July 1, 2020

Review : Petualangan Menangkap Petir


“Meraih mimpi itu harus ada yang dikorbankan.” 
Bikin film emang susah, bikin film emang capek, dan bikin film emang butuh perjuangan. Akan tetapi, bikin film juga seru, bikin film juga candu, dan bikin film juga ngangenin. Banyak pengalaman yang dapat dikenang selama proses pembuatan film. Saya merasakannya secara pribadi untuk pertama kali saat masih berstatus sebagai maba (mahasiswa baru) dan mengikuti sebuah unit aktivitas mahasiswa di universitas yang bersentuhan dengan dunia film. Sewaktu menjalani malam keakraban, anggota-anggota gres ditugaskan untuk menggarap film pendek dengan durasi berkisar 5-10 menit. Sekadar warta kurang penting, kita butuh waktu selama 8 jam lebih untuk mengeksekusi film dengan durasi 5 menit. Itupun mengindahkan kontinuitas pada pengadeganan maupun plot karena tak dibekali skrip memadai serta hanya mengandalkan spontanitas. Pokoknya berlakon, sorot kamera, edit, jadi deh! Jangan ditanya hasil jadinya ibarat apa (bocoran: cenderung memalukan) alasannya yaitu tujuannya sekadar buat memberi pengalaman, berkenalan melalui kerja tim, sekaligus bersenang-senang. Tidak pernah ada niatan untuk membawanya berkelana ke pekan raya film pendek atau mengomersilkannya melalui pemutaran-pemutaran. 

Kenangan seru yang tercetak pada satu dekade lampau ini lantas mengemuka kembali selepas aku menonton Petualangan Menangkap Petir garapan Kuntz Agus (#republiktwitter, Surga yang Tak Dirindukan) di bioskop. Film untuk konsumsi seluruh anggota keluarga ini menyoroti keseruan dibalik proses pembuatan sebuah film amatir berdurasi pendek. Saya menyebutnya amatir alasannya yaitu mereka yang terlibat sebagai kru dan pemain yaitu bocah-bocah SD yang belum pernah mempunyai pengalaman dalam menggarap film. Si empunya ide untuk mengkreasi film yaitu Gianto (Fatih Unru) atau biasa dipanggil Jayen yang mempunyai kecintaan amat besar terhadap film sampai-sampai dapat mengucap “film itu magis”. Dia melihat adanya kesempatan emas pasca ditugasi menemani Sterling (Bima Azriel), Youtuber cilik kenamaan, yang sedang berlibur ke rumah sang kakek (Slamet Rahardjo) di Desa Selo, Boyolali. Berbekal kamera yang dimiliki oleh Sterling dan didukung oleh beberapa teman sepermainan Jayen, keduanya pun menghabiskan liburan dengan menggarap film yang ide ceritanya terinspirasi dari legenda Ki Ageng Selo Sang Penangkap Petir. Turut membantu bocah-bocah ini merealisasikan mimpi mereka yaitu Arifin (Abimana Aryasatya) beserta Kriwil (Arie Kriting) yang berprofesi sebagai tukang video kawinan dan kerap mengadakan pemutaran layar tancap bagi warga setempat. 

Sebagai seseorang yang telah dibentuk kesengsem oleh film sedari kelas 1 SD dan pernah mencicipi impian menggebu-nggebu untuk menciptakan film kemudian jadinya kesempatan itu tiba menghampiri, menonton Petualangan Menangkap Petir terang menyenangkan. Membangkitkan segala kenangan yang ada mengenai masa kecil (tujuan utama aku sedari cilik setiap kali mengunjungi suatu kota: bioskop) dan pengalaman pertama saat menggarap film. Kesenangan itu turut timbul berkat menyaksikan interaksi antar pemain yang jenaka dan hangat. Barisan pemain cukup umur ibarat Putri Ayudya sebagai Beth, ibu Sterling yang kelewat protektif terhadap putranya sampai-sampai kolam ‘villain‘ bagi film ini, beserta Slamet Rahardjo sebagai kakek yang bijaksana, memang bermain apik. Tapi bintang bahwasanya dari Petualangan Menangkap Petir yaitu pemain ciliknya, khususnya Fatih Unru dan Bima Azriel. Fatih Unru tampil seolah tanpa beban sebagai Jayen yang penuh dengan semangat, penuh dengan mimpi, dan pantang mengalah pada keadaan sekalipun mempunyai latar belakang keluarga yang kurang beruntung, sementara Bima Azriel yang dikisahkan serba berkecukupan cenderung mempunyai pembawaan lebih kalem dan muram karena keinginannya seringkali tak sejalan dengan kemauan ibunya. Perkenalan Sterling dengan Jayen ini lantas membawanya pada satu titik balik yang menyadarkannya mengenai keberanian untuk memperjuangkan mimpi. 
Perjuangan dalam menggapai mimpi dimanifestasikan dalam rangkaian adegan yang menawarkan kegigihan Jayen beserta konco-konconya kala menjalani tahapan syuting meski rintangan acapkali menyambut mereka. Entah itu berwujud kecelakaan, atau paling sering yaitu Beth yang melarang Sterling untuk bikin film alasannya yaitu dianggapnya tidak aman. Disamping dua rintangan tersebut, tak ada perkara lebih mendesak yang menghiasi film alasannya yaitu kontradiksi antara Sterling dengan Beth merupakan konflik terbesar yang dicetuskan oleh duo penulis skenario, Jujur Prananto dan Eddie Cahyono, untuk Petualangan Menangkap Petir. Hubungan antara para bocah dengan Arifin-Kriwil yang sebelumnya alot mencair secara cepat, kemudian perkara keluarga Jayen yang sejatinya menarik pula untuk dikulik hanya dicelotehkan sambil lalu. Tak mengherankan, ada kalanya film berjalan dengan datar alasannya yaitu penonton tidak mendeteksi adanya pertaruhan yang aktual di sini. Hanya ada Beth sebagai penghalang, itupun ia ‘menghilang’ di pertengahan durasi dan konflik dengan putranya sangat gampang untuk diselesaikan di penghujung film yang sekaligus menekankan pesan terbesar film ini yang (anehnya) cenderung ditujukan kepada penonton dewasa. Penonton pun jadinya diminta memaklumi, status Petualangan Menangkap Petir sebagai film untuk segala umur membatasinya dalam menggulirkan narasi yang lebih padat. Mengingat aku cukup bersenang-senang bersama Jayen dan genk, kemudian kecintaan pada film cukup tergambarkan di sini, maka aku pun tidak terlalu ambil pusing meski tadinya aku berharap film ini dapat semengikat Koki-Koki Cilik yang telah tetapkan standar bagi film anak masa kini.

Acceptable (3/5)