October 19, 2020

Review : Rectoverso


“Apa yang harus terjadi, niscaya akan terjadi. Kadang-kadang pilihan terbaik yaitu menerima.” 

Tren film omnibus dan pembiasaan dari novel atau kumpulan dongeng laku di perfilman Indonesia masih belum akan berakhir dalam waktu dekat. Yang teranyar yaitu sebuah pembiasaan dari buku kumpulan dongeng (sekaligus album lagu) milik Dewi Lestari – atau yang dekat disapa Dee – bertajuk Rectoverso. Tidak menyerupai dwilogi Perahu Kertas yang jalinan kisahnya satu kesatuan utuh, Rectoverso – layaknya sumber aslinya – terbagi ke dalam lima kisah berbeda yang tidak mempunyai keterkaitan satu sama lain, kecuali sama-sama mengapungkan satu tema, cinta yang tak terucap. Diproduseri oleh Marcella Zalianty dan Eko Kristianto, kelima kisah tersebut dikomandoi oleh lima artis ternama yang untuk sekali ini menentukan untuk duduk di dingklik penyutradaraan. Nama-nama yang bersedia untuk bergabung antara lain Marcella Zalianty, Rachel Maryam, Cathy Sharon, Olga Lydia, serta Happy Salma. Kelima sutradara ini, sesuai dengan urutan, masing-masing membesut segmen ‘Malaikat Juga Tahu’, ‘Firasat’, ‘Cicak di Dinding’, ‘Curhat buat Sahabat’, serta ‘Hanya Isyarat’. 

Rectoverso tidak dikemas layaknya film omnibus kebanyakan dimana sebuah segmen dimulai dengan kemunculan judul serta sutradara, berkisah sampai tuntas, kemudian dilanjut ke segmen berikutnya. Begitu seterusnya sampai film berakhir, dan ada kalanya sebuah benang merah menampakkan diri di penghujung film. Rachel Maryam dan konco-konco mencoba pendekatan lain dengan mengadopsi gaya bertutur menyerupai Dilema yang menerapkan apa yang disebut ‘interwoven’. Melalui cara ini, setiap segmen tergabung menjadi satu seakan-akan satu kesatuan cerita, berjalan secara selang seling tanpa ada urutan tertentu, dan acak layaknya puzzle. Akan menjadi membingungkan bagi yang belum terbiasa, namun sehabis berhasil menerima, interwoven plot ini malah terasa lebih efektif dalam menghantarkan kisah. Ketimpangan kualitas tidak terlihat semencolok gaya kemas konvensional, dan mengingat Rectoverso menyajikan tema yang heartbreaking wacana cinta yang tidak bisa terucapkan, maka ketika film mencapai ‘gong’-nya, hati pun remuk secara bersamaan. Bertubi-tubi. Penonton tidak perlu mengkhawatirkan untuk menarik kembali air mata karena segmen berikutnya dingin alasannya seluruh titik puncak dihaturkan dalam waktu yang bersamaan. 
Sebelum saya mengulas lebih lanjut mengenai film ini, saya akan mengajak Anda untuk menyidik kisah dari setiap segmen. Film dibuka dengan segmen ‘Malaikat Juga Tahu’ yang bertutur mengenai Abang (Lukman Sardi), seorang penyandang autisme, yang jatuh cinta kepada Leia (Prisia Nasution), salah satu penghuni kos di rumah sang ibu (Dewi Irawan). Abang memendam perasaannya, tak pernah benar-benar bisa mengungkapkan, dan segalanya menjadi semakin rumit sehabis Leia menaruh hati kepada Hans (Marcel Domits), adik Abang. 
Berlanjut ke segmen berikutnya yakni ‘Firasat’ dimana kita berkenalan dengan Senja (Asmirandah) yang kerap kali mendapat firasat tak mengenakkan sebelum ditinggal pergi oleh orang terkasih. Setelah kehilangan sang ayah dan adik, Senja pun berusaha sekuat tenaga untuk memberi peringatan kepada Panca (Dwi Sasono) yang diyakini olehnya akan menghadapi tragedi yang merenggut nyawa. 
Beralih lagi ke segmen lain, ‘Cicak di Dinding’, yang mengajak kita untuk melongok ke dalam kisah Taja (Yama Carlos), seorang pelukis muda yang introvert, yang berjumpa dengan Saras (Sophia Latjuba), seorang perempuan berjiwa bebas. Perkenalan di antara mereka membawa kesan yang mendalam bagi keduanya sehingga mereka memutuskan untuk kembali bertemu yang sekali ini membawa hubungan mereka ke tingkatan lebih tinggi sehabis sebuah hubungan seksual. Harapan Taja untuk menjalani hidup bersama Saras pupus usai mendapati perempuan yang dicintainya itu menghilang dari kehidupannya begitu saja. 
‘Curhat buat Sahabat’ menjadi segmen keempat dalam film dimana Reggie (Indra Birowo) ditodong oleh sahabatnya, Amanda (Acha Septriasa), untuk mendengarkan curhatannya mengenai sang mantan kekasih. Bercerita panjang lebar, ngalor ngidul, kesana kemari, Amanda tak sedikit pun menyadari bahwa seseorang yang paling lapang dada mencintainya dan benar-benar ia butuhkan ketika ini yaitu sahabatnya sendiri, Reggie. 

Menjadi segmen terakhir, walau tidak pernah benar-benar menjadi penutup, yaitu ‘Hanya Isyarat’. Menghadirkan lima orang backpacker yang bertukar dongeng dan menyebarkan pengalaman hidup melalui sebuah permainan dalam suatu malam di kafe pantai. Salah satu diantara mereka, Al (Amanda Soekasah), belakang layar menaruh perasaan terhadap Raga (Hamish Daud) yang hanya bisa dikaguminya dari kejauhan dengan memandangi siluet punggungnya. 
Jadi, sehabis memaparkan sedikit banyak mengenai kisah dari Rectoverso, segmen mana yang terkuat di sini? Untuk itu, saya akan menjatuhkan pilihan kepada ‘Malaikat Juga Tahu’ dan ‘Curhat buat Sahabat’. Ya, kedua segmen ini yaitu yang paling berhasil dalam mengaduk-aduk emosi saya kala menyaksikan film ini di layar lebar. ‘Malaikat Juga Tahu’ menghadirkan permainan yang luar biasa mantap dari seorang Lukman Sardi. Bahkan saya berani mengatakan, ini yaitu akting terbaik dalam sepanjang karirnya. Prisia Nasution dan Dewi Irawan pun bisa mengimbanginya dalam sebuah adegan epilog yang mampu menciptakan hati ini hancur berkeping-keping dan air mata membasahi pipi. Marcella Zalianty benar-benar berhasil mengejawantahkan naskah sendu rakitan Ve Handojo ke dalam sebuah bahasa gambar yang elok namun mematahkan hati. Sebuah debut penyutradaraan yang menghentak dari peraih Citra untuk aktris terbaik di FFI 2005 melalui Brownies ini. 
Lalu, ada ‘Curhat buat Sahabat’ yang jalinan kisahnya, saya cukup yakin, sangat mewakili beberapa dari Anda. Apakah Anda mempunyai seorang sahabat yang sedemikian peduli dan perhatiannya terhadap diri Anda sehingga batasan antara sahabat atau kekasih menjadi kabur? Atau mungkin, Anda yaitu sang sahabat yang mencurahkan segenap perhatian namun tidak mendapat sedikitpun respon? Sebuah kisah yang sejatinya sangat sederhana dan gampang sekali ditebak kemana arahnya akan tetapi kedekatannya (atau justru kemiripannya) dengan apa yang kita alami serta penanganan yang sangat baik dari Olga Lidya mengakibatkan segmen ini terasa istimewa, manis, sekaligus menohok. Dan Acha Septriasa… lagi-lagi menciptakan saya jatuh cinta. Dia bermain sangat lepas di sini dan chemistry yang terjalin antara ia dengan Indra Birowo pun berada dalam komposisi yang sempurna tanpa pernah jatuh menjadi canggung atau berlebihan. 
Ini berarti menyisakan tiga segmen, yakni ‘Cicak di Dinding’, ‘Firasat’, dan ‘Hanya Isyarat’. Berbicara mengenai ‘Cicak di Dinding’, ini yaitu sebuah segmen yang elok dengan penampilan yang apik dari Yama Carlos, Sophia Latjuba, dan Tio Pakusadewo. Mengapungkan ilham dongeng yang terbilang paling berani ketimbang keempat segmen lain dengan bermain-main di area sampaumur yang bersinggungan dengan cinta, nafsu, dan seks. Penampilan segar Sophia Latjuba yang melaksanakan ‘comeback’-nya di sini sehabis belasan tahun menghilang dari dunia seni tugas di layar lebar merupakan highlight dari segmen ini. Lalu, ada ‘Firasat’ yang cukup menjanjikan di awal, namun perlahan-lahan menjadi kelewat melankolis, dan kesudahannya diakhiri dengan penyelesaian yang menciptakan saya benar-benar mengerutkan dahi. Beruntung sekali Rachel Maryam mempunyai Asmirandah, Dwi Sasono, dan Widyawati yang bermain cukup apik sehingga sedikit banyak turut mengatrol segmen ini secara keseluruhan. Dan, segmen terakhir yaitu ‘Hanya Isyarat’ garapan Happy Salma yang dihaturkan dengan serangkaian obrolan yang sangat puitis dan dipenuhi metafora. Akan menjadi sangat membosankan, melelahkan, dan memusingkan bagi sebagian penonton, namun sebaliknya bisa menjadi sajian yang mengasyikkan bagi sebagian penonton lain yang menggemari sebuah hidangan penuh muatan filosofis di dalamnya. Sebuah konklusi yang menyakitkan, akting elok dari jajaran pemainnya, serta iringan lagu dari Drew menjadi nilai jual lebih untuk segmen ini. 
Apakah ini saatnya bagi saya untuk memperlihatkan kesimpulan? Baiklah, saya akan menyampaikan kepada Anda bahwa saya sangat menikmati Rectoverso, terlepas dari segala kekurangan yang menyertainya. Ini yaitu sebuah film yang dengan bermacam-macam rasa dan warna di dalamnya, but mostly, cantik, manis, pahit, serta menyentuh. Sebuah tontonan yang indah, tapi di ketika bersamaan, merobek hati. Kelima sutradara pendatang gres ini telah memperlihatkan sebuah langkah awal yang sangat menjanjikan, khususnya Marcella Zalianty dan Olga Lidya dengan segmen ‘Malaikat Juga Tahu’ dan ‘Curhat buat Sahabat’ yang luar biasa menawan. Kecakapan mereka dalam mengarahkan mendapat santunan yang solid dari Yadi Sugandi dengan sinematografinya yang teramat sangat cantik, editing jago dari Cesa David Lukmansyah dan Ryan Purwoko sehingga kontinuitas perpindahan setiap segmen terjaga dengan rapi, skoring indah dari Ricky Lionardi, serta tentunya jajaran pemainnya yang rata-rata bermain dengan sangat cemerlang. Sungguh sebuah hidangan yang memuaskan. Anda pun sebaiknya tidak melewatkan yang satu ini.

Exceeds Expectations