October 21, 2020

Review : Poltergeist


“They’re here.” 

Sekalipun cukup sering didaulat sebagai salah satu film memedi terbaik, sejatinya Poltergeist versi Tobe Hooper yang rilis 33 tahun silam bukanlah sajian yang menyeramkan… well, setidaknya bagi saya. Ketimbang menciptakan diri ini bergidik ngeri, meringkuk tak berdaya di kursi, atau bahkan memekik takut yang merupakan efek masuk akal dari menonton film di lajur horor, Poltergeist sekadar memberi sensasi tegang atas serunya jalinan penceritaan selayaknya film fantasi untuk keluarga. Tidak pernah lebih dari itu. Jika ada yang lantas menciptakan Poltergeist tampak mengerikan, itu berkat dongeng menggemparkan di balik layar mengenai kutukan yang menimpa pemain dan kru. Maka ketika wangsit pembuatan ulang dicetuskan dengan Sam Raimi menduduki dingklik produser (menyenggol Steven Spielberg), dahi ini pun mengernyit. Apa yang akan dibubuhkan pada versi anyar untuk membuatnya tampil menggigit mengingat Poltergeist terperinci telah kehilangan kadar keseramannya apabila ditonton bertahun-tahun sesudah rilis? Itulah kiprah besar yang menanti sang sutradara, Gil Kenan (Monster House). 

Tidak ada perubahan signifikan dari sisi pengisahan – malah sanggup dibilang serupa dengan versi orisinil – masih berkisar ihwal roh jahat yang mengganggu ketentraman hidup sebuah keluarga di rumah baru. Usai kehilangan pekerjaan, Eric Bowen (Sam Rockwell) memboyong istri, Amy (Rosemarie DeWitt), dan ketiga anaknya ke pinggiran kota untuk menempati hunian gres yang didapat dengan harga terjangkau. Hanya sesaat sesudah mereka mendiami rumah tersebut, bermacam-macam kejanggalan mulai menampakkan diri terutama paling dirasakan oleh Griffin (Kyle Catlett) yang seringkali melaporkan adanya ketidakberesan kepada kedua orang tuanya. Awalnya menganggap keluhan Griffin tidak lebih dari sekadar ocehan manja, Eric dan Amy lantas dikejutkan fakta dari bisak-bisik tetangga bahwa rumah mereka dibangun di atas lahan kuburan. Gangguan demi gangguan yang menimpa keluarga Bowen ini mencapai puncaknya ketika si anak bungsu, Madison (Kennedi Clements), terseret masuk ke dunia arwah. 
Tanpa ada perombakan berarti, Poltergeist milik Kenan ini mempunyai bahasa gambar begitu serupa dengan sang pendahulu. Kesetiaan ini akan menciptakan sebagian orang menyebutnya malas terlebih penemuan pun minim diberikan – selain pembiasaan teknologi mengikuti zaman, ibarat penggunaan drones, ponsel cerdas, dan penggantian televisi tabung ke layar datar – sementara sebagian lain menjulukinya sebagai penghormatan terhadap versi asli. Dimanapun keberpihakanmu, satu hal pasti: ibarat halnya kepunyaan Hooper, Poltergeist gubahan Kenan ini pun sulit untuk dikatakan sebagai tontonan menakutkan. Tidak peduli seberapa banyak jump scares dengan skoring nyaring khas film horor murahan yang telah disisipkan, Poltergeist masih kesulitan untuk menciptakan saya terlonjak tampan. Boneka-boneka dan badut di kamar Griffin memang mempunyai tampilan creepy, tapi itu yakni satu-satunya komponen dalam film yang memperlihatkan sensasi merinding. Selebihnya, Kenan lebih suka memacu adrenalin penonton melalui gelaran agresi yang menghadapkan kita pada perasaan berdebar-debar. 

Apakah ini sesuatu yang buruk? Tidak juga. Walau kadar teror dari atmosfir tak mengenakkan semakin berkurang disini menyusul keputusan Kenan membawa mood film ke arah lebih light, Poltergeist tetap sanggup terhidang sebagai tontonan hiburan yang mengasyikkan. Setidaknya, Kenan berhasil membawa kita melewati fase menghela nafas panjang, harap-harap cemas, seraya berteriak gregetan kepada satu dua karakter, “jangan kesana! Jangan kesana!” dengan sesekali diselingi humor-humor renyah pengundang tawa. Beruntungnya, Poltergeist pun diberkahi barisan pemain dengan performa mumpuni, termasuk para pemain pendukung, yang sanggup meniupkan chemistry meyakinkan sebagai satu keluarga. Harus diakui, inilah energi utama kepada film. Karakter yang sangat gampang didukung – sulit untuk membenci keluarga Bowen dan para ‘pengusir hantu’ – menciptakan penonton sedikit banyak merasa terlibat ke dalam penceritaan sehingga meski terornya tidak menyeramkan dan polesan efek khususnya sedikit menggelikan, tetap ada alasan untuk menikmati Poltergeist. Lagipula, laju pengisahannya juga tidak pernah membosankan… and it’s a good thing.

Acceptable