October 20, 2020

Review : Resident Evil: Retribution


“My name is Alice, and this is my world.” – Alice

Apakah Anda pernah menyaksikan sebuah film agresi dengan gelaran tendangan, tembakan, dan ledakan yang maksimal namun membuat Anda menguap lebar-lebar, atau malah bahkan tertidur pulas? Saya pernah mengalaminya sekali ketika menyaksikan Transformers: Revenge of the Fallen yang mana menahan kelopak mata semoga tidak menutup ialah hal tersulit yang saya alami kala itu. Serangkaian film dar der dor bercita rasa jelek banyak saya temui sesudah film tersebut, akan tetapi tidak hingga membuat saya tidur-tidur meong. Saya mulai sanggup mengatasinya. Akan tetapi… hal ini kembali terulang tatkala saya menyaksikan Resident Evil: Retribution tempo hari di layar lebar. Rasa kantuk yang maha dahsyat menyerang, padahal sebelum film utama dimulai, semangat menggelora di dalam dada. Tak sabar menyaksikan usaha Alice (Milla Jovovich) melawan zombie-zombie keluaran Umbrella Corporation untuk kelima kalinya. Menit demi menit berlalu, dan secara perlahan, semangat mulai meredup digantikan oleh rasa bosan yang tidak tertahankan. Tidak pernah saya sebosan ini menyaksikan jilid dari Resident Evil. Titik jenuh mulai menampakkan diri. 

Resident Evil: Retribution melanjutkan ending dari Resident Evil: Afterlife yang menarik hati penonton dengan kemunculan Jill Valentine (Sienna Guillory) yang ‘membelot’ dan berbalik memusuhi Alice sesudah dicuci otak oleh Umbrella. Jika Anda belum berkesempatan menyaksikan jilid sebelumnya, tidak perlu khawatir. Dengan baik hati, Alice menceritakan kembali apa saja yang telah terjadi di seri pertama hingga keempat. Pelarian yang sukses di seri keempat, nyatanya tidak berlangsung sukses. Alice kembali terdampar di sentra eksperimen Umbrella yang kali ini berlokasi di bawah maritim Moskow, sementara rekan-rekan seperjuangannya tidak diketahui rimbanya. Beberapa aksara yang dikisahkan telah menemui ajalnya, atau sebelumnya memegang jabatan sebagai ‘heroes’ dan ‘villains’, mengalami perombakan disini dengan impian membuat kejutan untuk penonton dan mendatangkan lebih banyak Dollar. Saya mengerti, ini bisnis. Tapi lama-lama, franchise ini lebih mirip soap opera dengan bumbu action horror fantasy. Nah, apabila Jill Valentine malah justru menjadi ‘villain’, Albert Wesker (Shawn Roberts) yang awalnya ialah musuh utama Alice, berubah menjaadi sekutu. Tujuan kerjasama ini ialah menyelamatkan manusia, yang menjadi sasaran utama bisnis Umbrella, dari kepunahan. Wesker menitahkan Ada Wong (Li Bingbing) dan sekumpulan laki-laki jagoan yang salah satunya ialah Luther West (Boris Kodjoe) untuk mengeluarkan Alice dari daerah yang berwujud simulasi kota-kota besar di dunia sebelum Alice tertangkap oleh Jill, Rain Ocampo (Michelle Rodriguez), dan pasukannya, serta tentu saja, para zombie nakal. 
Mengharapkan Resident Evil dibekali dengan skrip yang tergarap matang, tentu tak ada bedanya dengan pungguk yang merindukan bulan. Tak akan pernah terjadi. Lagipula, itu tak berkaitan dengan semangat yang diusung oleh jilid ini. Paul W.S. Anderson tidak ambil pusing mengenai kualitas penceritaan, ia hanya ingin menampilkan adegan agresi yang bergaya dan menghibur penonton. Nah, yang menjadi pertanyaan, dengan mengulangi hal yang sama berulang kali, copy paste dari jilid sebelumnya tanpa ada perubahan yang berarti, apakah akan membuat franchise yang membesarkan namanya ini tetap lezat untuk dinikmati? Masih banyak penonton yang rupanya masa bodoh, sehingga ‘wake up call’ untuk Anderson tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Bisa jadi, seri keenam dan ketujuh yang ketika ini tengah dirancang, hanyalah sekadar repetisi dari Retribution, Afterlife, maupun seri-seri lainnya. Saya pribadi sudah tidak lagi menemukan kesenangan disini. Kualitas 3D yang tidak lebih baik dari film sebelumnya, dan terkadang malah hanya membuat saya pusing, memperburuk segalanya. 
Ini masih belum ditambah dengan penampilan para pemainnya yang memprihatinkan. Penonton memang mendapat kesempatan untuk melihat sisi lain Michelle Rodriguez, yang merupakan salah satu bab terbaik dari film ini, namun selebihnya tak termaafkan. Milla Jovovich mulai terlihat ogah-ogahan dan setengah hati memerankan Alice, sedangkan Li Bingbing yang gres sekali ini muncul dalam franchise ini, lebih mirip robot ketimbang manusia. Para jagoan prianya, jangan diharapkan. Jika ada yang benar-benar membuat saya peduli dengan film ini ialah koreografi laganya yang tertata apik. Pengaruh dari film-film agresi dari Asia, khususnya Thailand, kentara sekali. Anderson sendiri mengakuinya. Cukup disayangkan, adegan tarung tangan kosong yang lebih memanfaatkan olah badan serta keahlian dan kekuatan fisik ini muncul terlambat. Andaikata Anderson menggebernya semenjak awal, film sanggup jadi tak semembosankan ini. Ah, tapi tak apalah, saya masih sanggup menerimanya. Setidaknya masih ada yang sanggup dibanggakan dari Resident Evil: Retribution. Final fight sequence, serta special effects yang harus diakui makin halus, menyelamatkan muka film ini dan membuatnya masih berada dalam posisi aman, walau sedikit lagi terjerumus ke zona merah.

Poor