October 27, 2020

Review : Ouija: Origin Of Evil


“He’s gone. He lives in the dark and the cold, and he screams, and screams, and screams…” 

Ouija (dibaca wee-jah) yakni sebutan untuk sebuah papan kayu datar yang diukiri huruf-huruf beserta angka-angka, dibubuhi kata berbunyi “yes” “no” maupun “goodbye”, serta berhiaskan ornamen matahari serta bulan di kedua sisi atas. Kegunaannya, sebagai media berkomunikasi dengan arwah – ya mirip-mirip Jelangkung gitu deh. Terdapat tiga peraturan yang kudu dipatuhi selama bermain dengan Ouija; dihentikan memainkannya sendiri, dihentikan mempergunakannya di atas kuburan, dan wajib mengucap salam perpisahan saban mengakhiri sesi tanya jawab bersama para lelembut. Ketiga peraturan ini sifatnya mutlak, tidak mengenal kompromi dalam bentuk apapun. Jika berani melaksanakan pelanggaran, bersiaplah mendapatkan konsekuensi mengerikan menyerupai biasa dialami oleh karakter-karakter mengenaskan di film horor. Kebenaran mengenai Ouija sendiri sebenarnya masih dipertanyakan, namun board game keluaran Hasbro ini sempat mengalami lonjakan popularitas di kurun 60-an dan perlahan tergerus keberadaannya oleh modernitas. Belakangan Hasbro berniat mempopulerkannya kembali lewat medium film berjudul Ouija di tahun 2014 dan disusul prekuelnya dua tahun kemudian, Ouija: Origin of Evil, yang berupaya memperbaiki gambaran film pendahulu yang memprihatinkan. 

Masih ingat dengan guliran penceritaan film pertama? Masih? Atau justru telah terhempas jauh-jauh dari ingatan? Apabila kau tergolong dalam pemilih tanggapan terakhir, tidak perlu malu-malu mengakuinya alasannya yakni kau memiliki banyak teman (banyak sekali malahan!) dan sekalipun ada benang merah dari sisi plot yang menautkan kedua jilid, Origin of Evil bisa berdiri sendiri. Dibidani oleh Mike Flanagan (sebelumnya ia mengarahkan dua film angker jempolan, Oculus dan Hush), film mengambil latar penceritaan di Los Angeles pada tahun 1967 dengan menyoroti keluarga Zander. Telah kehilangan sosok kepala keluarga, Alice (Elizabeth Reaser) menjabani profesi sebagai cenayang biar asap dapur tetap ngebul dan daerah tinggalnya bersama kedua putrinya; Lina (Annalise Basso) serta Doris (Lulu Wilson), tidak disita oleh bank. Pun begitu jangan bayangkan Alice sebagai cenayang ulung yang hebat berbincang-bincang bersama para arwah alasannya yakni pada kenyataannya, ia tidak lebih dari sekadar penipu yang mempergunakan trik untuk mengakibatkan pengaruh yakin ke klien-kliennya. Pergesekannya dengan dunia arwah gres benar-benar terjadi ketika Alice mencoba mengetes pemakaian Ouija di rumahnya. Tidak disangka-sangka, ada respon. Saking bersemangatnya, Alice melanggar peraturan-peraturan penggunaan Ouija yang lantas berdampak pada terancamnya keselamatan keluarganya. 

Menyebut Origin of Evil jauh lebih bermartabat daripada Ouija (2014) sejatinya tidaklah berarti banyak alasannya yakni film pertamanya yakni definisi dari sebuah kekacauan besar. Ditambah lagi ada bala pinjaman dari Mike Flanagan, plus jalinan pengisahan menitiberatkan ke tragedi pra film pertama yang besar kemungkinan lebih mengikat alih-alih meneruskannya, kita sudah bisa mencium aroma agak menyegarkan di Origin of Evil. Mudahnya, mana mungkin sih bisa lebih jelek dari sebuah film yang buruknya sudah teramat sangat? Dan memang tidak. Setidaknya di paruh pertama, naskah rancangan Flanagan dan Jeff Howard membenamkan penonton ke dalam eksposisi bermuatan cukup daya tarik atas keluarga Zander. Kita telah mengetahui sedari menit pertama bahwa mereka merupakan korban utama dari jilid ini dan duo Flanagan-Howard berniat memberi banyak ruang untuk berkenalan dengan Alice beserta kedua putrinya demi membentuk keterikatan emosi yang acapkali terpinggirkan dalam film memedi. Cara mereka bisa dikata berhasil. Dengan plot yang juga yummy diikuti, ada kemauan untuk mengetahui jawaban-jawaban dari pertanyaan “bagaimana nasib mereka berikutnya?” sekaligus “apa yang sesungguhnya terjadi disini?.” Origin of Evil unggul pada kemampuannya bercerita di titik ini. 

Mengingat bagaimanapun juga ranah yang ditekuninya yakni horor, lantas bagaimana dengan gaya menakut-nakutinya? Satu hal yang perlu diketahui, Origin of Evil bukanlah tipe film sejenis (katakanlah) The Conjuring yang terhitung loyal menggeber penampakan atau setidaknya membuat momen-momen penggedor jantung. Teror mencuat perlahan disini – sangat, sangat perlahan – dengan dominasi ada di bangunan atmosfir mengganggu. Jika kau telah dekat dengan gaya Flanagan dan memang tidak berkeberatan memperoleh cekaman dari suasana, maka film ini boleh jadi akan bekerja untukmu. Tapi kalau pengharapanmu bertebaran kengerian hasil dari penampakan (ada, tapi sosoknya lebih ke konyol daripada seram. Ugh!), bumihanguskan segera. Itu tidak bisa kau jumpai disini. Akan tetapi, apakah pendekatan si pembuat film dalam perkaranya menghantui penonton di Origin of Evil terhitung berhasil terlepas dari preferensi hadirkan teror? Well, bagi saya, tidak terlalu. Memang sih ketika pertama kali ketaknormalan mulai menghiasi rumah keluarga Zander, tersalur rasa tidak nyaman – dan Lulu Wilson tampak creepy! – namun repetisi serta paruh kedua yang tuturannya juga beralih generik membantu mereduksinya. Mode ‘horor tulen’ di Origin of Evil nyatanya tidaklah sekuat mode ‘drama supranatural’-nya. Ketimbang tercekam, kelelahan berikut kejenuhan yakni apa yang dirasakan di sisa durasi dan ketika credit title mulai menampakkan diri, rasanya sungguh lega.

Acceptable (2,5/5)