September 29, 2020

Review : Petak Umpet Minako


Apakah kau pernah mendengar permainan asal Jepang yang disebut Hitori Kakurenbo? Pada dasarnya, permainan ini tak ubahnya petak umpet di Indonesia. Yang kemudian membedakannya yakni keterlibatan makhluk halus di dalamnya. Ya, sahabat mainmu tidak saja manusia, tetapi juga lelembut dari alam seberang yang memenuhi undangan bermain usai dipanggil melalui sebuah ritual memakai medium boneka. Terdengar mengerikan? Tentu saja, bahkan sanggup dikata berbahaya sebab si makhluk halus sangat mungkin turut mengincar jiwamu. Salah satu korban dari permainan ini yakni seorang blogger berjulukan Sarah yang keberadaannya tak terang rimbanya selepas mengunggah video yang menawarkan dirinya iseng-iseng menjajal Hitori Kakurenbo. Kesahihan kabar ini memang masih dipertanyakan, namun satu yang jelas, ia telah menggemparkan dunia maya. Saking gemparnya, seorang penulis berjulukan pena @manhalfgod pun tergelitik untuk mengejawantahkannya ke dalam bentuk novel ratusan halaman bertajuk Petak Umpet Minako yang lantas disesuaikan menjadi film layar lebar berjudul sama oleh Billy Christian (Kampung Zombie, Rumah Malaikat). 

Tokoh utama dalam Petak Umpet Minako bukan lagi Sarah, melainkan seorang cowok berjulukan Baron (Miller Khan). Di suatu malam bersamaan dengan berlangsungnya reuni Sekolah Menengan Atas yang enggan untuk dihadirinya, Baron mendapatkan pesan singkat dari kekasihnya, Gaby (Wendy Wilson), yang mendesaknya tiba ke program reunian di gedung bekas sekolah mereka dulu. Meski ogah-ogahan, toh kesannya Baron tetapkan mampir demi membahagiakan sang kekasih. Sesampainya di lokasi, betapa terkejutnya protagonis utama kita begitu mendapati bahwa program reunian yang disangkanya akan dipenuhi gelak tawa justru berakhir petaka. Teman-temannya berlumuran darah, berlarian kesana kemari, bahkan beberapa diantaranya telah bermetamorfosis menjadi jenazah hidup. Apa yang bergotong-royong terjadi di sini? Usut punya usut, ternyata sang biang kerok yakni Vindha (Regina Rengganis) yang mengajak teman-temannya bermain Hitori Kakurenbo tanpa pernah menyadari betapa besarnya resiko yang akan mereka hadapi. Arwah dalam boneka berjulukan Minako yang dipergunakan Vindha sebagai medium lantas menghisap habis jiwa manusia-manusia yang ikut bermain hingga menciptakan badan si boneka ibarat manusia. Minako tak akan berhenti melakukannya hingga ia dinyatakan sebagai pemenang permainan. 


Di atas kertas, Petak Umpet Minako memang terdengar mirip film horor yang menjanjikan. Saya sendiri menawarkan ketertarikan cukup tinggi tatkala mengetahui bahwa film ini bakal didasarkan pada urban legend asal Jepang yakni permainan petak umpet yang melibatkan hantu. Yang kemudian semakin menggenjot keingintahuan, bahan promosinya berupa poster dan trailer digarap tidak main-main (bisa dibilang posternya yakni salah satu yang terbaik tahun ini). Apa mungkin ini sebuah menunjukan kalau ekspektasi menerima tontonan angker bakal dipenuhi oleh Petak Umpet Minako? Ternyata oh ternyata, saya kelewat berbaik sangka, saudara-saudara sekalian. Melangkahkan kaki ke dalam bioskop dengan riang penuh semangat, tak disangka-sangka saya malah keluar bioskop dengan gontai sampai-sampai mesti dibopong mbak-mbak penyobek tiket jaringan bioskop angka romawi. Seolah-olah jiwa ini ikut diserap oleh Minako. Ya bagaimana tidak lemas, meski durasinya hanya 87 menit, Petak Umpet Minako terasa sangat lamaaaaaaaaaa sekali. Rasa-rasanya saya ingin melayangkan saran kepada pihak bioskop biar menyediakan fitur “penonton boleh mempercepat durasi film sesuai selera” sehingga ketika menjumpai film serupa yang tidak ketulungan bertele-telenya, diri ini tidak perlu risau bakal jenuh, capek, maupun menyesal karena sudah membuang-buang banyak waktu. 

Sulit untuk benar-benar sanggup menikmati Petak Umpet Minako sebab film menghadapi setumpuk permasalahan yang menyergap di hampir setiap departemen pembangunnya. Baik itu penyutradaraan, naskah, akting, penyuntingan, maupun musik. Premis mengikat yang dimilikinya seketika mentah hanya beberapa menit sesudah film dimulai. Billy Christian terlalu bersemangat ingin mengajak penonton bersenang-senang hingga lupa menyisakan sedikit durasi untuk membentuk pondasi kisah sekaligus mengenalkan barisan tokohnya. Alhasil, sepanjang durasi pikiran terus berkecamuk dan lisan tak henti-hentinya nyeletuk, “kok sanggup begini?” kemudian “kok sanggup begono?” kemudian “eh, itu siapa ya?” dan “lah, kok ia jadi begitu?”. Besarnya lubang menganga yang dibiarkan begitu saja oleh si pembuat film menciptakan jajaran pemainnya terjungkal masuk ke dalamnya. Mereka tampak kebingungan menginterpretasi tugas masing-masing sehingga penonton pun semakin kebingungan memikirkan bagaimana caranya bersimpati kepada abjad yang mereka mainkan. Ini masih belum ditambah penyuntingan tak rapi hasil dari keputusan mengaplikasikan teknik bercerita maju mundur manis yang malah menggugurkan ketertarikan mengikuti pergerakan kisah dan musik pengiring yang ampun berisiknya. Sungguh sangat disayangkan, padahal Petak Umpet Minako sejatinya punya potensi menjadi film horor memikat.

Poor (2/5)