July 2, 2020

Review : Rafathar


“Ini bukan bayi biasa. Ini bayi mutan, Bos.” 

Ada satu film keluarga dari periode 90-an yang rutin ditayangkan beberapa bulan sekali oleh salah satu televisi swasta tanah air berjudul Baby’s Day Out (1994). Dalam film tersebut, kita melihat serentetan kekonyolan yang dialami sejumlah pelaku tindak kriminal jawaban dipecundangi seorang bayi yang mereka culik dari keluarga kaya. Guliran penceritaan kurang lebih senada bisa dijumpai pula dalam film tabrak berbumbu komedi Rob-B-Hood (2006) yang dibintangi Jackie Chan dan film komedi romantis Demi Cinta (2017), produksi MNC Pictures dimana para penculik malah dibentuk jatuh hati kepada si bayi. Dari ketiga film tersebut, bisa ditarik benang merah bahwa pekerjaan menculik bayi dalam film fiktif yang sepintas tampak sangat gampang dihukum rupanya jauh lebih memusingkan dari yang perkirakan. Percobaan terbaru dalam menjalankan misi ‘menculik bayi’ dilakukan oleh Raffi Ahmad dan Nagita Slavina dalam Rafathar (2017) yang konon dibentuk sebagai kado ulang tahun bagi putra tercinta mereka, Rafathar Malik Ahmad. Bekerjasama dengan Umbara bersaudara; Bounty sebagai sutradara sementara Anggy di dingklik produser, Rafathar dikreasi sebagai film tabrak komedi yang dibutuhkan bisa menghibur seluruh anggota keluarga. Berhasilkah? 

Rafathar berkisah mengenai sepasang perampok profesional berjulukan Jonny Gold (Raffi Ahmad) dan Popo Palupi (Babe Cabita) yang ditugaskan oleh atasannya, Bos Viktor (Agus Kuncoro), untuk menculik seorang bayi, Rafathar (Rafathar Malik Ahmad), yang diadopsi oleh pasangan kaya, Mila (Nur Fazura) dan Bondan (Arie Untung). Seperti halnya para penculik di film-film yang telah disebutkan di atas, Jonny beserta Popo pun menganggap sepele kiprah ini. Apa sih yang mungkin merepotkan dari menculik bayi? Yang tidak mereka antisipasi, Rafathar yaitu bayi yang amat aktif serta memiliki kekuatan telekinetik yang memungkinkannya mengendalikan logam dengan mudah. Alhasil, Jonny dan Popo kelimpungan dalam menangani Rafathar. Ini masih belum ditambah mereka harus menghadapi kejaran dari Detektif Julie (Nagita Slavina) yang dipercaya orang bau tanah angkat Rafathar untuk menilik tuntas perkara penculikan sang buah hati ini dan Kolonel Demon (Verdi Solaiman) yang menyimpan agenda terselubung dibalik niatnya membantu Mila beserta Julie dalam menemukan Rafathar. Ditengah-tengah segala kekacauan, perlahan tapi niscaya Rafathar mulai mencuri hati kedua penculiknya sehingga Jonny dan Popo pun belakangan tetapkan untuk menyelamatkan Rafathar dari cengkraman Bos Viktor. 


Bagai mengombinasikan Baby’s Day Out dan Rob-B-Hood, Rafathar sejatinya terdengar menjanjikan di atas kertas. Konsepnya tergolong segar untuk ukuran film petualangan keluarga dari tanah air yang acapkali bercerita perihal petualangan para bocah di dalam hutan seakan-akan hanya itu yang bisa diceritakan. Namun besarnya potensi yang dimiliki oleh Rafathar pada alhasil berakhir sebatas potensi ketika beberapa dilema menghalangi film produksi RNR Movies dan Umbara Brothers Film untuk berkembang lebih jauh. Persoalan terbesar pertama yang menghinggapi Rafathar yaitu bahan humornya yang (maaf beribu maaf) tidak lucu. Beberapa diantaranya memang masih bisa menciptakan saya menyunggingkan senyum terutama ketika melibatkan Agus Kuncoro yang memakai banyak logat dan Babe Cabita yang bolak-balik amnesia, tapi sebagian besar diantaranya memiliki daya bunuh yang lemah. Terasa mentah kala dilontarkan sampai-sampai galau hendak bereaksi menyerupai apa. Mengingat secara fitrah Rafathar yaitu sebuah film komedi, ketidaksanggupan dalam menghadirkan derai tawa terang suatu perkara apalagi film ini banyak bergantung pada dagelan dan pemakaian CGI untuk mengalirkan kisah ketimbang mengandalkan kekuatan naskah serta akting pemain. Alhasil, film seringkali hampa dan masbodoh untuk diikuti sehingga durasi 90 menit pun terasa sangat panjang. 

Belum lagi, pemakaian CGI dalam Rafathar termasuk dilema terbesar kedua yang menghinggapi film. Berulang kali muncul tanpa esensi terang dan terlampau dipaksakan yang malah mengekspos kelemahannya. Tampak sangat kasar. Adegan ondel-ondel raksasa maupun mengejar-ngejar Rafathar yang berlangsung di dalam rumah, apartemen, hingga jalanan memang tergarap cukup baik. Tapi lain halnya ketika kita membicarakan soal robot berwujud ATM dan kulkas serta klimaksnya yang menciptakan kepala berdenyut-denyut pusing. Apabila bujet dan waktu tidak memadai untuk memvisualisasikannya, bukankah lebih bijak kalau adegan disederhanakan saja tanpa harus didorong-dorong biar tampil bombastis? Penggunaan CGI kurang matang sedari pertengahan hingga babak ketiga ini sejujurnya sangat mengganggu kekhidmatan menonton alasannya yaitu kita seakan-akan tengah menyaksikan film yang belum tuntas. Kekhidmatan menonton juga terganggu karena Rafathar berada di posisi serba tanggung. Mau menyasar penonton segala usia kok plotnya terlalu njelimet buat kanak-kanak dan humornya seringkali nyerempet. Namun di sisi lain, mau mengambil hati penonton usia belasan ke atas, terbentur oleh kombinasi antara plot kurang mengikat, kelakar garing, dan CGI kasar. Alhasil, (lagi-lagi) Rafathar seringkali hampa dan masbodoh untuk diikuti sehingga durasi 90 menit pun terasa sangat panjang. Sungguh sangat disayangkan. 

Ulasan ini bisa juga dibaca di http://tz.ucweb.com/8_QZYd

Poor (2/5)