July 2, 2020

Review : Pengabdi Setan (2017)


“Kalau memang itu Ibu, kita bilang sama dia supaya nggak ganggu kita lagi.” 

Kala melontarkan tanya seputar film horor tanah air paling seram, responden kerap kali menyebut judul Pengabdi Setan – sebuah film memedi rilisan tahun 1980 yang digarap oleh Sisworo Gautama Putra. Apabila kau pernah menyaksikannya, maka tanggapan tersebut tak akan terdengar mengejutkan di pendengaran alasannya film ini memang cukup ampuh dalam mengganggu kenikmatan tidur di malam hari. Secara penceritaan memang tak istimewa alasannya hanya berkisar pada pertarungan melawan kebatilan, begitu pula elemen teknisnya. Yang lantas mengakibatkan Pengabdi Setan versi jadul ini dikenang banyak pihak yakni kemampuan si pembuat film dalam menghadirkan rentetan teror ikonik ibarat penampakan sosok ibu dalam wujud hantu, gangguan kala sholat, keberadaan villain berjulukan Darminah (Ruth Pelupessy) dengan tatapannya yang bikin nyali ciut, hingga serangan zombie. Salah satu pecinta film yang mengalami mimpi jelek ketika menonton film ini yaitu Joko Anwar (Kala, Pintu Terlarang) yang lantas menginspirasinya untuk menggarap ulang Pengabdi Setan. Perjuangan Joko guna mengantongi izin dari Rapi Films selaku pemilik hak cipta film tidaklah main-main alasannya membutuhkan waktu sekitar 10 tahun hingga akibatnya rumah produksi berkenan memberinya restu. Diberi kepercayaan sedemikian besar, Joko tentu memanfaatkannya sebaik mungkin yang terpampang nyata pada hasil tamat interpretasi barunya terhadap Pengabdi Setan yang tak saja berhasil sebagai remake tetapi juga amat layak memperoleh predikat sebagai “salah satu film horor Indonesia terbaik sepanjang masa.”  

Tak ibarat rilisan lawas yang sekonyong-konyong menghadapkan penonton pada teror, Pengabdi Setan milik Joko mempersilahkan kita untuk menengok barang sejenak kondisi Ibu (Ayu Laksmi) sebelum menghadap ke Yang Maha Satu. Ibu mengidap penyakit misterius selama bertahun-tahun yang memaksanya untuk tetap berbaring di ranjang sepanjang hari. Alat komunikasinya dengan keluarga yang terdiri atas Bapak (Bront Palarae), Nenek (Elly D. Luthan), Rini (Tara Basro), Tony (Endy Arfian), Bondi (Nasar Annuz), dan Ian (Adhiyat Abdulkhadir) hanya satu: lonceng kuningan. Komunikasinya pun sebatas meminta disuapi atau disisir, tak pernah ada dialog intim diantara Ibu dengan anak-anaknya alasannya Ibu sudah tidak bisa berbicara sehingga lambat laun tercipta jarak yang membuat anak-anaknya merasa ngeri untuk dekat-dekat ke Ibu terlebih sang ibu kerap memberi tatapan mengerikan. Usai membuat situasi serba sulit dan tidak mengenakkan bagi keluarganya selama beberapa tahun, Ibu akibatnya berpulang di suatu malam. Untuk sesaat, Bapak dan bawah umur menerka bahwa kepergian Ibu akan menjadi kesempatan untuk memulai hidup gres yang lebih baik hingga kemudian… Ibu tiba lagi. Apakah kedatangan Ibu ini karena semata-mata dia masih belum siap berpisah dengan anak-anaknya atau ada suatu agenda terselubung? Apapun motifnya, kedatangan Ibu bukanlah sesuatu yang menggembirakan bagi setiap personil keluarga Suwono alasannya ia tidak tiba secara hening dan justru membawa musibah kepada orang-orang terkasihnya. 

I can assure you, Pengabdi Setan rekaan Joko Anwar ini tidaklah ibarat lebih banyak didominasi film-film horor tanah air yang lebih mementingkan penampakan hantu yang ganjen kemudian mengabaikan penceritaan dan urusan teknis. Ya, ketimbang eksklusif menyeret penonton ke tengah-tengah terjangan teror yang tak berkesudahan, si pembuat film memberi kita sekelumit latar belakang dan pengenalan ke anggota keluarga Suwono sehingga terbentuk ikatan antara penonton dengan barisan huruf yang memunculkan rasa peduli. Pengabdi Setan versi lawas tidak memperlihatkan ini – bahkan, plotnya pun setipis kertas – dan Joko berusaha menebus kesalahan film favoritnya tersebut dengan cara menyebarkan penceritaan di versi mutakhir ini lebih jauh (sampai-sampai saya curiga, film ini bakal nyambung ke film Joko yang lain). Ada informasi mengenai siapa Ibu sebelum terkapar tak berdaya di rumah, ada pembagian terstruktur mengenai ihwal penyebab tamat hidup Ibu, dan ada alasan lebih faktual dibalik teror yang dihujamkan Ibu kepada keluarganya ketimbang sebatas dilema kurangnya keyakinan kepada Tuhan. Ya, memperbincangkan soal motif si penebar teror, Joko menghadirkan sebuah klarifikasi amat menarik yang tidak saja membuka ruang bagi munculnya jilid-jilid lain selepas Pengabdi Setan tetapi juga diskusi panjang-panjang diantara para penonton filmnya. Salah satu ciri khas dari sang sutradara yang seketika membuat saya merancang rencana untuk menontonnya kembali demi mengorek petunjuk-petunjuk dari sang sutradara yang sangat mungkin terlewatkan. 

Disamping memoles penceritaan semoga tak lagi compang-camping, Joko mencoba untuk turut meningkatkan level kengerian dari versi klasik yang sejatinya bukan perkara gampang dilakukan alasannya Pengabdi Setan rekaan Sisworo Gautama Putra sejatinya telah unggul dalam trik menakut-nakuti. Jawaban dari tanya “apakah Pengabdi Setan versi Joko ini lebih ngeri atau tidak ketimbang pendahulunya?” memang akan sangat relatif, namun bagi saya secara pribadi, Pengabdi Setan versi 2017 ini bisa memperlihatkan suatu mimpi buruk. Salah satu film horor Indonesia paling menyeramkan dalam beberapa tahun terakhir. Kengeriannya bersumber dari dua hal; atmosfir yang mengusik serta penempatan jump scare yang efektif. Sedari awal, nuansa mengganggu kenyamanan yang membuat bulu kuduk meremang telah menguar. Daya cekam yang sudah berada di level sedang ketika kita diajak menjenguk Ibu di ranjang, perlahan tapi niscaya terus ditingkatkan oleh Joko seiring dengan bergulirnya durasi. Dalam perjalanan mengarungi wahana rumah berhantu ini yang sarat akan acuan terhadap sejumlah film horor apik macam The Changeling (1980), Night of the Living Dead, The Omen, Ringu, serta The Others, saya beberapa kali dibentuk terperanjat dari dingklik bioskop ibarat pada adegan lempar selimut, ketok-ketok dinding di malam hari, mendengarkan drama radio, pipis di tengah malam, rekonstruksi adegan sholat yang ikonik itu, hingga tiap kali terdengar bunyi gemerincing lonceng Ibu. 

Keberhasilan Pengabdi Setan dalam menghadirkan teror yang akan membuat para penakut berulang kali meringkuk di dingklik bioskop sekaligus menutupi pandangan mereka dari layar bioskop ini merupakan kombinasi dari pengarahan sangat baik, plot mengikat, tata kamera dengan komposisi beserta pergerakan yang sungguh mengagumkan, tata artistik detil yang sanggup ciptakan kesan kurun 80-an awal, skoring musik menghantui, lantunan tembang “Kelam Malam” dari Aimee Saras yang mengusik, serta barisan pemain yang memperlihatkan performa di atas rata-rata. Setiap personil keluarga Suwono bisa memperlihatkan akting meyakinkan terutama Tara Basro yang mengombinasikan ketegasan, kebingungan, sekaligus ketakutan di waktu bersamaan, kemudian Ayu Laksmi yang mempunyai ekspresi meneror ibarat halnya mendiang Ruth Pelupessy di versi lawas, dan para bintang film cilik pendatang gres Nasar Annuz beserta Adhiyat Abdulkhadir yang bisa bermain secara natural sehingga penonton tidak merasa kesulitan untuk jatuh hati kepada keduanya, khususnya Adhiyat yang menjadi scene stealer dalam Pengabdi Setan. Oleh Joko, keduanya difungsikan sebagai comic relief dengan segala tingkah polah polos dan celetukan-celetukan lucu khas bocah semoga penonton bisa bernafas untuk sesaat sebelum kembali dibentuk blingsatan begitu Ibu memasuki rumah yang ditandai dengan terdengarnya bunyi lonceng bergemerincing.

Outstanding (4/5)