October 26, 2020

Review : Rayya Cahaya Di Atas Cahaya


“Pada balasannya setiap orang akan menyadari bahwa seluruh usianya habis hanya untuk memahami cinta yang sangat sedikit.” 

Seorang mitra pernah berkata kepada saya, “enak ya kalau punya duit segunung, bisa ngapa-ngapain. Pasti saya senang banget.” Dari pandangan dia, tolak ukur kebahagiaan seseorang sanggup dilihat menurut berapa banyak jumlah uang yang ia miliki ketika ini. Itu berarti, ia menentang pernyataan ‘money can’t buy happiness’. Hmmm… bila dipikir-pikir, apakah memang uang bisa membeli kebahagiaan? Bagi saya, ini kembali ke definisi ‘bahagia’ bagi masing-masing orang. Pernyataan ini pun bersifat relatif, sebagian kalangan mengiyakan, sebagian kalangan menolak untuk meyakininya. Saya eksklusif cenderung netral, tidak memihak keduanya. Namun saya pun tidak munafik bahwa hidup memang lebih terasa nyaman ketika ada uang di sisi kita. Tapi tentu saja, pernyataan tersebut tidak mempunyai makna sedangkal itu. Ada semacam materi untuk perenungan dari sebuah kalimat yang terdiri dari tidak lebih dari lima kata ini. Apabila Anda ingin merenunginya, menelusurinya lebih dalam, dan memelajarinya, ada baiknya Anda menyaksikan film terbaru besutan Viva Westi, Rayya Cahaya di Atas Cahaya. Sebuah film Indonesia yang sangat indah yang mengulik perjalanan seseorang yang mempertemukannya dengan jati dirinya yang bahu-membahu serta menemukan makna lain dari kebahagiaan. 
Sang tokoh utama yaitu Rayya (Titi Sjuman), aktris nomor satu di Indonesia yang labil, menyebalkan, dan senantiasa ingin dipahami. Benar-benar merasa perlu untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa ia yaitu seorang diva. Sapto (Sapto Soetarjo) dari administrasi Rayya merencanakan sebuah proyek pembuatan biografi sang diva. Dia mengutus Kemal (Alex Abbad) untuk memotret Rayya di aneka macam lokasi. Baru juga perjalanan dimulai, muncul konflik diantara mereka berdua yang berujung pada pemecatan Kemal. Rayya sendiri tengah dirundung kemalangan sehabis ia dicampakkan oleh kekasihnya, Bram (Rico Marpaung), yang ternyata rahasia telah menikahi wanita lain. Kegalauan inilah yang mengubah Rayya dari seorang diva labil biasa menjadi seorang drama queen sejati. Tidak ada yang bisa mengatasinya kecuali Arya (Tio Pakusadewo), seorang fotografer kawakan yang menggantikan posisi Kemal. Perjalanan yang awalnya tidak lebih dari sekadar sesi foto ini menjadi terasa lebih berharga sehabis Arya berhasil menciptakan Rayya perlahan-lahan membuka diri. Keakraban dengan cepat tumbuh sehabis Rayya mengetahui bahwa Arya juga mengalami problematika pelik terkait urusan asmara. Sosok Arya serta wong-wong cilik yang dijumpai selama perjalanan membuka mata Rayya dan memberinya pembelajaran hidup. Berkat mereka, Rayya tersadar bahwa kebahagiaan tidak melulu dari hal-hal yang besar yang seringkali penuh dengan kepalsuan. Hal-hal kecil yang seringkali kita anggap sepele pun bisa memperlihatkan kebahagiaan. Intinya, senang itu sederhana. 

Alih-alih menuturkan dongeng menggunakan bahasa informal ‘lo, gue’ yang santai, Rayya Cahaya di Atas Cahaya menentukan jalan untuk menggunakan bahasa formal, setidaknya dalam 40 menit pertama. Tidak hanya formal, tak jarang dialog-dialog olahan Emha Ainun Najib pun sangat puitis bernilai sastra tinggi. Sarat makna, dan juga sarat estetika. Lumayan menciptakan frustrasi memang, terutama bagi penonton yang terbiasa mendengarkan percakapan dengan bahasa yang lugas serta ‘to the point’. Cak Nun dan Viva Westi kerap berbasa-basi, bermain-main dengan kata. Saya pun sempat mengalami masa-masa dimana saya membutuhkan waktu yang cukup usang untuk mencerna ujaran para tokoh. Ada makna yang cukup dalam yang terkandung di dalamnya. Penonton diminta untuk berkontemplasi, atau menjadikannya sebagai materi diskusi yang menyenangkan bersama teman seraya menyeruput secangkir teh hangat. Apabila hanya bergantung pada kekuatan naskah semata, Rayya Cahaya di Atas Cahaya berpotensi terjemurus ke jurang kebosanan. 
Disinilah para pemain memegang peranan penting untuk menghidupkan film. Titi Sjuman dan Tio Pakusadewo memperlihatkan performa yang gemilang, terperinci bersinar sepanjang film, serta memperlihatkan chemistry yang kokoh. Hebatnya, tidak hanya mereka berdua yang berakting apik. Para bintang pendukung yang hanya kebagian jatah satu dua adegan, bermain total seakan-akan mereka menanggung beban berat layaknya pemain utama. Tim kasting terbukti jeli menentukan pemain. Tapi tentu saja, siapapun sulit untuk menyangkal bahwa kekuatan utama dari film ini terletak pada sinematografinya. Ipung Rachmat Syaiful berhasil mengabadikan gambar-gambar bagus di sepanjang pantura, Jogja, sampai Bali. Bidikan gambarnya menciptakan saya impulsif mengucap ‘Subhanallah’ berulang kali sepanjang film. Benar-benar memanjakan mata. Viva Westi patut bersyukur mempunyai jajaran pemain dan kru menyerupai ini. Rayya Cahaya di Atas Cahaya menjadi sebuah ‘comeback’ yang tepat bagi Viva Westi sehabis mengalami masa-masa suram dengan film berkualitas cetek. Dia berhasil menghadirkan sebuah film yang istimewa dengan isian berupa pembelajaran hidup serta sentilan-sentilan mengenai dilema sosial kehidupan.

Exceeds Expectations