengacaranya: ternyata, selama ini beliau mempunyai banyak harta! Sang kepala keluarga sengaja merahasiakan fakta ini dari istri dan anaknya biar mereka lebih menghargai hidup, lebih menghargai uang, dan lebih menghargai manusia. Benar saja, sejak Tika beserta keluarganya menjadi orang kaya baru, secara perlahan tapi niscaya relasi dalam keluarga ini tak lagi sehangat dulu.


Seperti telah tergambar melalui bahan promosinya, Orang Kaya Baru merupakan pilihan yang sangat sempurna apabila kau ingin melepas penat barang sejenak dengan bersenang-senang di dalam bioskop. Betapa tidak, ini yakni film yang mempunyai kandungan hiburan di level “cukup tinggi” dan gelak tawa berderai-derai dari penonton akan gampang terdengar di banyak sekali titik. Entah itu dikala para protagonis kita masih tergolong proletar, maupun dikala protagonis kita telah berjalan beriringan bersama kaum borjuis. Alih-alih menangisi kengenesan yang dialami Tika beserta kedua saudaranya, Ody dan Joko menentukan untuk membawakannya secara santai bahkan cenderung komikal. Beberapa teladan adegan yang merefleksikan ‘kengenesan’ mereka yang lucu antara lain dikala sol sepatu Dodi terlepas di depan kelas, tatkala Duta ditolak masuk ke restoran mahal alasannya yakni mengenakan kaos, hingga ketika Tika dijebak oleh teman sekelasnya sehingga terkesan nyolong ponsel cerdas. Pada titik awal ini, kandungan humornya memang tak selalu mengenai sasaran – malah ada kalanya agak meleset. Tapi Orang Kaya Baru mulai memperlihatkan giginya terhitung sejak para protagonis dalam film mengalami gegar budaya tanggapan ketiban durian runtuh. Kenorakan perilaku mereka yang menyentil para OKB (baca: orang kaya baru) di luar sana menciptakan saya sukar untuk duduk hening di dingklik bioskop seraya menyeruput minuman bersoda. Takut tersedak, euy! Momen emas yang menciptakan muka saya mengencang ini muncul dari adegan makan di restoran, kiriman kendaraan beroda empat mewah, serta video sang kepala keluarga.

Disamping sensitivitas Ody dalam meramu adegan komedik (well, jejak rekamnya yakni bukti konkrit bahwa beliau handal menangani banyolan) serta selera humor Joko yang bagus, faktor lain yang menjadikan sederet kelucuan dalam Orang Kaya Baru sanggup berfungsi secara maksimal yakni performa jajaran pemainnya. Raline Shah bisa keluar dari zona nyamannya, Fatih Unru memperlihatkan bahwa beliau memang pelawak cilik berbakat, Lukman Sardi tampil efektif dalam tugas singkatnya yang menggelitik saraf tawa, dan Cut Mini yang sekali ini tampil gila-gilaan kembali pertanda bahwa beliau dikaruniai comic timing yang jempolan. Jujur, saya tidak bisa membayangkan film ini tanpa kehadiran Cut Mini alasannya yakni segala celotehan berikut polahnya yakni definisi dari istilah “pecah!”. Terkadang, saya hingga menunduk malu melihat kelakuannya alasannya yakni membayangkan ibu sendiri akan bertingkah serupa: mendadak histeris di tempat umum, melontarkan pertanyaan-pertanyaan ajaib, hingga narsis di depan kamera. Jika saya yakni Tika, Duta, atau Dodi, mungkin sudah mengambil langkah seribu secepatnya! Tapi tentu saja mereka tidak sedurhaka itu alasannya yakni mereka masih saling menyayangi satu sama lain, meski belakangan tak lagi terasa ibarat halnya kandungan emosi dalam film yang mempunyai cita rasa hambar. Momen sentimentil yang dipersiapkan untuk menggantikan momen komedik di paruh akhir, sayangnya berlalu begitu saja tanpa menggoreskan kesan mendalam. Tak bikin hati terenyuh, tak juga mengundang air mata. Setelah dibentuk capek terbahak selama lebih dari satu jam, saya bekerjsama agak kecewa begitu mendapati Orang Kaya Baru urung memberi hidangan epilog yang manis nan hangat. Yang kemudian mengobati rasa kecewa pada diri ini yakni rasa syukur alasannya yakni setidaknya film ini masih bisa memperlihatkan sajian menghibur yang memantik gelak tawa meriah.

Exceeds Expectations (3,5/5)