October 21, 2020

Review : Patriots Day


“Welcome to Watertown, motherfuckers!” 

Hanya berselang tiga bulan semenjak dilepasnya Deepwater Horizon – sebuah film berbasis peristiwa kasatmata mengenai kebakaran ahli pengeboran kilang minyak di lepas pantai – yang menandai kerja sama kedua antara Peter Berg dengan ‘male muse’-nya, Mark Wahlberg, seusai Lone Survivor (2013) hadir film lain yang juga dicuplik dari peristiwa penghias tajuk utama media-media Amerika Serikat beberapa waktu lampau yang sekali lagi (!) mempertemukan Berg bersama Wahlberg yakni Patriots Day. Didasarkan buku nonfiksi gubahan Casey Sherman dan Chris Wedge, Boston Strong, serta beberapa materi yang pernah ditayangkan oleh kegiatan televisi 60 Minutes, Patriots Day soroti peristiwa pengeboman di Boston kala helatan tahunan Maraton Boston pada 2013 silam. Berbeda halnya dengan baik Lone Survivor yang luar biasa mencekam maupun Deepwater Horizon yang separuh awalnya cenderung lempeng jaya, Wahlberg tidak memerankan huruf betulan dalam Patriots Day. Sosok Tommy Saunders yang dimainkannya hanyalah tokoh bentukan untuk film yang terinspirasi dari sejumlah petugas-petugas kepolisian Boston. Keberadaan Tommy Saunders sendiri dimanfaatkan Berg sebagai ‘mata’ bagi penonton sekaligus demi menggenjot imbas dramatis. 

Melalui Saunders, kita ikut merasakan, mengamati, serta menyidik kekacauan yang disebabkan oleh peristiwa pengeboman yang meminta tumbal tiga jiwa tersebut. Keterlibatan lebih jauh Saunders dalam merampungkan kasus Tragedi Boston dimulai kala dirinya diminta bekerja sama dengan Agen Khusus FBI, Richard DesLauriers (Kevin Bacon), karena dianggap mengenal baik setiap sudut kota Boston. Berkat ketajaman daya ingatnya akan keberadaan CCTV, wajah kedua pelaku sanggup teridentifikasi secara cepat dan identitas mereka, Tamerlan (Themo Melikidze) serta Dzhokhar (Alex Wolff), pun mengemuka beberapa ketika setelahnya. Telah mempunyai modal lebih dari cukup untuk melaksanakan penangkapan, sayangnya tidak semudah itu melacak keberadaan dua bersaudara tersebut. Tamerlan dan Dzhokhar yang sangat aktif mengikuti perkembangan gosip lantas bergerak begitu pihak kepolisian berhasil mengendus identitas mereka. Ditengah-tengah pelarian yang melahirkan tabrakan satu sama lain, keduanya berbuat blunder sesudah tetapkan membajak kendaraan beroda empat seorang mahasiswa. 

Bagi penonton yang getol mengikuti perkembangan gosip pengeboman Boston – dari liputan di TKP hingga perburuan terhadap tersangka – yang ramai dibahas tiada habis-habisnya di bermacam-macam jenis media hampir empat tahun lalu, Patriots Day boleh jadi tidak menawarkan informasi atau perspektif gres karena apa yang dipaparkannya merupakan diam-diam umum. Bagaimana prosesnya, kemudian bagaimana ujungnya telah dikupas secara menyeluruh oleh media. Daya tarik tersisa terletak pada cara Berg mepresentasikannya ke medium film. Baik gayanya merekonstruksi momen-momen memburu kedua tersangka, penekannya pada sisi humanis, hingga keleluasaannya untuk hadirkan suasana mencekam di TKP yang pastinya luput di pemberitaan sarat sensor. Dibumbui dengan dramatisasi disana sini, tentu masih ada sensasi berbeda kala menyimak Patriots Day sekalipun materinya amat familiar. Apalagi, kita tidak sanggup melihat badan bersimbah darah, luka-luka menganga, hingga potongan-potongan badan menghiasi layar secara eksplisit ketika kamera menjumpai korban-korban ledakan bom di pemberitaan televisi, bukan? Ya, muatan kekerasan yang eksplisit dalam Patriots Day memang cukup mengganggu utamanya bila kau gampang ngilu atau mual, tapi tak sanggup disangkal, ini menambah imbas cekam untuk filmnya itu sendiri. 

Efek cekam akan semakin dirasa buat penonton yang tidak tahu menahu wacana pengeboman Boston atau sebatas tahu permukaannya saja. Dijlentrehkan memakai pendekatan prosedural, penonton mengikuti tahap demi tahap penyusunan seni administrasi dari pihak kepolisian guna menangkap para pelaku dengan sesekali kita melihat dari kacamata Dzhokhar yang mulai blingsatan dalam pelarian. Sedari meledaknya bom, intensitas Patriots Day memang merapat dan hampir tidak menawarkan ruang bagi penonton untuk sekadar menghembuskan nafas lega. Wahlberg bermain bagus, namun bintang sebetulnya dari Patriots Day yakni Alex Wolff yang mempertemukan amarah dan ketakutan dalam satu daerah sehingga menghindarkan penggambaran karikatural dari sosok villain. Memperoleh sokongan mantap dari duo Trent Reznor-Atticus Ross dengan iringan musik menghentak-hentaknya plus gerak kamera tangkas nan dinamis, ketegangan Patriots Day terjaga stabil hingga titik puncak mendebarkannya. Selepas meredanya ‘badai’ – mengikuti tradisi dari dua film dongeng kasatmata Berg yang lain – yakni kesempatan memberi penghormatan untuk para jagoan beserta korban yang (sekali lagi) tergolong efektif dalam menyentuh hati-hati sensitif. Menarik.

Exceeds Expectations (3,5/5)