October 23, 2020

Review : Pintu Harmonika


“Segala sesuatu niscaya ada pecahan susahnya, tapi harus kita lewati.”

Tentu masih segar di ingatan Anda bagaimana ketiga sutradara laki-laki pendatang gres meracik sebuah hidangan dengan tiga cita rasa berbeda di awal tahun ini melalui 3SUM. Sajian yang tidak jauh berbeda kembali hadir di pertengahan tahun dimana untuk sekali ini, giliran para perempuan yang unjuk kemampuan. Terdiri atas Ilya Sigma (penulis skrip Catatan Harian Si Boy), Luna Maya (aktris Bangsal 13, Jakarta Undercover), dan Sigi Wimala (aktris Tentang Dia, Rumah Dara), film omnibus dengan tajuk Pintu Harmonika yang idenya lahir dari Ginatri S. Noer dan Clara Ng ini pun mengusung konsep dimana tiga segmen dalam film mengusung genre yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Dibuka dengan dongeng cukup umur yang manis nan ceria, film lantas menuju ke arah yang lebih serius dalam drama keluarga yang menguras emosi dan diakhiri melalui sebuah dongeng yang penuh misteri. Ketiga jalinan dongeng yang tidak berkaitan ini lantas disatukan oleh sebuah bingkai dongeng wacana keluarga, cinta, dan kehidupan. 

Segmen pertama yaitu ‘Otot’ yang digarap oleh Ilya Sigma. Penonton diperkenalkan kepada pasangan ayah dan anak, Firdaus (Donny Damara) dan Rizal (Fauzan Nasrul), dengan kekerabatan yang lebih ibarat sahabat ketimbang ayah anak. Melalui sosok Rizal, Ilya Sigma dan sang penulis skrip, Piu Syarif, sedikit banyak menyentil wacana what-so-called ‘selebtweet’ dimana demi menjaga eksistensi maka segala yang ditumpahkan di media jejaring sosial dipenuhi dengan topeng, permakan dan bumbu-bumbu penyedap sehingga realita yang sesungguhnya mengabur. Apakah benar apa yang selama ini kita baca di linimasa atau blog merefleksikan kehidupan ‘selebtweet’ ini yang sesungguhnya? Hmmm… pikir ulang. Dengan Rizal berhasil menggaet Cynthia (Karina Salim), maka dusta pun kian menjadi-jadi. Demi meraih ketenaran yang bersifat sesaat (serta para gadis, tentu saja) inilah, Rizal merelakan hubungannya dengan sang ayah merenggang. Sebagai segmen pembuka, ‘Otot’ sanggup mencuri perhatian dengan segala keriangan dan romantisme manis khas cukup umur Sekolah Menengan Atas yang menghiasinya – bahkan, ada sisipan adegan tari serta nuansa musikal di dalamnya – namun tetap mempunyai sisi serius yang mengandung pesan penting mengenai kejujuran. Segmen ini menjadi kian hidup berkat chemistry padu antara Fauzan Nasrul dengan Donny Damara dan Karina Salim. 
Setelah bersenang-senang di segmen pertama, penonton lantas digiring menuju ke arah yang lebih serius dalam ‘Skors’ kode Luna Maya. Kita diperkenalkan kepada Juni (Nasya Abigail) dan ayahnya, Niko (Barry Prima), yang berada dalam kekerabatan yang rumit. Juni merasa Niko terlalu sibuk dengan urusannya sehingga tidak mempunyai waktu untuk dirinya. Rasa kecewa yang mendalam dilampiaskan oleh Juni dengan cara melaksanakan tindakan ‘bully’ di sekolah. Surat skors untuk Juni pun dilayangkan yang membuatnya mempunyai waktu ekstra untuk lebih jauh mengenal pribadi sang ayah serta serangkaian permasalahan yang melingkupinya. Praktis sekali untuk jatuh cinta dengan segmen yang skripnya ditulis oleh M. Rino Sarjono ini terlebih problematika yang dihadapi oleh dua tokoh utama di sini bersahabat dengan realita kehidupan di sekitar; ayah yang kaku dengan anak cukup umur yang labil secara emosi. Tidak adanya keterbukaan satu sama lain ditambah komunikasi yang kurang intens, malah cenderung adem ayem, menjadi faktor utama kekerabatan yang tidak serasi dalam keluarga. Luna Maya sanggup mengemas info serius dalam ‘Skors’ ini sebagai sebuah sajian yang emosional, personal, menyentuh, sekaligus luar biasa mengena tanpa pernah jatuh ke dalam dramatisasi yang berlebihan. Pujian pun patut disematkan kepada Barry Prima yang bisa merasuk dengan cemerlang ke dalam abjad Niko yang kaku, begitu pula dengan Nasya Abigail sebagai putri dengan emosi yang labil. Saya sanggup terhubung dengan mereka, merasa peduli dengan apa yang mereka alami. 

Menginjak segmen ‘Piano’ yang disutradarai oleh Sigi Wimala, hadir suasana yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Apa yang dituturkan di sini yaitu seputar kekerabatan seorang single mother yang membuka perjuangan toko kue, Imelda (Jenny Zhang), dengan putra semata wayangnya yang tengah berlatih piano, David (Adam Putra Pertama). Tidak ada yang salah dengan kekerabatan mereka – berlangsung serasi dan manis – sampai serentetan insiden asing yang terjadi dalam rumah mereka memperlihatkan tanggapan atas apa yang sesungguhnya terjadi. Yang menimbulkan segmen epilog yang skripnya dikreasi oleh Bagus Bramanti ini memikat yaitu penampilan ‘powerful’ dari Jenny Zhang sebagai seorang single mother yang ringkih dan kesepian serta bagaimana cara Sigi Wimala secara perlahan-lahan membangun tensi ketegangan. Dengan nuansa ruko yang senantiasa misterius dan muram, perasaan sedikit tak nyaman pun hinggap. Setelah muncul satu dua keanehan, sebetulnya gampang untuk menebak ke arah mana film akan bermuara. Tapi… dalam perjalanannya, sang pembuat film membelokkan kemudi ke arah yang berbeda dan tidak disangka-sangka. Dan inilah yang menjadi ‘twist’ sesungguhnya! Sebuah keputusan yang terbilang berani. Dan, well… bisa jadi akan membagi penonton dalam dua kubu yang berbeda – suka atau benci. 
Salah satu yang menarik dari Pintu Harmonika yaitu bagaimana setiap sutradara memanfaatkan sosok pintu harmonika dalam ruko tersebut sebagai metafora atas apa yang terjadi dalam segmen masing-masing dimana pintu dibuka secara bahu-membahu pada awal dan simpulan segmen yang kemudian menuntun penonton kepada bermacam-macam interpretasi dan (mungkin) diskusi. Pada intinya, ini yaitu dongeng yang merangkai cinta, keluarga, dan kehidupan (utamanya wacana menghadapi rasa takut) menjadi satu kesatuan. Tiga sutradara perempuan pendatang baru; Ilya Sigma, Luna Maya, dan Sigi Wimala, ini berhasil menghantarkan wangsit yang sejatinya sederhana ke dalam bahasa gambar yang penuh kepekaan, emosional, mengena, menyentuh, menyenangkan, sekaligus manis. Tatkala konflik utama yang lantas dikedepankan berwujud ‘everybody’s story’, maka film lantas pula menjadi personal – setidaknya bagi sebagian orang. Didukung formasi pemain yang memainkan tugas dengan mengagumkan, ditambah pula dengan sinematografi anggun serta musik skoring dan soundtrack yang menyatu dengan film, Pintu Harmonika menjadi sebuah permulaan yang sangat baik untuk karir penyutradaraan ketiga sutradara perempuan ini. Film yang bagus!

Exceeds Expectations