October 31, 2020

Review : Radio Resah Fm


Kenapa ya cewek itu terlihat lebih elok ketika beliau udah bukan milik kita lagi ?” – Bara 

Ada apa dengan galau? Mengapa kata yang satu ini bisa sedemikian populernya di kalangan generasi nunduk? Apa yang membuatnya Istimewa sampai nyaris di setiap ucapan, terselip kata yang satu ini? dan yang lebih penting, apa bekerjsama definisi yang sempurna dari galau? Baiklah, saya akan membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia dan mengubek-ubek banyak sekali laman di dunia maya untuk mencari tahu definisi dari galau, kata terpopuler di tahun 2010’an. Tik tok, tik tok *satu jam kemudian…* Baiklah, sehabis saya membaca kamus secara intensif dan berselancar di dunia maya selama kurang lebih satu jam, karenanya saya menemukan pengertian galau. Galau mempunyai arti sibuk beramai-ramai, sangat ramai, dan berkacau tidak karuan. Jadi, sanggup disimpulkan menurut kamus, seseorang yang sedang bingung yaitu seseorang yang dalam keadaan atau pikiran yang tidak karuan. Kacau. Sumpek. Dilema. Jika dikaitkan dengan film Radio Galau FM, maka bingung yang dimaksud berkaitan bersahabat dengan problematika asmara. 
G-word ini sejatinya bukanlah sesuatu yang gres di industri hiburan. Sejumlah lagu telah mempergunakannya. Namun bingung gres menemukan ketenarannya ketika laman jejaring sosial yang memungkinkan penggunanya untuk terus berkicau digemari oleh masyarakat. Selebritis dunia maya mengapungkannya kembali. Segera saja, publik mengikuti. Memanfaatkan momentum, lahirlah sebuah akun berjulukan Radio Galau FM yang mengkhususkan untuk berkicau perihal kegalauan dalam hal asmara, sebuah topik yang gampang menggaet perhatian remaja. Setelah berhasil mengumpulkan pengikut sampai mencapai ratusan ribu, versi buku pun segera diluncurkan, dan tidak perlu menunggu usang untuk melihatnya diterjemahkan ke dalam bentuk visual. Yang beruntung mendapat kesempatan untuk mengolah naskah versi film dari radio yang senantiasa bingung ini yaitu Haqi Ahmad, penulis skenario muda berbakat yang juga menggarap naskah versi film dari fenomena Twitter lainnya, Poconggg Juga Pocong. Kali ini beliau bekerja sama dengan Iqbal Rais. Mengumpulkan barisan pemain berwajah segar, Radio Galau FM, secara mengejutkan, lebih sedap untuk disantap ketimbang si Poconggg. 
Jalan ceritanya klise. Anda bisa menemukannya dengan gampang di FTV yang tayang saban hari, seputar kisah cinta segibanyak di kalangan pelajar yang mengenakan seragam putih abu-abu. Bara Mahesa (Dimas Anggara) yang bermimpi menjadi penulis, tengah galau. Hingga tahun keduanya di SMA, belum ada gadis yang nemplok padanya (Kayak nyamuk aja, nemplok…). Sang abang dengan tingkah lakunya yang luar biasa ajaib, kerap meledeknya. Meski diberkahi wajah yang rupawan, Bara tetap menghabiskan malam Minggunya di dalam kamar, duduk menghadap layar laptop, dan mengejar mimpinya menjadi penulis. Tak sekalipun berkencan. Segalanya berubah ketika seorang adik kelas berjulukan Velin (Natasha Rizki) mengajaknya berkenalan. Dari yang awalnya malu-malu meong, secara perlahan Bara dan Velin menjadi semakin lengket. Muncullah percikan asmara. Bara memberanikan diri untuk menyatakan cintanya pada Velin sehabis beberapa hari hubungan mereka tiada kejelasan. Velin menerima. Bersama Velin, Bara memasuki hidup gres yang penuh warna, indah dan menyenangkan. Kegalauan Bara berakhir… hanya untuk sementara. Setelah memasuki bulan kedua, mulai terlihat peringai orisinil masing-masing. Velin tidak lagi gadis manis yang polos dan ceria. Bara gerah. Di ketika hubungan mereka memburuk, hadir Diandra (Alisia Rininta). Bara menyebabkan Diandra sebagai pelarian, padahal beliau dan Velin masih belum putus. Nah lho! 

Di bawah penanganan Iqbal Rais, kisah klise perihal sejumlah ABG yang bingung sebab cinta tidak terkesan murahan. Sekalipun jalan dongeng semacam ini sudah berulang kali ditampilkan, namun beliau sanggup mengemasnya dengan menarik hati sehingga penonton betah untuk duduk di dingklik bioskop sampai film berakhir. Konfliknya mengalir masuk akal tidak berlebihan, dan humor serta situasi kocak yang disajikan pun bisa mengundang tawa renyah tanpa perlu mengambil jalur slapstick. Yang menyebabkan Radio Galau FM lebih bersinar ketimbang kisah Poconggg yang abstrak yaitu para pemainnya yang bisa bermain apik, tak hanya menjual tampang belaka. Dimas Anggara, Alisia Rininta, dan Indri Giana boleh saja berusaha keras untuk menarik perhatian penonton, akan tetapi Natasha Rizki yang ekspresif, senantiasa mencuri perhatian setiap kali beliau tampil. Jengkel melihat kelakuannya yang manja dan penuntut, namun iba ketika Bara meminta putus kepada Velin. Sulit untuk menyangkal bahwa gadis ini mempunyai bakat. Saya pun ingin tau dengan peran Natasha Rizki berikutnya di dunia akting. Yang cukup saya sayangkan, sepanjang film, penonton tidak diberi tahu latar belakang Velin dan Diandra, semuanya perihal Bara. Andaikan para huruf pendukung ini diberi porsi lebih, film akan menjadi lebih menarik. Radio Galau FM memang bukanlah film romansa dari Indonesia yang termanis tahun ini, namun yang jelas, merupakan salah satu yang menghibur. Setidaknya isi filmnya tidak seburuk desain posternya.

Acceptable