October 19, 2020

Review : Paranormal Activity 4


“There’s something in the street.” – Alex 

Seusai sebuah franchise dimana muncratan darah dan alat-alat penyiksa badan insan digeber sedemikian rupa serta menjadi sebuah pemandangan yang biasa dikhatamkan pada instalmen ketujuh pada tahun 2010 silam, Halloween tidak bermurung hati karena sang pengganti telah ditemukan. Paranormal Activity, sebuah film horor berbujet murah yang menerapkan teknik kamera handheld layaknya The Blair Witch Project, secara mengejutkan sanggup mencetak ‘hit’ di tangga box office sesudah mengundang jutaan penonton untuk ditakut-takuti di dalam bioskop. Tak hanya penonton, para kritikus pun menyayangi film ini. Dengan raihan angka yang terbilang sangat tinggi – terutama bila diukur memakai perbandingan bujet yang harus digelontorkan – maka bukan sesuatu yang mengejutkan ketika sang kreator, Oren Peli, memutuskan untuk melanjutkan acara paranormal di layar lebar. Didukung oleh basis penggemar yang besar, Paranormal Activity pun rutin menelurkan sekuel setiap tahun dengan hasil yang memuaskan meski jilid-jilid yang mengikutinya ini ditanggapi hambar oleh kritikus. Dan memang, sesudah jilid awal yang cukup seram, kelanjutan dari seri ini tidak lebih dari sekadar repetisi. Kecuali Anda yaitu penggemar berat, maka setiap sekuel, khususnya Paranormal Activity 4 yang gres saja dilempar ke pasaran, hanya akan menciptakan Anda tertidur pulas di dalam bioskop dan gres terbangun di menit-menit terakhir. 
Paranormal Activity 4 yang mengambil latar belakang di tahun 2011, melanjutkan apa yang menjadi pertanyaan banyak orang usai menyaksikan Paranormal Activity 2 dimana Katie (Katie Featherston) dan Hunter dikisahkan menghilang usai janjkematian Kristi Rey dan Daniel. Kali ini yang menjadi korban tidak lagi berasal dari keluarga Katie, melainkan sebuah keluarga yang tinggal di pemukiman yang sama dengan Katie. Teror bermula sesudah ibu dari Robbie (Brady Allen) mendadak kudu diboyong ke rumah sakit dengan alasan yang tidak diketahui oleh para tetangga. Mengingat Robbie tidak mempunyai kerabat lain, maka beliau pun dititipkan ke keluarga Nelson. Semenjak pertama kali menginjakkan kaki di rumah keluarga Nelson, Alex (Kathryn Newton), mencicipi ada yang tidak masuk akal dengan bocah ini. Robbie yang erat erat dengan adik Alex, Wyatt (Aiden Lovekamp), membawa sang ‘teman khayalan’ turut serta. Atas saran dari sang kekasih, Ben (Matt Shively), aneka macam alat perekam pun dipasang di beberapa sudut rumah menindaklanjuti kekhawatiran Alex. Benar saja, dan tentu siapapun sudah menduganya, ada sesuatu yang absurd dalam diri Robbie. Teror demi teror pun mulai berdatangan, dan Alex beserta setiap tokoh di dalam film ini mengalami apa yang dialami oleh para tokoh di ketiga film sebelumnya. 
Jujur saja, Paranormal Activity 4 sudah mulai kehilangan daya tariknya. Selain alat rekam yang kali ini lebih bervariasi jenisnya – tidak hanya memanfaatkan kamera video, tetapi juga webcam, kamera di telepon cerdas, hingga Kinect – tidak ada sesuatu yang gres dalam jilid ini. Untuk urusan penceritaan, Zack Estrin dan Christopher B. Landon seolah hanya menulis ulang menurut skrip dari film sebelumnya dengan sedikit penambahan biar tidak terkesan hanya ‘copy paste’ semata. Teror yang dihadirkan, walaupun ada beberapa yang menciptakan saya terlonjak dari kursi, sayangnya kurang terasa gregetnya. Hanya sebatas mengagetkan, tidak hingga pada tahapan menakutkan hingga menciptakan saya kesulitan untuk memejamkan mata di malam hari. Duo nahkoda film ini, Henry Joost dan Ariel Schulman, yang pernah membangkitkan franchise ini dari keterpurukan, untuk sekali ini terlihat kebingungan hendak membawa jilid keempat ini kemana. Tanpa menerima proteksi naskah yang memadai, film ini pun seolah hanya jalan di tempat. Setelah tiga film berturut-turut dengan contoh penceritaan yang serupa, maka tak ada lagi kejutan disini. Penyelesaiannya pun terkesan dipaksakan dan malah justru merobohkan tensi ketegangan yang bersama-sama sudah mulai terbangun dengan cukup baik di menit-menit terakhir. Apa yang saya rasakan kala menyaksikan Paranormal Activity 4 tidak jauh berbeda ibarat ketika saya diajak mengunjungi wahana permainan rumah berhantu yang sama oleh empat sobat yang berbeda dalam waktu yang berurutan. Maka satu-satunya cara untuk sanggup menikmati Paranormal Activity 4 bila Anda bukanlah fans berat atau ini bukan pertama kalinya Anda menyimak franchise ini yaitu mengajak sobat yang penakut, gampang terkejut, atau latah – lebih disarankan wanita – untuk menemani Anda menonton. Setidaknya, ada sesuatu yang sanggup menciptakan Anda merasa terhibur.

Note : Jika Anda tidak mempunyai urusan yang sangat mendesak, tidak usah terburu-buru meninggalkan gedung bioskop. Paranormal Activity 4 mempunyai post-credit scene di penghujung film. 

Poor