October 27, 2020

Review : Oz The Great And Powerful


“I don’t want to be a good man. I want to be a great one.” – Oz

Siapapun di Hollywood yang mempunyai niatan untuk membuat versi anyar dari The Wizard of Oz, itu berarti beliau telah menggali kuburnya sendiri. Untungnya, Sam Raimi masih waras – meski banyak filmnya yang dipenuhi dengan kegilaan – dengan sepenuhnya menyadari bahwa karya Victor Fleming tersebut ialah sebuah klasik yang tidak sepatutnya disentuh secara serampangan. Ini terlalu sakral. Segala bentuk perjuangan pengopian, entah itu resmi maupun tidak, tidak lebih dari percobaan bunuh diri. Raimi tidak mengakibatkan film terbarunya, Oz the Great and Powerful, sebagai sebuah remake. Ini ialah prekuel dari film legendaris tersebut yang dasar kisahnya dijumput dari novel-novel ‘Oz’ karangan L. Frank Baum. Apa yang dikulik di sini ialah mengenai awal mula terciptanya sosok ‘The Wizard of Oz’. Dengan tampilan visual yang cerah ceria penuh warna, imbas khusus yang megah dan mewah, serta jajaran pemain yang rupawan, Raimi – dan Walt Disney, tentu saja – menghadirkan sebuah petualangan yang seru dan menghibur untuk konsumsi seluruh keluarga. 

Oz the Great and Powerful memulai perjalanan dengan penghormatan penuh terhadap sang pionir yang ditunjukkan melalui pembukaan film yang dihaturkan dalam format hitam putih dengan aspek rasio 1.33 serta kualitas bunyi yang monophony. Ini setidaknya berlangsung selama Oscar ‘Oz’ Diggs (James Franco), seorang pesulap yang playboy, masih berada di Kansas. Tapi Anda tidak perlu risau, meski sempat diwarnai dengan percakapan yang cukup membosankan, Raimi akan segera menerbangkan Anda ke Oz. Satu dua keributan yang diciptakan oleh Oz membuatnya berakhir di atas balon udara, menerbangkan diri demi mencari keselamatan, namun justru malah mendekatkannya kepada duduk perkara lain, tornado. Seperti halnya Dorothy, Oz pun terjebak dalam pusaran angin dan melihat aneka macam hal asing sekaligus menyeramkan di sana. Setelah beberapa menit yang menegangkan, Oz mendarat di, yah… Oz, yang ditandai dengan aneka macam perubahan menyerupai aspek rasio menjadi 2.35:1, audio 5.1, penuh dengan warna, dan tentunya, 3D. Oh yeah, we’re not in Kansas anymore
Belum sempat Oscar berkenalan dengan kawasan asing dimana beliau mendarat, kejutan lain telah menanti. Sebuah ramalan menyebutkan bahwa akan tiba seorang penyihir ke Oz demi melenyapkan ‘the Wicked Witch’ atau penyihir jahat yang dikala ini tengah berkuasa sesudah berhasil membunuh Raja Oz. Theodora (Mila Kunis) meyakini bahwa ‘penyihir terpilih’ tersebut ialah Oscar. Dengan segera beliau membawa Oscar ke Emerald City dan memperkenalkannya kepada sang kakak, Evanora (Rachel Weisz) yang mengiming-iminginya dengan kekuasaan serta emas yang melimpah ruah apabila Oscar sanggup mengalahkan ‘Wicked Witch’. Meski pada awalnya cenderung ogah-ogahan, pada hasilnya Oscar pun tetap berangkat menunaikan tugasnya memburu sang penyihir jahat dengan melintasi jalanan bata kuning ditemani monyet terbang banyak cincong berjulukan Finley (Zach Braff), boneka keramik China Girl (Joey King), serta penyihir baik hati berjulukan Glinda (Michelle Williams). 
Tanpa diduga, Oz the Great and Powerful ternyata sanggup menyajikan sebuah hiburan yang benar-benar menyenangkan. Walt Disney melaksanakan keputusan yang tepat dengan memekerjakan Sam Raimi. Wajar adanya apabila film ini masih belum bisa menandingi kualitas The Wizard of Oz yang sedemikian andal dan tak lekang oleh waktu tersebut secara keseluruhan. Akan tetapi, dengan teknologi yang telah jauh maju ke depan, memungkinkan Raimi untuk bermain-main dengan imbas khusus dalam film teranyarnya ini. Bujet yang disuntikkan oleh Disney sampai mencapai angka $215 juta dimanfaatkannya dengan baik untuk membuat ‘Oz’ beserta isinya yang cantik, megah, dan menakjubkan. Yah, tidak benar-benar tepat terlebih di paruh awal dimana segalanya masih terlihat palsu dan terlalu ‘CGI’, namun seiring dengan berjalannya waktu, Emerald City (dan tentunya, Oz) tidak lagi nampak memalukan serta menjadi semakin baik dan semakin baik. Apabila Anda ingin mencicipi sensasi menjelajahi Oz secara maksimal, maka pilihan menonton dalam format 3D sangat disarankan. Tidak ada kepalsuan di dalamnya, sungguh terasa kemunculan serta kedalamannya. 

Apabila Anda telah menyaksikan versi film tahun 1939, maka tidak susah untuk menebak kemana film akan bermuara. Akan tetapi, bagusnya, sekalipun tidak banyak kejutan yang tersedia (selain identitas siapakah diantara ketiga penyihir dalam film yang merupakan ‘Wicked Witch’), film tetap sanggup membuat saya duduk manis, perhatian tetap tertuju penuh ke layar lebar, serta tiada rasa bosan yang menghinggapi sampai credit title bergulir. Skrip yang dipoles oleh duo David Lindsay-Abaire dan Mitchell Kapner sekalipun tidak luar biasa hebat, namun tetap harus diakui sungguh mengesankan. Mereka berhasil menyuguhkan jalinan penceritaan yang mengasyikkan untuk diikuti dengan sisipan humor segar yang tiada henti-hentinya membuat penonton tertawa terbahak-bahak – khususnya bila itu berasal dari Finley – serta ada sebuah kehangatan dan hati untuk sentuhan terakhir di penghujung kisah. Beberapa rujukan halus yang merujuk kepada versi klasik pun turut disisipkan di sela-sela petualangan Oscar di Oz sebagai sebuah ‘homage’. 
Tidak banyak kesenangan yang diraih apabila dikala menyimak Oz the Great and Powerful, Anda terlalu sibuk untuk menyandingkannya dengan versi Judy Garland. Keduanya bagus dengan caranya sendiri. Sekalipun ‘Almost Home’ sangat gampang dilupakan dan jauh kelasnya dari ‘Over the Rainbow’ atau James Franco tidak mempunyai kharisma yang berpengaruh sebagai penyihir andal Oz, akan tetapi Sam Raimi berhasil menghantarkan Oz the Great and Powerful sebagai produk hiburan yang memuaskan dengan production value yang mencengangkan. Setidaknya, ada imbas khusus, tata rias, tata rambut dan kostum yang sanggup dibanggakan serta belum apa-apa diprediksi akan bisa berbicara banyak di penyelenggaraan Oscar tahun depan. Meski Franco tidak lebih dari James Franco di sini, jajaran pemain lain semacam Rachel Weisz, Michelle Williams, dan Mila Kunis masing-masing sanggup bermain dengan kuat, khususnya Williams yang tampil tepat sebagai Glinda. Skrip yang biasanya cenderung dianaktirikan, terlebih bila imbas khusus menjadi perhatian utama, sangat diperhatikan di sini. Petualangan kembali ke Oz yang sekali ini menyibak masa kemudian dari ‘pria di balik tirai’ ini memang tidak mencapai tahapan ‘great’ maupun ‘powerful’ menyerupai judulnya, akan tetapi ini tetaplah sebuah tontonan eskapisme yang menyegarkan. Inilah produk terbaik dari Hollywood di tahun 2013, sejauh ini.

Exceeds Expectations