July 14, 2020

Review : Perfect Strangers (2016)


“We have everything in here (mobile phone). It’s the black box of our lives. How many couples would split up if they saw each other’s phones?” 

Tanyakan kepada dirimu sendiri: seberapa jauh kau mengenal orang-orang yang kau sebut sebagai sahabat, kekasih, maupun suami/istri? Apakah kau benar-benar yakin bahwa mereka bisa sepenuhnya dipercaya? Benarkah tidak ada diam-diam beracun yang disembunyikan rapat-rapat oleh mereka darimu? Bagaimana kalau ternyata mereka sejatinya tidak lebih dari orang aneh yang kebetulan saja menerima sebutan ‘sahabat, kekasih, maupun suami/istri’? Hmmm. Pertanyaan-pertanyaan ‘baper’ yang bisa jadi sempat menggelayuti pikiran kita ini menjadi landasan utama bagi Paolo Genovese untuk menghasilkan film layar lebar terbarunya yang bertajuk Perfect Strangers (dalam bahasa Italia berjudul Perfetti sconosciuti). Paolo bersama empat rekannya memformulasikan sederet pertanyaan tersebut ke dalam skrip yang lantas diejawantahkannya menjadi bahasa gambar. Demi membuatnya terasa kian menggigit, si pembuat film menyelubunginya dengan komentar sosial terkait pengaruh negatif dari kemajuan teknologi. Dampak negatif yang dijlentrehkan Paolo melalui Perfect Strangers ialah bagaimana teknologi telah merenggut habis privasi masyarakat modern melalui aplikasi maupun situs pertemanan (ironis!) dan bisa berubah menjadi sebagai ancaman laten bagi kekerabatan antar insan apabila tidak dipergunakan secara bijak. Dramaaaaaa! 

Guliran penceritaan Perfect Strangers mempertemukan penonton dengan tujuh sahabat usang yang konfigurasinya terdiri atas tiga pasangan menikah dan satu duda. Pasangan pertama ialah Lele (Valerio Mastandrea) dan Carlotta (Anna Foglietta) yang tidak lagi saling berkomunikasi secara intens. Pasangan kedua ialah pengantin baru, Cosimo (Edoardo Leo) dan Bianca (Alba Rohrwacher), yang gairah seksual keduanya masih menggebu-nggebu. Pasangan ketiga ialah Rocco (Marco Giallini) dan Eva (Kasia Smutniak) yang menapaki fase sebagai orang bau tanah dari seorang remaja. Sementara sang duda ialah Peppe (Giuseppe Battiston) yang telah mempunyai kekasih baru. Ketujuh sahabat ini berkumpul dalam sebuah jamuan makan malam yang dihelat di apartemen milik Rocco dan Eva. Mengingat mereka telah cukup usang tidak saling bersua, maka setumpuk obrolan dengan banyak sekali topik yang amat acak pun terus mencuat hingga kesudahannya Eva tetapkan untuk membuat sebuah permainan menarik sekaligus ‘berbahaya’. Eva meminta setiap personil yang hadir untuk meletakkan ponsel cerdas masing-masing di atas meja makan kemudian membiarkan seluruh pesan atau telepon yang masuk ke ponsel mereka diketahui oleh semuanya, tanpa terkecuali. Mulanya, permainan ‘tak ada diam-diam diantara kita’ ini berlangsung menyenangkan. Namun ketika rahasia-rahasia besar mulai terungkap, kesenangan tersebut berubah menjadi bencana yang seketika menggoyahkan ikatan ijab kabul dan persahabatan yang telah terjalin selama bertahun-tahun. 

Perfect Strangers mengawali penceritaan dengan sekelumit babak introduksi yang menyoroti persiapan tiga pasangan sebelum menghadiri jamuan makan malam (Peppe gres diperkenalkan di lokasi acara). Tidak mendalam, tapi cukup untuk memberi kita citra mengenai kekerabatan yang terjalin diantara mereka; Lele-Carlotta dingin, Cosimo-Bianca menggelora, sementara Rocco-Eva cenderung berada di tengah-tengah. Begitu beranjak ke apartemen Rocco dan Eva yang akan menjadi panggung utama berlangsungnya ‘pertempuran’ sepanjang sisa durasi, Paolo lantas menyodori penonton dengan tek tokan remeh temeh antar sahabat yang berfungsi untuk menegaskan kekerabatan ketujuh insan ini sekaligus untuk menggelitik saraf tawa penonton. Dari obrolan-obrolan ini, kita pun menyadari bahwa guliran kisah Perfect Strangers bergantung sepenuhnya pada kekuatan obrolan yang dikreasi oleh lima penulis naskah. Apabila bahan pembicaraannya lembek, kemudian chemistry antar pelakon tak bertenaga, dan penyuntingan kurang lincah, Perfect Strangers terang berada dalam masalah besar. Beruntungnya apa yang terjadi justru sebaliknya. Obrolan ringan yang menghiasi belasan menit awal bertahap mengalami eskalasi, utamanya usai Eva tetapkan untuk memperlihatkan bumbu pedas pada malam reuni kecil-kecilan ini. Disamping semoga makan malam bersama ini terasa hidup (tentu tak akan ada tamu yang sibuk dengan ponselnya sendiri), tujuan Eva mencetuskan permainan ‘tak ada diam-diam diantara kita’ ini ialah mengetes kejujuran – meski sejatinya telah melanggar privasi. Dia menantang, “jika memang tidak ada yang disembunyikan, kenapa harus takut?” 

Tentu saja, Paolo tidak membiarkan pesan atau telepon yang masuk ke ponsel para huruf berada di taraf aman. Kalau sebatas berafiliasi dengan bisnis maupun panggilan dari kerabat atau sahabat, dimana asyiknya? Mesti ada ketegangan dong! Maka dari itu, si pembuat film menyelipkan diam-diam pada masing-masing karakter. Tingkatannya beragam, ada yang biasa-biasa saja, sedang-sedang saja, hingga parah sekali yang seketika membuat ledakan andal di meja makan dan memberi penonton suatu tontonan yang menarik – momen terbaik ialah ketika dua tamu bertukar ponsel yang tanpa disangka-sangka malah bikin geger alasannya dua pesan sederhana. Tidak ada yang terbebas dari konflik, tidak ada putih higienis di sini. Ketika kau mengira bahwa satu masalah telah cukup menggegerkan, tunggu hingga kau mendengar diam-diam lain yang siap diungkapkan. Yang jelas, Paolo tidak akan membiarkanmu terjangkit jenuh hingga jatuh terlelap di pertengahan durasi alasannya kolaborasinya bersama para penulis naskah yang mengkreasi dialog-dialog cepat nan tajam, penyunting gambar yang cekatan dalam menyusun ritme film, serta pemain ansambel dengan chemistry menyengat, memungkinkan Perfect Strangers untuk mempunyai cita rasa mencekam dan mencengkram dari menit ke menit. Itulah mengapa menyaksikan Perfect Strangers yang dijual sebagai tontonan satir ini tak ubahnya menonton sebuah gelaran thriller. Kamu tidak akan rela memalingkan muka barang sejenak dari layar alasannya setiap percakapan yang meluncur dari lisan para huruf ialah kunci. 

Kunci yang akan menuntun para huruf untuk mengetahui ‘kebenaran beracun’ yang telah tersembunyi selama bertahun-tahun. Kunci yang akan melepaskan topeng yang selama ini dikenakan oleh tujuh insan yang mengaku dirinya sebagai sahabat dan pasangan yang bisa dipercaya. Kunci yang akan membawa mereka pada keputusan penting; apakah kekerabatan (persahabatan dan pernikahan) penuh kepalsuan ini layak dipertahankan? Kunci yang akan mengusik aliran penonton dengan suatu pilihan; apakah kebenaran ini perlu dibeberkan sekalipun berpotensi merusak kekerabatan atau lebih baik disimpan erat-erat demi menjaga keutuhan kekerabatan sekalipun ini berarti ada ketidakjujuran? Dan kunci yang akan membuat kita bertanya-tanya; apakah kemajuan teknologi ini benar-benar telah membuat insan tidak lagi peduli dengan privasi?

Outstanding (4/5)