July 2, 2020

Review : Pokemon: Detective Pikachu


“I don’t need a Pokemon. Period.”

“Then what about a world class detective? Because if you wanna find your pops, I’m your best bet.”

Apakah ada diantara kalian yang semasa kecilnya terobsesi dengan Pokemon? Mantengin setiap episode dari versi animenya yang tayang saban hari Minggu pagi, hafal diluar kepala setiap spesies berikut kekuatan-kekuatannya (dan juga lagu temanya!), hingga berharap bisa mengakibatkan instruktur Pokemon sebagai profesi utama. Adakah? Jika ada, well, berarti kita sama. Pokemon ialah penggalan dari masa kecil saya dan pada masa itu, diri ini benar-benar berharap bahwa mereka memang faktual adanya sehingga saya bisa melatih Charizard, Squirtle, Bulbasaur, Pikachu, maupun dua jenis Pokemon yang tak bisa diharapkan: Magikarp dan Psyduck. Sounds fun! Tapi seiring meredupnya popularitas anime ini di Indonesia karena jalan masuk televisi lokal memberhentikan penayangannya dan saya bukan pula seorang gamer sejati, ikatan dengan Pikachu bersama kawan-kawannya pun perlahan mengendur. Tak lagi mengikuti perkembangannya, tak lagi mengenal para karakternya yang semakin bejibun (versi game sendiri sudah mencapai generasi ke-7!). Saya hanya sesekali mendengar nama ini disebut tatkala muncul versi terbaru dari game dan film animasinya yang masih sangat terkenal di Jepang. Hubungan dengan para monster menggemaskan yang terputus ini lantas mengalami rekonsiliasi ketika Nintendo membuat gebrakan dengan meluncurkan edisi anyar berbasis augmented reality yang memungkinkan pemegang ponsel cerdas ikut bermain tanpa harus mempunyai konsol gim tertentu, yakni Pokemon Go. Keberadaan judul ini menguarkan aroma nostalgia berpengaruh yang lalu dimanfaatkan secara berakal oleh Warner Bros. untuk melepas Pokemon dalam format film layar lebar berdasar salah satu judul permainan bertajuk Detective Pikachu.

Berbeda dengan 20 judul lain dalam franchise ini yang menapaki jalur animasi, Pokemon: Detective Pikachu aba-aba Rob Letterman (Shark Tale, Goosebumps) menjejakkan kakinya di ranah live action dan sepenuhnya memakai obrolan bahasa Inggris alasannya ialah bagaimanapun juga ini ialah produk Hollywood. Mengikuti bahan sumbernya, Pokemon: Detective Pikachu pun menempatkan Tim Goodman (Justice Smith) dan Detektif Pikachu (disuarakan oleh Ryan Reynolds) sebagai huruf utama penggagas narasi. Kasus yang mereka tangani ialah menilik perkara maut ayahanda Tim, Harry Goodman, dalam sebuah kecelakaan kendaraan beroda empat yang misterius. Tim yang berasal dari kota kecil ini mulanya tak berniat untuk mencari tahu penyebab maut sang ayah alasannya ialah mereka berdua mempunyai relasi yang buruk. Namun selepas Tim berjumpa dengan reporter magang, Lucy Stevens (Kathryn Newton), yang menaruh kecurigaan terhadap perkara tersebut dan Pikachu bertopi yang ternyata merupakan rekan Harry, Tim pun merubah tujuannya ke Ryme City dari awalnya hendak mengambil barang-barang peninggalan Harry menjadi menguak perkara kecelakaan ini. Terlebih lagi, Detektif Pikachu yang ditemui Tim bukanlah pokemon biasa alasannya ialah beliau bisa berkomunikasi secara lisan dengan Tim serta mempunyai kemampuan berpikir diatas rata-rata. Keahlian Detektif Pikachu dalam bersilat pengecap sanggup meyakinkan Tim bahwa Harry belum tewas ibarat diyakini oleh banyak orang dan beliau sedang bersembunyi di suatu tempat. Dalam upaya keduanya melacak keberadaan Harry, mereka mendapati serentetan fakta mengejutkan yang menawarkan wajah bersama-sama dari Ryme City yang tampak bersahabat.


Sebagai seseorang yang pernah mempunyai ikatan berpengaruh dengan franchise ini, menyaksikan Pokemon: Detective Pikachu di layar lebar rupanya bisa menghadirkan pengalaman menonton yang menggembirakan. Betapa tidak, kau bisa berjumpa kembali dengan sederet pokemon kesayangan yang sekali ini dikreasi memakai CGI dan bersliweran di sepanjang durasi. Tiba-tiba saya menjadi seorang fanboy yang kegirangan bisa melihat Charmander (bahkan saya punya panggilan kesayangan untuknya yakni kucer), Pidgeoto, Mr. Mime, Jigglypuff, Snorlax, Eeve, dan masih banyak lagi. Sungguh membangkitkan kenangan masa kecil. Terlebih lagi, huruf Tim pun dikisahkan mempunyai mimpi menjadi pokemon trainer yang lalu dipupuskannya alasannya ialah satu dan lain hal. Just like me. Ya, bagi seseorang yang menggemari Pokemon, Detective Pikachu memang tidak sulit untuk disukai meski faktor pemicunya hanyalah nostalgia. Tapi bagaimana dengan mereka yang masih ajaib atau hanya mengerti satu dua mengenai dunianya si Pika Pika? Well, saya bisa memastikan, kau masih akan bisa menikmatinya. Memang betul Letterman beserta para penulis skrip tidak menjabarkan secara detil mengenai world building alasannya ialah mereka meyakini publik telah mengetahuinya. Kita hanya diberikan informasi mengenai Ryme City yang dideskripsikan sebagai sebuah kota dimana insan dan pokemon hidup berdampingan sehingga pertarungan pokemon pun dinilai sebagai kegiatan ilegal. Namun informasi tersebut bisa dibilang sudah lebih dari cukup untuk membawa penonton awam terhanyut ke dalam tontonan yang memberi hamparan visual mengagumkan ini sampai-sampai muncul impian untuk mengunjungi Ryme City.

Detective Pikachu sendiri menawarkan fase terbaiknya di separuh durasi awal dikala elemen misteri masih mendominasi, sekalipun nada penceritaan yang gelap ala Blade Runner agak mengkhawatirkan bagi penonton cilik. Pada titik ini mencuat rasa ingin tau dipicu oleh perkara yang ditangani oleh duo huruf utama, muncul pula rasa gemas melihat para pokemon wara-wiri di aneka macam sudut kota, serta hadir juga ketertarikan kepada dua protagonis yang memberi interaksi asyik: Detektif Pikachu dan Tim. Walau awalnya terasa janggal di indera pendengaran mendengar Pikachu berbicara (apalagi memakai bunyi si Deadpool yang gambaran nakalnya sudah kedarung melekat!), Ryan Reynolds bisa menghadirkan kejenakaan, energi serta emosi ke dalam bunyi si tikus listrik berwarna kuning ini sehingga tak membutuhkan banyak waktu untuk jatuh hati kepada huruf yang disuarakannya. Harus diakui, beliau ialah salah satu hal terbaik yang dimiliki oleh film. Itulah mengapa dikala beliau mangkir dari layar barang sejenak, film mendadak mengalun secara gontai. Seolah-olah tak mempunyai tenaga. Ironisnya, inilah yang menimpa menit-menit terakhir yang sepenuhnya beralih ke mode sabung dimana gegap gempita seharusnya mewarnai dan momen titik puncak semestinya memberi tendangan kuat. Pemicunya ialah keputusan si pembuat film untuk mereduksi posisi si huruf tituler demi memberi ruang kepada Tim-Lucy yang nyaris tak mempunyai chemistry untuk unjuk gigi. They’re boring couple! Yang lalu menyelamatkan babak pamungkas dan membuat Detective Pikachu tetap terasa nikmat untuk disantap sebagai menu hiburan pelepas penat ialah Psyduck yang dijuluki “bom” oleh Pikachu. Bersama dengan Pikachu dan Mr. Mime, Psyduck mempersembahkan sejumlah momen yang membuat saya tertawa terpingkal-pingkal selama menonton dan membuat saya kembali teringat mengapa saya begitu menyayangi huruf angsa polos ini.

Exceeds Expectations (3,5/5)