October 24, 2020

Review : Prometheus


“Big things have small beginnings.” – David

Perkenalkan, Adam Prakasa atau @dwiadam nama yang dipilihnya untuk digunakan di Twitter. Dia ialah mahasiswa kedokteran bertubuh tinggi gempal yang menggemaskan sehingga aku sering memanggilnya ‘Paman Gembul’. Beberapa dari Anda mungkin sudah mengenalnya dengan cukup baik, meski aku yakin sebagian besar dari Anda gres sekali ini mendengar namanya. Sampai disini, Anda tentu bertanya-tanya, “apa yang sangat Istimewa dari sosok Dwiadam sehingga Cinetariz merasa perlu memerkenalkannya di awal review ‘Prometheus’?”. Well, yang perlu Anda ketahui, Dwiadam hanyalah mahasiswa biasa yang sangat menggemari film menyerupai saya, ia bukanlah seorang publik figur maupun selebtwit, tidak ada yang khusus dari dirinya, kecuali… Dia ialah penggemar fanatik franchise Alien. Silahkan saja tanyakan apapun wacana franchise itu kepadanya, khususnya apabila bersinggungan dengan Ellen Ripley (Sigourney Weaver) atau heroine. Saya bahkan menaruh curiga ia merupakan bab dari tim marketing di 20th Century Fox. Sejak proyek Prometheus diumumkan, Adam nyaris tidak pernah bolos untuk memperlihatkan perkembangan terbaru seputar proyek ini. Ketika balasannya Prometheus rampung dan siap rilis di bioskop-bioskop seluruh dunia, setiap hari setiap jam setiap menit setiap detik, Dwiadam berkicau mengenai Prometheus. Aktifkan fitur ‘mute’ bila sudah tidak tahan. 

Pada awalnya, aku tidak terlalu menantikan Prometheus. Alien dan Aliens ialah film yang nyaris tepat ditilik dari banyak sekali sisi, sementara sekuel dan spin-off-nya sama sekali tidak penting. Kekecewaan terhadap 4 film sebelumnya membuat aku cenderung skeptis terhadap jilid teranyar ini sekalipun kicauan Dwiadam yang bersifat persuasif bekerjsama membuat aku sedikit terpengaruhi untuk mengintip ada apa saja di jilid teranyar ini. Yang kemudian membuat aku tertarik untuk segera menjajalnya ialah tatkala mengetahui Ridley Scott akan kembali duduk di kursi penyutradaraan, 33 tahun sesudah Alien rilis. Dan, jajaran pemainnya pun menggoda. Segera saja Prometheus masuk ke dalam jajaran ‘kuda hitam’ untuk Summer Movies 2012. Pertanyaan yang seringkali diapungkan menjelang detik-detik perilisan ialah apakah Prometheus ini ialah sebuah sekuel, prekuel, reboot atau spin-off? Anda harus menyaksikannya sendiri untuk mengetahui jawabannya meskipun Scott telah menekankan bahwa ini ialah sebuah film yang bangun sendiri. Saya setuju dengan Ridley Scott untuk hal ini. Anda tidak perlu menyaksikan semua film yang tergabung dalam Alien franchise sebelum menyaksikan film ini, walaupun akan lebih baik bagi Anda dalam memahami film apabila telah menyaksikan Alien. 

Dengan adegan pembuka yang layaknya adonan antara The Tree of Life dan 2001: A Space Odyssey – yang itu berarti indah dan mencengangkan – Prometheus berjalan cukup lambat selama kurang lebih satu jam pertama. Jon Spaihts dan Damon Lindelof mengajak penonton untuk membahas sebuah topik yang berat, hakikat eksistensi manusia. Sebuah topik yang nampaknya akan menjadi target empuk bagi FPI apabila diterapkan dalam film Indonesia karena memertanyakan Tuhan sebagai pencipta manusia. Provokatif. Ditemukannya sebuah peta formasi bintang pada tahun 2089 oleh dua arkaeologis, Elizabeth Shaw (Noomi Rapace) dan Charlie Holloway (Logan Marshall-Green), di Isle of Skye mendorong CEO Weyland Corp. yang ambisius, Peter Weyland (Guy Pearce), untuk membentuk sebuah tim ekspedisi dengan misi untuk mengungkap misteri seputar awal mula kehidupan manusia. Sekali ini bukan Nostromo yang digunakan untuk mengangkut para kru, melainkan Prometheus. Selain Shaw dan Holloway, turut bergabung bersama mereka yakni Meredith Vickers (Charlize Theron), Janek (Idris Elba), dan sebuah robot dengan emosi layaknya insan yang kompleks, David (Michael Fassbender). Penonton mulai mendapat teror yang sesungguhnya sesaat sesudah Prometheus mendarat di LV 223 dan mendapati kenyataan sesungguhnya mengenai Sang Pencipta. 

Dengan desain poster berupa pahatan besar angker berbentuk kepala, penonton awam yang tidak tahu menahu soal film ini bisa jadi akan melontarkan komentar-komentar seperti, “film yang absurd”, “apa sih maunya film ini?”, atau “jelek, aksinya kurang”. Saya mendengarnya beberapa kali usai menonton Prometheus. Bukan sesuatu yang mengherankan mengingat film ini mempunyai plot yang terbilang rumit, dialog-dialog filosofis, serta alur yang bergerak cukup lambat setidaknya di paruh awal. Kemunculan angin puting-beliung secara mendadak memperlihatkan petunjuk kepada penonton bahwa Scott telah siap untuk meningkatkan tensi film. Inilah yang ditunggu-tunggu semenjak awal film. Teror yang mencekam pun melingkupi kapal Prometheus. Singkirkan Alien dan Aliens dari pikiran Anda, maka ketegangan yang ditawarkan oleh Scott disini akan memuaskan Anda. Selama Anda tidak menaruh ekspektasi yang terlampau tinggi, Prometheus akan mampu membuat Anda kagum. Yang menjadikannya kian lezat, Prometheus didukung oleh visualisasi yang memukau dan akting dari para pemainnya yang ciamik; Noomi Rapace mampu keluar dari bayang-bayang Sigourney Weaver dengan membuat dinamika sendiri untuk karakternya, Charlize Theron hambar dan misterius, dan Michael Fassbender selalu berhasil menjadi sentra perhatian di setiap scene-nya. Sayangnya, tak semua pertanyaan yang muncul bertahap bermunculan seiring berjalannya film dijawab secara memuaskan oleh Scott. Masih ada yang mengganjal di hati. Apakah ini berarti akan ada sebuah sekuel? Bisa jadi. Pun begitu, terlepas dari naskahnya yang meninggalkan cukup banyak lubang, Prometheus masih bisa tertambal dengan tampilan visual yang menakjubkan, agresi yang menghibur serta akting brilian dari ketiga pemain utamanya. Dan apabila sesudah menonton Prometheus Anda masih belum paham, silahkan layangkan pertanyaan kepada ahlinya, @dwiadam.

Exceeds Expectations

2D atau 3D? Wajib ditonton dalam 3D. Titik.