October 16, 2020

Review : Rumah Kentang


“Mbak Shandy Aulia yang cantik, ketimbang susah-susah cari pekerjaan, kentangnya jangan dibuang. Mending dikumpulin kemudian bikin perjuangan rumah makan kentang, donat kentang, atau jadi juragan kentang juga boleh. Dibuat makan setiap hari pun bisa.”

Apakah Anda pernah mendengar sebuah ‘urban legend’ mengenai Rumah Kentang yang lokasinya berada di sebuah pemukiman elit Dharmawangsa, Jakarta Selatan? Konon kabarnya, beberapa orang yang melintas di depan rumah tersebut, khususnya ketika menjelang malam, mencium aroma kentang rebus yang menyerbak keluar dari rumah tersebut serta diiringi dengan bunyi tangisan dari seorang anak kecil sementara dalam faktanya, tidak ada siapapun di dalam rumah tersebut. Jika kosong tidak berpenghuni, lantas siapa yang tengah merebus kentang? Lalu, bunyi tangisan tersebut, berasal dari siapa (atau apa)? Keabsahan dongeng ini memang belum terbukti terlebih hanya segelintir orang saja yang ‘mujur’ menikmati aroma kentang rebus yang menusuk hidung. Apakah ini benar-benar terjadi atau hanya ulah iseng dari sejumlah pihak? Apapun kebenarannya, yang terperinci fenomena ini telah menarik perhatian sineas lokal untuk diangkat sebagai tontonan di layar lebar. 
Adalah Hitmaker Studios yang kemudian memboyong legenda ini untuk diejawantahkan ke dalam pita seluloid dan menunjuk Jose Poernomo untuk duduk di balik kemudi. Di atas kertas, proyek ini nampak potensial dan benar-benar menjanjikan. Menyuguhkan sebuah film horor murni yang berangkat dari fenomena urban tanpa komplemen komedi konyol yang garing dan sensualitas yang murahan, Rumah Kentang seakan sebuah angin menyejukkan yang telah usang dinanti-nantikan oleh para penikmat horror. Akan tetapi, sayangnya saya harus kembali menegaskan, memberi garis bawah, dan menimbulkan bold ‘di atas kertas’. Maka sebaiknya Anda jangan terburu-buru untuk berekspektasi tinggi kepada film ini. Kenyataan yang terjadi di lapangan…. jauh berbeda dengan apa yang tertuang di atas secarik kertas atau berlari-lari di pikiran. Jauh berbeda. Langkah penuh semangat dengan senyum mengembang yang mengiringi saya ketika memasuki gedung bioskop berakhir dengan langkah penuh amarah berhiaskan wajah yang teramat sangat kusam dan verbal yang tidak henti-hentinya ngedumel ketika keluar dari gedung bioskop. Sekalipun tidak berakhir menyerupai film buatan Nayato atau KKD (yang entah masih layak disebut film atau tidak), namun Rumah Kentang tetaplah sebuah produk gagal yang meninggalkan luka bagi konsumen. 
Sepeninggal sang ibu, Farah (Shandy Aulia) kembali ke Jakarta sesudah sekian tahun menetap di Melbourne untuk menuntut ilmu. Sesampainya di kampung halaman, Farah mendapati fakta mengenaskan seputar keluarganya yang selama ini tidak diketahuinya. Dengan kondisi keuangan yang kian menipis, Farah pun mau tak mau harus menghentikan studinya dan fokus untuk memperbaiki perekonomian keluarga demi menopang hidupnya dan sang adik, Rika (Tasya Kamila), yang menjadi ajaib sesudah kepergian sang ibunda. Berdasarkan surat wasiat yang ditinggalkan oleh sang ibu, ternyata Farah dan Rika diwarisi sebuah rumah glamor di bilangan Jakarta Selatan. Kabar yang berhembus menyebutkan, ini yaitu rumah kentang. Inilah alasan utama mengapa rumah ini tidak kunjung mendapat pemilik baru. Seraya menunggu calon pembeli, Farah dan Rika pun menempati rumah ini untuk sementara. Seperti yang telah Anda duga, mereka tentu saja tidak sendirian disini. Ada makhluk lain yang mengusik ketenangan. Teror dimulai sempurna sesudah bel pintu berbunyi, Farah mengendap-endang membukakan pintu, dan…. 
Niatan baik untuk memerbaiki kondisi perfilman Indonesia, khususnya dari genre memedi, yang selama beberapa tahun terakhir ‘diperkosa’ oleh para produser serakah tidaklah cukup hanya berlandaskan pada niat belaka. Harus ada penanganan yang serius. Hal itu sama sekali tidak terlihat pada Rumah Kentang yang tidak berbeda jauh dengan para pendahulu, hanya ingin numpang ketenaran dari sebuah fenomena urban demi (lagi-lagi) mengeruk laba sebanyak mungkin. Sejak menit-menit awal, saya sudah mencium aroma kentang wangi yang menyengat. Alih-alih menyajikan ‘kentang rebus’ yang masih fresh, Jose Poernomo justru mentraktir penonton dengan ‘kentang rebus’ bau yang dihangatkan kembali. Sama sekali tidak ada yang gres di sini. Cara yang diterapkan oleh Jose Poernomo untuk menciptakan penonton terlonjak dari bangku bioskop yaitu cara klasik yang entah sudah berapa kali diaplikasikan oleh sineas-sineas lokal, memanfaatkan scoring yang ‘jedang jedeng jedung’ sepanjang film dengan volume maksimal. Pikir mereka, hanya bergantung dengan ini, semua permasalahan telah dituntaskan. Meh. Tidak heran film horor buatan lokal susah untuk menembus pasar internasional. 
Rumah Kentang memang ditunjang oleh sinematografi yang cantik, yang mana bukan sesuatu yang mengejutkan lantaran sudah menjadi semacam ciri khas dari Jose Poernomo. Dan menyedihkannya… sinematografi indah ini yaitu satu-satunya yang sanggup dibanggakan oleh film ini. Sisanya, ditelantarkan begitu saja kolam Farah dan Rika yang ditelantarkan oleh keluarga besar mereka yang menghilang entah kemana dan sedikitpun tidak mempunyai rasa belas kasihan. Setelah menit demi menit bergulir, dan hati kecil saya mulai menjerit, sebuah pertanyaan mengemuka. Siapakah yang menulis skrip untuk film ini? Dari hasil mengamati credit title secara seksama serta bertanya kepada seorang teman, muncullah sebuah nama yang terdengar asing di telinga, Riheam Junianto. Bagi saya, dia yaitu orang yang paling bertanggung jawab dalam meruntuhkan mood saya yang pada awalnya bersinar terang benderang. Usaha Jose Poernomo untuk membangun atmosfir yang mencekam pun sia-sia belaka. Skrip buatan Riheam Junianto menciptakan saya ingin berteriak sekencang mungkin di dalam gedung bioskop. Rasanya kok menyerupai sedang menyaksikan film buatan Baginda KKD ya? Kontinuitasnya berantakan, lompat sana lompat sini. Dialog-dialognya pun luar biasa menggelikan. Entah ada berapa banyak obrolan satu arah, obrolan tidak nyambung atau obrolan banyaomong penuh klarifikasi yang tersebar dalam film ini. Tawa penonton pun kerap kali membahana memenuhi gedung bioskop seperti saya tengah menyaksikan sebuah film komedi. 
Tidak jarang, adegan-adegan yang muncul pun tidak kalah konyolnya. Beberapa yang membekas di ingatan (Sisanya, saya tinggalkan di dalam bilik toilet bioskop) yaitu curhat colongan Farah kepada Pegawai PLN (Daus Separo) mengenai kondisi adiknya serta pertanyaan ‘dimana psikiater yang bagus di sini ya?’, Tasya Kamila yang kehadirannya jauh berkali-kali lipat lebih menakutkan ketimbang hantu Rumah Kentang, atau… ketika Rika yang diceritakan sedang pincang dan diharuskan menggunakan tongkat penyangga mendadak lari-larian keliling komplek bersama Farah dengan penuh gairah. Epik! Memang benar ya, ketika sedang kepepet, seseorang cenderung bisa melaksanakan apapun termasuk yang tidak mungkin sekalipun. Luar biasa. Ketidaklogisan ini mungkin masih bisa tertutupi andai Jose Poernomo tidak terobsesi untuk menghiasi filmnya dengan gambar-gambar sedap dipandang dan para pemainnya bersedia meluangkan sedikit waktunya untuk mengambil kelas akting. Karena jujur, selain penampilan singkat Rina Rose dan Iszur Muchtar yang menghibur, para pemain di film ini hanya memperburuk segalanya. 
Shandy Aulia yang sudah malang melintang di industri hiburan lebih dari satu dekade dan ditempa oleh sejumlah film (dan sinetron) senantiasa menghadirkan ekspresi datar sedatar datarnya sehingga dia pun rela tubuhnya dieksploitasi demi mengalihkan perhatian penonton dari aktingnya yang menciptakan saya migrain. Tasya Kamila pun sama sekali tidak membantu. Dan Anda jangan sekali-kali berani bertanya kepada saya bagaimana akting Ki Kusumo di sini, sungguh… jangan. Saya sama sekali tidak menyangka akan menemukan hal-hal menyerupai ini di Rumah Kentang yang dikoar-koarkan sebagai obat rindu bagi pecinta film horror murni. Hasil yang didapat usai menyaksikan Rumah Kentang yaitu kepala nyut-nyutan, verbal gatal untuk tidak memaki, dan mood yang seketika memburuk. Tidak satu pun dampak positif yang terseret keluar. Pada akhirnya, Rumah Kentang tidak lebih dari sebuah film ‘kaget-kagetan’ belaka dengan isian berupa scoring ‘jedang jedung’ yang menjengkelkan, hantu waria tampil, dan kekonyolan demi kekonyolan. Naskah dan akting pemain yang jelek pun memaksa Rumah Kentang untuk banting setir dari sebuah film horror menjadi komedi. Memang, tidak berakhir hingga ke titik ‘hina dina’, namun ini tetaplah sebuah produk gagal yang telah melukai hati konsumen. Mas Jose Poernomo, kenapa akhir-akhir ini Kau selalu membuatku kecewa? 

Poor