October 21, 2020

Review : Pitch Perfect 2


This could very well be the greatest conflict between America and Germany in our nation’s history! 

Bagi kau yang membiarkan jilid pertama Pitch Perfect berlalu begitu saja sebab menganggapnya tidak lebih dari film musikal arif balig cukup akal biasa yang mengekor ketenaran Glee, well… itu artinya salah satu film komedi terbaik dalam satu dekade terakhir telah kau lewatkan. Jangkauan nada tingginya paripurna – kalau mengikuti istilah dalam film, aca-awesome! – memberi kita adukan merata antara deraian gelak tawa bercita rasa renyah dengan senandung tembang-tembang easy listening yang dikurasi secara cermat. Menontonnya sekali hanya akan membuatmu kecanduan untuk menjajalnya sekali lagi, dan sekali lagi. Dampaknya, Pitch Perfect semakin riuh dipergunjingkan meski telah turun dari layar bioskop bahkan single Cups (When I’m Gone) pun ikutan menjadi hits. Dengan popularitas yang kian menanjak mirip ini, maka tidak mengherankan Universal Pictures memberi lampu hijau untuk Pitch Perfect 2. Demi merasakan kesuksesan serupa, tim dari film pertama kembali direkrut dengan formula yang dipergunakan tidak jauh berbeda namun skalanya diperbesar mengikuti tradisi sekuel. Hasilnya? The Barden Bellas are back, pitches! 

Menyandang gelar tiga kali juara nasional dalam kompetisi grup a capella, reputasi membanggakan The Barden Bellas ini mendadak tercoreng seketika karena satu insiden konyol. Bukan sekadar memuntahi penonton mirip halnya di film pertama, melainkan wardrobe malfunction yang menjadikan terpampangnya kemaluan Fat Amy (Rebel Wilson) di hadapan Presiden Obama… bahkan seluruh masyarakat Amerika Serikat! Persoalan ini berbuntut pada dilarangnya Bellas untuk mengikuti bermacam-macam kompetisi dan merekrut personil baru. Satu-satunya cara supaya eksekusi ini terlepas dari Bellas yaitu memenangkan kejuaraan dunia a capella yang sebelumnya belum pernah sekalipun berpihak kepada tim Amerika Serikat. Perjuangan untuk membersihkan nama baik ini tidak lantas berjalan gampang bagi Bellas ketika disadari bahwa perlahan tapi niscaya mereka mulai kehilangan identitas sebagai Bellas ketika tampil, fokus Beca (Anna Kendrick) terpecah dengan pekerjaan magangnya, dan tim pesaing dari Jerman, Das Sound Machine, berusaha sekuat tenaga menghalang-halangi langkah Bellas untuk merebut gelar dari tangan mereka. 

Pitch Perfect 2 menjabarkan kepada penonton definisi dari kata ‘mengasyikkan’. Jika film pertama diibaratkan mahasiswa gres yang masih malu-malu (katakanlah, jaim) dalam melontarkan kelakar sebab takut menerima label kurang mengenakkan hati dari senior, maka jilid kedua ini selayaknya mahasiswa tingkat simpulan yang tidak lagi menyimpan rasa sungkan sebab memegang prinsip nothing to lose. Ciptakan pengalaman tidak terlupakan selagi masih merasakan kursi kuliah, kurang lebih mirip itu. Dalam kamus Elizabeth Banks – menjabat pula sebagai pemain, memerankan komentator sarkastis berjulukan Gail – yang mengemban kiprah menggantikan posisi Jason Moore, itu berarti tabrak saja garis pembatas yang menghalangimu untuk gila-gilaan. Semenjak menit pembukanya yang kocak (oh, bumper Universal Pictures disini pun sangat menarik. Jangan terlambat masuk gedung bioskop!), Banks membawa kita pada kesenangan demi kesenangan yang melaju begitu cepat tanpa pernah mempunyai momen-momen yang menyebabkannya melelahkan. Seolah-olah kita tengah menghadiri pesta meriah yang di dalamnya dipenuhi camilan-camilan lezat, tamu-tamu seru, dan tuan rumah ramah. Fun, fun, fun! 

Dan ya, soal bergembira ria, Pitch Perfect 2 memang melampaui pencapaian dari sang predesesor. Pengarahan dinamis dari Banks menciptakan penampilan dari setiap grup a capella – khususnya Bellas dan Das Sound Machine – terasa lebih bertenaga. Entah itu ketika tampil di program khusus sebagai ajakan dengan sekali ini dilengkapi koreografi tari menghentak, duel dalam riff-off yang mengundang cukup banyak tawa (salah satu serpihan terbaik dari film), hingga performa puncak di World Championship Finale yang memberi sensasi megah selayaknya tengah menyaksikan konser musik. Bulir-bulir air mata juga sedikit mengalir di titik puncak film sebab Banks tak saja memvisualisasikan penampilan terakhir Bellas sebelum wisuda ini secara meriah melainkan juga indah menyentuh hati. Pemilihan tembang-tembang pengisi yang dilantunkan oleh para grup pun sudah selayaknya memperoleh acungan dua jempol. Tidak kalah keren dari film pertama – mewakili generasi 80’an hingga generasi YouTube – menciptakan diri ini senantiasa ikut bersenandung sekaligus membangkitkan hasrat untuk berkaraoke. Dari Wrecking Ball, Lollipop, Uprising, Thong Song, Jump, versi gres Cups (When I’m Gone), We Belong, Run the World (Girls), hingga gongnya di Flashlight yang menjadi lagu tema dari Pitch Perfect 2

Menariknya, Pitch Perfect 2 tidak semata-mata soal kompetisi. Di sela-sela itu, kita juga dihadapkan pada problem cinta membingungkan Fat Amy dengan kekasihnya, Bumper (Adam DeVine), karena Fat Amy enggan berkomitmen, upaya Beca mengikuti keadaan dalam lingkungkan kerjanya di studio rekaman yang keras, dan paling memikat, ketakutan anggota Bellas untuk menapaki kehidupan gres selepas kuliah dipicu oleh satu pertanyaan klasik, “apa yang akan kau lakukan seusai wisuda?.” Jika kau pernah berada (atau malah ketika ini sedang berada) di fase tersebut, adegan curhat api unggun di bumi perkemahan akan terasa relatable. Naskah energik rekaan Kay Cannon menampung sederetan konflik ini – masih ditambah problematika mempersiapkan kompetisi akbar – dengan cukup baik yang lantas dihidupkan oleh permainan charming dari para pelakon di film khususnya Anna Kendrick, Rebel Wilson, dan Hailee Steinfeld yang memerankan anggota gres Bellas, Emily. Walau memang ada kalanya mencuat kesan terlalu penuh di sisi penceritaan, tetapi sulit untuk mengeluh ketika Banks memberimu banyak kegembiraan di Pitch Perfect 2. Ya, Pitch Perfect 2 memang feel-good movie banget, atau mudahnya semacam mood booster. Ada rasa senang yang muncul seusai menontonnya. Melampaui jilid pertamanya, Pitch Perfect 2 sajikan gelaran hiburan yang lebih besar, lebih meriah, lebih lucu, dan lebih gila-gilaan. It hits all the right notes. Aca-awesome! 

Note: Sebaiknya kau tidak terburu-buru meninggalkan gedung bioskop ketika credit title mulai mengular. Ada bonus adegan sangat kocak dengan sejumlah cameo yang tersembunyi di sela-sela.

Outstanding