October 27, 2020

Review : Rampage


“It’s weird you like hanging out with animals more than people.” 

“Well, animals gets me.” 

Wahai generasi 80 dan 90-an yang gemar memainkan konsol permainan, apakah kalian masih ingat dengan sebuah video game berjudul Rampage? Itu lho, permainan yang misi utamanya menghancur-hancurkan gedung bertingkat. Ingat, kan? Kita berubah menjadi menjadi monster raksasa berbentuk gorila, kepiting, tikus atau binatang buas lainnya akhir terpapar serum eksperimen. Aturan mainnya pun sederhana saja. Seraya menghindari tembakan-tembakan dari pihak militer kalau ingin nyawa tetap utuh, kita mesti ulet memporakporandakan seisi kota demi mengumpulkan poin. Kalau perlu, manusia-manusia pengganggunya dimakan juga! Menilik betapa mudahnya (dan serunya) memainkan game ini, tidak mengherankan kalau kemudian Rampage terbilang terkenal di kalangan khalayak ramai sampai-sampai pihak Midway Games merilis beberapa seri kelanjutan. Dan menyerupai kebanyakan video game terkenal, tidak mengherankan juga kalau kemudian ada petinggi studio di Hollywood yang meliriknya untuk diubahsuaikan ke film layar lebar. Demi merealisasikan Rampage versi layar lebar ini, maka duo Brad Peyton (sutradara) dan Dwayne Johnson (aktor) yang sebelumnya berkolaborasi untuk meluluhlantakkan pesisir barat Amerika Serikat dalam San Andreas (2015) pun direkrut. Tugas mereka sekali ini yaitu mentranslasi kehancuran total yang dimunculkan versi game ke dalam tontonan popcorn yang bisa melepas kepenatan penonton. 

Dalam Rampage versi film, sosok monster yang mengamuk hebat di tengah kota bukan lagi insan yang terpapar serum salah uji melainkan binatang-binatang buas. Salah satu korbannya yaitu seekor gorila albino berjulukan George yang mendiami San Diego Zoo. George tertimpa kemalangan selepas sebuah stasiun luar angkasa milik Energyne meledak dan meluncurkan serum berbahaya berjulukan CRISPR ke beberapa titik di Amerika Serikat, termasuk daerah George bermukim. Reaksi dari serum ini terpampang faktual hanya dalam waktu semalam saja yang ditandai dengan ukuran badan si gorila yang membesar secara tidak wajar. Hal ini tentu mengejutkan andal primata sekaligus sahabat baik George, Davis Okoye (Dwayne Johnson), lebih-lebih sebab sahabatnya tersebut mampu menumbangkan beruang grizzly dengan mudah. Ditengah kebingungannya melihat perubahan fisik dan perilaku dari George yang mendadak, Davis menerima kunjungan dari seorang ilmuwan, Dr. Kate Caldwell (Naomie Harris), yang mengaku tahu mengenai akar permasalahannya sekaligus obat penawarnya. Sebelum rencana untuk menyelamatkan si gorila selesai disusun, George tiba-tiba menggila kemudian berkomplot dengan seekor serigala raksasa beserta buaya raksasa dan berlari menuju Chicago. Tujuan mereka sudah teramat jelas: menghancurkan gedung-gedung pencakar langit. Dibantu oleh seorang distributor pemerintah berjulukan Harvey Russell (Jeffrey Dean Morgan), Davis dan Kate harus berpacu dengan waktu untuk menghentikan George sebelum semuanya terlambat. 

Apabila kau pernah memainkan Rampage – kalaupun tidak, kau bisa menerkanya dari pembagian terstruktur mengenai di paragraf awal – tentu mengetahui bahwa inti dari permainan ini hanyalah menghancurkan gedung sebanyak mungkin. Smash, smash, smash. Tidak ada misi yang mengharuskannya mempunyai jalinan pengisahan (mencoba untuk) rumit dan diselaputi misteri. Kalaupun ada plot, itu sebatas latar belakang yang menceritakan perihal penyebab lahirnya monster-monster ini. Maka bisa dipahami kalau kemudian Rampage garapan Brad Peyton yang mengerahkan empat penulis skenario ini tidak mempunyai plot yang bergizi tinggi. Lagipula, apa kau benar-benar mengharapkan jalan dongeng yang tertata dengan baik dari sebuah film yang diubahsuaikan dari video game? Video game-nya perihal monster penghancur gedung pula. Plot di sini hanya berfungsi untuk menjustifikasi munculnya serentetan sekuens tabrak sehingga tidak terkesan ujug-ujug. Makara kau mesti membiasakan diri bakal mendapatkan ‘keajaiban’ dan ‘kekonyolan’ di sepanjang durasi Rampage yang bikin ngikik-ngikik geli di dingklik bioskop sebab memang, film ini tak pernah menganggap dirinya serius. Well, kau tentu tidak menganggap film yang menampilkan serigala terbang secara serius, kan? Tujuan utamanya hanyalah mengajak penonton bersenang-senang melalui spektakel yang gegap gempita. Spektakel seru yang mengajak penonton melupakan kepenatan hidup selepas dihajar pekerjaan di kantor atau usai menerima setumpuk kiprah kuliah dan sekolah. Dan menurut tujuannya tersebut, Rampage bisa dikatakan sukses. 

Rampage sendiri tidak menghabiskan banyak waktu untuk babak introduksi. Kita mendapatkan sekelumit klarifikasi mengenai CRISPR, berkenalan dengan George dan karakter-karakter insan menyerupai Davis, Kate, beserta duo villain dari Energyne, kemudian tanpa banyak basa-basi, konflik perlahan mulai mengemuka menyusul jatuhnya serum-serum dari luar angkasa. Selepas badan George membesar seketika yang membuat dirinya merasa tidak nyaman, kita mendapati rangkaian insiden yang menjabarkan definisi dari ‘seru’ dan ‘menyenangkan’. Kita melihat George membobol kandangnya, mengamuk hebat di pesawat yang mengangkutnya sehingga membuat kekacauan di udara, bergabung dengan rekan-rekan mutannya yakni Ralph si serigala yang sebelumnya telah menghabisi sejumlah pasukan khusus dan Lizzie si buaya yang mengintai dari bawah air, hingga alhasil yang telah kita nanti-nantikan selama durasi mengalun, memporakporandakan seisi Chicago. Menghancurkan gedung! Pertarungan antara monster dengan manusia! Pertarungan antara sesama monster! Woo hoo! Dihantarkan dengan laju pengisahan yang bergegas, mempunyai setumpuk sekuens tabrak dengan polesan imbas visual meyakinkan yang dilontarkan nyaris tanpa henti, dan disokong karisma Dwayne Johnson yang memancar berpengaruh sebagai pahlawan tangguh (dia memang cocok dengan kiprah semacam ini), Rampage berhasil membuat saya seakan-akan terikat dekat di dingklik bioskop. Tak jarang pula, film membuat saya kegirangan menyerupai bocah yang gres pertama kalinya memainkan Rampage. Sisipan humornya yang berfungsi untuk mencairkan ketegangan pun bekerja dengan cukup baik sehingga disela-sela situasi serba genting, kita masih bisa terkekeh-kekeh. Asyik!

Exceeds Expectations (3,5/5)