October 25, 2020

Review : Premium Rush


“I like to ride. Fixed gear. No brakes. Can’t stop. Don’t want to, either.” – Wilee

Terburu-buru mencari pom bensin terdekat untuk mendapat ‘Premium’. Itulah inti kisah dari… film yang tengah diputar di pikiran aku ketika ini. Ha, tentu saja Premium Rush tidaklah berkisah seputar seseorang yang kebingungan mencari premium karena tangki bensin mobilnya sudah berada dalam tahapan kritis sementara beliau tengah dikejar ‘deadline’ untuk merampungkan sebuah misi maha penting. Istilah ‘Premium Rush’ disini berarti bayaran perhiasan untuk kurir sepeda apabila bisa merampungkan pekerjaannya secara cepat dan tepat. Dengan mengambil seting New York City, film besutan David Koepp ini mencoba menunjukkan sebuah ketegangan yang berbeda untuk Anda. Apabila selama ini adegan kejar-kejaran dalam film agresi yang kerap Anda saksikan melibatkan kendaraan bermotor macam mobil, taksi, bis, atau motor, maka di sini, Anda akan melihat sepak terjang dari pesepeda. Atau tepatnya, para kurir di ‘The Big Apple’ yang memakai sepeda sebagai alat transportasi. Bisa Anda bayangkan betapa menegangkannya melihat para penggowes mengebut kencang di jalanan New York yang super padat dengan taksi dan pejalan kaki dimana-mana. Salah sedikit saja perhitungan, sanggup berakibat fatal. 
Wilee (Joseph Gordon-Levitt) memakai peta di ponsel cerdasnya untuk melacak lokasi tujuan yang dengan bergaya diwujudkan dalam bentuk animasi 3D. Mengadopsi style Guy Ritchie dari dwilogi Sherlock Holmes dimana seni administrasi Sherlock untuk beberapa detik ke depan ditampilkan dalam slow motion, Koepp pun menghadirkannya dalam cara yang kurang lebih sama namun Wilee mendapat lebih banyak opsi dengan durasi ‘premonition’ lebih pendek serta tampilan grafis berbentuk garis marka. Untuk kejadian yang terjadi di dalam film ini sendiri sesungguhnya hanya memakan waktu kurang lebih dua jam, terhitung semenjak pengiriman pertama di awal film. Di beberapa adegan, Koepp menyisipkan flashback guna mengatakan informasi perhiasan untuk penonton. Apa yang menjadi inti problem di Premium Rush sesungguhnya sangat sederhana, bila tidak mau disebut klise. Wilee yang disebut kurir sepeda terbaik oleh mantan kekasihnya, Vanessa (Dania Ramirez), mendapat kiprah untuk menghantarkan sebuah paket diam-diam dari Nima (Jamie Chung) dalam bentuk amplop. Tipis dan ringan, seakan bukan benda yang penting. Akan tetapi, sesuatu yang terlihat kecil dan seakan bukan ancaman, malah menciptakan Wilee mengalami hari terberat sepanjang karirnya sebagai kurir. 
Setelah trend panas berakhir, bioskop mulai kekeringan stok film agresi yang memacu adrenalin. Terakhir, penonton disuguhi pertarungan Alice dengan para zombie bandel yang tentu sudah Anda ketahui sendiri bagaimana pendapat aku mengenai film ini dari review yang telah aku publish beberapa hari lalu. Beruntung masih ada semangat dan impian di genre lain sehingga langkah kaki ke bioskop pun tak terhenti. Setelah minggu-minggu yang berjalan dengan damai, muncul Premium Rush. Anda yang mengharapkan sebuah tontonan dengan kedalaman kisah serta banyak sekali kesempurnaan nyaris di semua lini, maka film ini bukanlah pilihan yang tepat. David Koepp hanya ingin mengajak Anda bersenang-senang, mengitari kota New York dengan adrenalin yang terus terpompa sepanjang film. Sungguh sebuah film yang seru, menyenangkan, dan menegangkan. Yang membuatnya sedap untuk disantap, Koepp tidak memergunakan layar hijau atau memaksimalkan polesan CGI demi menghadirkan sajian yang ‘wah’ di mata namun terasa kosong tak meninggalkan kesan. Para pemain terjun pribadi melaksanakan ‘bicycle chase scene’ sehingga terasa lebih nyata. Plot boleh saja tidak istimewa dan telah berulang ditemukan di film lain, namun kecermatan Koepp dalam mengolah agresi bertensi tinggi, penampilan apik Joseph Gordon-Levitt dan Michael Shannon yang menciptakan aku ingin menonjoknya serta tampilan grafis yang unik, menciptakan film ini asyik untuk dinikmati. Penonton sanggup mencicipi sensasi dari sepeda yang melaju kencang di keramaian kota tanpa dilengkapi dengan rem di Premium Rush. Mendebarkan.

Exceeds Expectations