October 21, 2020

Review : Paper Towns


“She loved mysteries so much, that she became one.” 

Bagaimana kau menentukan untuk mengenang hari-harimu semasa mengenakan seragam putih abu-abu? Mengasyikkan alasannya yakni mempunyai partner in crime yang bersedia diajak gila-gilaan, menyedihkan alasannya yakni kau merasa tidak ada seorang pun yang sanggup memahamimu, atau malah biasa-biasa saja alasannya yakni well, tujuan bersekolah bukan untuk bersenang-senang melainkan memperoleh nilai sebagus mungkin sehingga sanggup memasuki perguruan tinggi tinggi favorit? Seperti halnya kebanyakan orang yang menyebut Sekolah Menengan Atas sebagai salah satu fase terbaik dalam hidup, aku pun menjatuhkan pilihan di opsi pertama. Walau kadar kegilaannya tidak cukup untuk diabadikan dalam bentuk prosa (apalagi film, duh!), tetapi setidaknya cukup menciptakan aku merindukan masa-masa arif balig cukup akal terlebih sehabis menyimak gelaran terbaru karya Jake Schreier (Robot & Frank) yang disadur dari novel terkenal rekaan John Green, Paper Towns. Disusun atas celotehan seputar persahabatan, percintaan, dan pencarian jati diri, Paper Towns was one of the finest teen movies in recent years! 

Apabila pertanyaan di paragraf pembuka tersebut diajukan pada Quentin (Nat Wolff), pendekar utama kita di Paper Towns, kemungkinan besar ia akan merapat ke opsi terakhir. Telah merancang jalan hidupnya hingga bertahun-tahun ke depan, Quentin tidak sekalipun berniat mengambil resiko apa yang telah dipersiapkannya sedemikian rupa acak-acakan hanya alasannya yakni kebodohan masa muda. Baginya, kehidupan Sekolah Menengan Atas sudah cukup menyenangkan dengan mempunyai dua sahabat kuper, Ben (Austin Abrams) dan Radar (Justice Smoth), serta mengidolakan sobat masa kecilnya yang telah bermetamorfosis sebagai gadis terkenal di sekolah, Margo (Cara Delevigne). Akan tetapi, segalanya berubah bagi Quentin di suatu malam ketika Margo menyelinap masuk ke kamarnya dan mengajaknya menunaikan misi balas dendam ke mantan kekasih Margo yang berselingkuh. Untuk pertama kalinya dalam belasan tahun menghirup oksigen, Quentin keluar dari zona nyamannya dan mencicipi nikmatnya bersenang-senang! 

Diajak turut serta dalam kegilaan Margo di salah satu malam terbaik sepanjang hidupnya, Quentin merasa ini semacam arahan dari Margo untuk menjalin korelasi asmara. Tapi tentu saja kedua manusia ini tidak lantas dengan mudahnya bersatu begitu saja alasannya yakni ketika keegeran Quentin mengangkasa, Margo mendadak lenyap. Tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya termasuk keluarganya yang hirau tak acuh. Akan tetapi, Margo yang gemar kabur-kaburan ini sering meninggalkan petunjuk kala dirinya menghilang kepada orang terdekat sebagai penanda bahwa dirinya baik-baik saja. Dalam pelarian kali ini, petunjuk tersebut ditujukan untuk Quentin. Guna menemukan sang pujaan hati, untuk kemudian memenangkan hatinya, Quentin ditemani kedua sahabatnya plus sobat baik Margo, Lacey (Halston Sage), dan kekasih Radar, Angela (Jaz Sinclair), pun menelusuri satu demi satu petunjuk dari Margo yang membawa mereka dalam petualangan penuh keseruan di hari-hari terakhir bersekolah. 
Tidak disangka-sangka diri ini akan sangat menikmati Paper Towns. Kesan pertama yang menyeruak hadir usai menontonnya adalah: seru! Menduga film akan bernasib serupa dengan sang abang The Fault in Our Stars yang cenderung mengalun datar – penyelamat terbesar yakni akting manis Shailene Woodley – Paper Towns bergerak penuh dinamika dan letupan-letupan menyerupai halnya masa muda yang penuh semangat. Menonton film ini seketika melayangkan kenangan ke masa-masa SMA; menggila bersama para sahabat, melanggar sedikit aturan, hingga naksir gadis tercantik di sekolah. Ada semacam unsur nostalgia di dalamnya. Keasyikkan dalam menonton Paper Towns telah mencuat sejak narasi pertama dari Quentin yang memberi citra ringkas mengenai sosok Margo menurut kacamata si tokoh utama. Si pembuat film berhasil menciptakan penonton yakin bahwa Margo yakni wanita tepat yang memang ditakdirkan bersama Quentin sehingga menit-menit berikutnya tanpa disadari kita pun berpihak atas bersatunya Margo-Quentin dengan performa manis Cara Delevigne dan Nat Wolff semakin memperkuatnya. 

Pun demikian, daya tarik gotong royong dari Paper Towns bukan semata-mata pada gejolak romansa sang protagonis melainkan lebih ke proses yang dilalui oleh Quentin dan konco-konco dalam menguak misteri keberadaan Margo. Tidak saja terkemas begitu menyenangkan karena dibentuk ingin tau terhadap “apa ya yang menanti mereka sehabis ini?”, adanya iringan tembang-tembang indie yang menyegarkan telinga, dan banyaknya semburan tawa berkat kesintingan duo Ben-Radar – serius, aku berharap sanggup ikut road trip bersama mereka! – tetapi juga menghangatkan hati melihat indahnya persahabatan para arif balig cukup akal ini dan thoughtful. Hah, thoughtful? Ya, Paper Towns terang bukan cuma film senang-senang belaka yang mengajakmu mengintip momen-momen berharga di ujung Sekolah Menengan Atas dari sekelompok arif balig cukup akal tak kita kenal. Ada beberapa momen dalam film yang memberi kesempatan bagi penontonnya untuk berkontemplasi mengenai kehidupan (kebahagiaan, keajaiban, keberanian, kesempurnaan, kepalsuan, penerimaan diri). Sepintas sih terdengar berat, namun cakapnya penanganan Jake Schreier tidak kemudian menciptakan penonton mengernyitkan dahi sehabis menonton Paper Towns melainkan justru merasa lega, senang dan bersemangat. What a feel-good movie!

Outstanding