July 3, 2020

Review : Ralph Breaks The Internet


“All friendships change. But the good one, they get stronger as they change.” 

Rasa-rasanya tidak banyak yang mengira bahwa Wreck-It-Ralph (2012) akan menjadi tontonan keluarga yang sangat menyenangkan buat disimak. Penonton diajak menjelajah dunia arcade game yang sudah semakin ditinggalkan, kemudian disodori visual berwarna-warni, rangkaian cameo dari permainan terkenal di masa lampau, serta guliran pengisahan yang penuh lelucon segar sekaligus bisa menonjok hati-hati sensitif. Kesuksesan yang direngkuhnya baik dari sisi finansial maupun kritikal, membawa sajian animasi produksi Walt Disney Animation Studios yang sempat karam kembali menjadi sorotan (terima kasih juga untuk Tangled, Frozen, Big Hero 6, serta Zootopia) sekaligus memberi kesempatan bagi Ralph si penghancur untuk mempunyai franchise-nya sendiri. Ya, pihak studio tidak berpikir panjang-panjang dalam memberi lampu hijau pada pembuatan sekuel Wreck-It-Ralph yang ternyata membutuhkan waktu sampai enam tahun untuk direalisasikan. Pemicunya, menentukan narasi yang cocok mengenai kelanjutan petualangan serta persahabatan antara dua outsider di dunia arcade game, Wreck-It-Ralph (John C. Reilly) dan Vanellope von Schweetz (Sarah Silverman), yang belakangan dielu-elukan sebagai pahlawan. Usai melewati banyak sekali fase pertimbangan sengit – konon ada tiga naskah yang menjadi kontender untuk difilmkan – sekuel bertajuk Ralph Breaks the Internet pun menentukan jalur pengisahan yang menempatkan persahabatan Ralph dengan Vanellope di ujung tanduk selepas mereka mengetahui adanya dunia gres yang kita kenal sebagai internet. 

Berlatar enam tahun selepas kejadian di film pertama, Ralph dan Vanellope kini menjadi sahabat baik yang tak terpisahkan. Dimana ada Ralph, disitulah kau akan menemukan Vanellope. Mereka senantiasa menghabiskan waktu bersama setiap hari utamanya usai ‘bekerja’ di arcade game masing-masing – entah nongkrong di atap apartemen, kedai minuman, atau stasiun penghubung antar game. Sepintas, tak ada yang salah dengan kehidupan mereka. Semuanya berjalan dengan normal serta hening sentosa mirip diperlukan oleh sebagian besar para penghuni arcade game… kecuali Vanellope. Ya, Vanellope menganggap rutinitasnya ini menjemukan sebab beliau tak lagi menemukan tantangan dalam pekerjaannya sebagai pembalap pendekar di Sugar Rush. Dia ingin sesuatu yang berbeda. Mengetahui sahabatnya bermuram durja, Ralph pun berinisiatif menawarkan ‘twist’ dalam permainan tersebut yang justru berdampak fatal dan mengancam kelangsungan Sugar Rush. Demi menyelamatkan pekerjaan sekaligus rumah bagi Vanellope beserta kawan-kawan pembalap lain, Ralph dan Vanellope pun nekat menjelajah internet. Mereka mesti menjangkau eBay yang konon menawarkan solusi atas permasalahan mereka. Mulanya sih tak ada kesulitan berarti bagi keduanya dalam menemukan kawasan ini kemudian mengklaim barang yang mereka butuhkan. Hanya saja, ketidaktahuan mereka mengenai ‘cara main’ di eBay mendatangkan dilema lain bagi dua sahabat ini yang memaksa Ralph dan Vanellope untuk menyelami internet lebih dalam sekaligus menguji persahabatan mereka.

Selaiknya sang pendahulu yang memberi banyak kesenangan di sepanjang durasi, Ralph Breaks the Internet pun meninggalkan sensasi senada seirama pada penonton. Mitos “sekuel akan kesulitan menandingi jilid pembuka” sekali lagi disanggah di sini dengan kemampuan duo kreator – Rich Moore dan Phil Johnston – dalam mengkreasi visual beserta jalinan pengisahan yang setara levelnya dengan Wreck-It-Ralph. Jika sang abang lebih banyak mengakomodir elemen nostalgia pada dunia arcade game (lengkap dengan cameo dari aksara game legendaris), maka sang adik ini mempunyai cakupan yang lebih luas karena merangkul fenomena dunia maya termasuk budaya populer. Sedikit banyak mengingatkan pada The Emoji Movie yang memvisualisasikan kehidupan di dalam ponsel genggam yang terkoneksi dengan internet, Ralph Breaks the Internet mempunyai penggambaran yang inovatif, penuh warna nan kompleks mengenai dunia maya yang diibaratkan kota besar berlalu lintas padat di masa depan (bayangkan saja film fiksi ilmiah yang mempunyai kendaraan beroda empat terbang). Para pengaksesnya diwujudkan dalam avatar yang berlalu lalang kolam warga kota yang sibuk atau turis, sementara setiap situs kenamaan di internet yaitu gedung-gedung pencakar langit yang mempunyai ciri khasnya masing-masing. Sebagai contoh, Instagram terlihat mirip museum yang koleksi lukisannya tersusun atas postingan para pengguna, Twitter menampilkan burung-burung sedang bercengkram di atas ranting, Oh My Disney menyerupai Disneyland (tentu saja!), dan eBay tak ubahnya kawasan lelang. Sungguh visualisasi yang amat kreatif, bukan? 

Saya tak sanggup menahan rasa takjub – terperangah dan geleng-geleng kepala – tatkala Ralph Breaks the Internet menghamparkan visual yang detil ini. Begitu banyak printilan-printilan yang akan menciptakan para pecandu dunia maya dan budaya terkenal kegirangan, bahkan besar kemungkinan kau tidak akan menjumpai seluruhnya hanya dalam satu pandangan (!). Yang juga membahagiakan, kecermatan dalam penggarapan animasi ini tak lantas mendistraksi si pembuat film dari sektor narasi. Penonton diupayakan sanggup memperoleh kenikmatan tak hanya untuk mata, tetapi juga untuk otak dan hati di sepanjang durasi. Guliran pengisahannya dirangkai dengan banyak sekali macam emosi yang melingkunginya: seru, lucu, serta haru. Seru menyaksikan petualangan Ralph bersama Vanellope dalam mengarungi internet guna merampungkan satu misi besar untuk “mendapatkan barang penting di eBay” yang turut membawa mereka memasuki game online sarat kekerasan, lucu melihat kekonyolan tingkah berikut celetukan-celetukan dari para aksara yang wara-wiri di film (paling membekas terang para putri dari film animasi Disney yang menyindir karakteristik tipikal mereka dan studio sebelah *cough*Pixar*cough), kemudian haru menyimak relasi naik-turun Ralph dengan Vanellope yang menghantarkan pesan tabiat mengenai persahabatan. Disamping soal “bagaimana seharusnya seorang sahabat bersikap?,” Ralph Breaks the Internet juga menyodorkan komentar sosial mengena wacana sikap di dunia maya termasuk cyber bullying. Oleh Yesss (Taraji P. Henson), mahir algoritma yang menentukan popularitas video di BuzzzTube, pesan ini ditekankan secara jelas: caramu memanfaatkan internet memperlihatkan jati dirimu yang bergotong-royong lebih-lebih kalau kau menggunakannya untuk menebar kebencian. Sebuah pesan yang tentunya relevan di kala ketergantungan teknologi (dan internet) mirip kini ini.

Note : Ralph Breaks the Internet mempunyai dua bonus adegan yang terletak di sela-sela dan penghujung end credit. Plus, ada bonus video klip.

Outstanding (4/5)