October 21, 2020

Review : Pixels


“Pac-Man’s a bad guy?” 

Sebagai seseorang yang menggemari karya-karya Adam Sandler sebelum kurun Jack & Jill (I know, I am in the minority here), mendengar kabar sang pelawak mengambil kiprah di sebuah film berpremis unik “bagaimana jadinya bila bumi diserang oleh alien berbentuk huruf dari permainan dingdong (arcade games)?” yang materinya dijumput dari film pendek memikat rekaan Patrick Jean merupakan kebahagiaan tersendiri. Ada keinginan mengapung Adam Sandler akan bangun dari keterpurukan terlebih film bertajuk Pixels ini dikomandoi Chris Columbus (dua jilid pertama Harry Potter dan Home Alone) yang telah terbukti mempunyai jam terbang tinggi di area fantasi keluarga serta diciptakan sebagai surat cinta bagi budaya terkenal kurun 1980’an yang menjadi zona kekuasaan Sandler. Selain itu, nostalgia ke video game lawas di Wreck-It Ralph tiga tahun silam juga membuahkan segudang puja-puji, jadi apa yang dapat salah dari ini? Jawabannya hanya ada satu: ketidakpekaan Adam Sandler yang masih kekeuh bertahan di zona nyamannya. 

Mengubur dalam-dalam mimpinya untuk berkecimpung secara profesional di dunia video game usai kekalahan menyakitkan yang diterimanya dalam kejuaran dunia arcade games di tahun 1982, Sam Brenner (Adam Sandler) yang sekarang menjalani profesi sebagai petugas instalasi alat elektronik harus kembali berhadapan dengan masa lalunya sehabis sobat karibnya, Will Cooper (Kevin James), yang juga orang nomor satu di Amerika Serikat memberinya kepercayaan untuk terjun ke medan perang. Bukan peperangan biasa, tentu saja, sebab lawan yang dihadapi oleh penduduk bumi yakni sekumpulan huruf game ikonis yang dikenal Sam sangat baik hanya saja sekali ini Pac-Man is a bad guy. Mengingat keselamatan planet ini menjadi taruhannya, maka Sam tidak memerangi Pac-Man dan konco-konco sendirian. Dia memperoleh bala dukungan dari Kolonel Violet van Patten (Michelle Monaghan) yang mempunyai love-hate relationship dengan Sam, seorang mitra lama yang jenius Ludlow (Josh Gad), dan musuh turun-temurun Sam dari kejuaraan, Eddie Plant (Peter Dinklage). 
Memperoleh respon masbodoh dari para penonton sejak Jack & Jill, Pixels yang mempunyai modal dongeng menarik seharusnya menjadi momen tepat bagi Adam Sandler untuk meninjau ulang karir keaktorannya kemudian membenahinya. Perolehan dollar telah berkata, masyarakat telah mulai jenuh dengan gaya berkelakar Sandler yang seolah jalan di daerah tanpa penemuan berarti sedari dua dasawarsa silam. Menggandeng Tim Herlihy, penulis skrip langganan Sandler, untuk membidani penceritaan Pixels, tampak terang bintang film jebolan Saturday Night Live ini masih berusaha keras ‘to make it happen’. Lihat saja contoh penceritaan pada Pixels yang masih berkutat pada seorang pecundang tanpa keinginan yang jatuh cinta pada wanita cantik, lantas tiba-tiba ada satu insiden penting yang menjadi titik balik bagi kehidupannya, dan pada akhirnya… happily ever after! Ya, sekalipun ditangani oleh Chris Columbus, Pixels masih melantunkan kisahnya ibarat film-film Sandler terdahulu hanya saja sekali ini sudah terasa melelahkan, usang, dan kadar kelucuannya jauh berkurang – meski well, aku masih menyukai humornya yang sarat acuan ke budaya populer. 
Dengan interaksi tanpa rasa antar para pelakonnya – sayang sekali Peter Dinklage (Game of Thrones) dan Josh Gad (hey, ia Olaf dari Frozen!) gagal bersinar – maka Pixels terancam berakhir ibarat halnya beberapa film terakhir Sandler yang cenderung gampang dilupakan, kecuali… film ini masih menjadi nostalgia ke video game masa kecil yang mengasyikkan. Walau memang tingkat kesenangannya tidak mencapai tahapan ibarat pertama kali menengok versi film pendeknya, tapi melihat Pac-Man yang menjadi jahat menggila di New York (bahkan tak segan-segan melukai kreatornya!), pasukan militer memberondong tembakan ke arah Centipede yang meliuk-liuk ganas di atas Hyde Park, bangunan apartemen dihancurkan oleh Tetris, Taj Mahal diporakporandakan Arkanoid dalam salah satu momen terlucu pada film, sampai momen puncak yang melibatkan Donkey Kong lengkap dengan tong andalannya menggelinding cepat, sulit dipungkiri membangkitkan jiwa anak kecil pada diri yang bersemangat menyaksikan karakter-karakter game idola beraksi. Kapan lagi coba dapat melihat kehebohan reuni dari permainan 8 bit di layar lebar?

Acceptable