July 12, 2020

Review : Rumput Tetangga


“Ketika kita tidak senang dengan apa yang kita lakukan, selalu tidak puas dengan apa yang kita dapatkan, kita akan cenderung menyakiti orang lain di sekitar kita.”

Jujur, ketika pertama kali saya mengetahui jikalau Rumput Tetangga dihasilkan oleh RA Pictures yang merupakan rumah produksi milik Raffi Ahmad, tak ada sedikitpun ketertarikan untuk mengetahuinya lebih jauh. Belum apa-apa, diri ini sudah bersikap skeptis dan menaruh prasangka buruk. “Palingan film ini tidak jauh berbeda dengan produksi terdahulu” yakni komentar yang kala itu meluncur dari lisan saya yang pedas. Bagi kalian yang tergolong rutin (atau minimal pernah) menyaksikan film-film keluaran mereka, tentu bisa mafhum mengapa saya bersikap demikian. Ada pengalaman traumatis tersendiri selepas menonton Rafathar (2017, masih mengaplikasikan nama RNR Pictures), kemudian Dimsum Martabak (2018) serta The Secret: Suster Ngesot Urban Legend (2018) yang sudah cukup menciptakan saya mengibarkan bendera putih buat merasakan koleksi horor lain keluaran RA Pictures. Alih-alih menikmati, saya justru dibuat ngedumel, terkantuk-kantuk, hingga mengoleskan minyak angin supaya bisa bertahan hingga penghujung durasi. Cobaannya sungguh berat, saudara-saudaraaaa…. (!). Saking kapoknya, saya nyaris tak melirik Rumput Tetangga hingga kemudian menerima panggilan kiprah dari bapak atasan untuk meliput film ini. Cenderung ogah-ogahan pada mulanya, perilaku suudzon ini mendadak luntur begitu membaca sinopsinya yang harus diakui sangat menggugah selera. Rumput Tetangga mengedepankan premis relatable bagi banyak orang berbunyi “bagaimana seandainya kau menerima kesempatan untuk menjalani kehidupan yang selama ini kau impikan?” sekaligus menghantarkan pesan moral terkait mensyukuri hidup yang sedikit banyak melemparkan ingatan ini kepada It’s a Wondeful Life (1946), The Family Man (2000), dan Medley (2007).

Dalam Rumput Tetangga, abjad yang berkesempatan menjalani kehidupan berbeda yakni seorang ibu rumah tangga berjulukan Kirana (Titi Kamal). Sepintas lalu, Kirana memang terlihat mempunyai kehidupan yang baik-baik saja dan malah bisa dibilang bahagia. Dia menikahi kekasihnya sedari zaman SMA, Ben (Raffi Ahmad), kemudian dikaruniai dua buah hati yang menyayanginya, dan meski belum bisa digolongkan sebagai masyarakat tajir, kondisi finansial keluarga kecil ini terhitung cukup. Jadi, apa yang kurang dari hidupnya? Seperti insan pada umumnya, Kirana pun menginginkan kehidupan yang lebih baik dari apa yang telah dipunyainya. Dia ingin mempunyai karir yang sukses sebagai konsultan humas ibarat sahabatnya, Diana (Donita), dan tersimpan jauh di dalam lubuk hatinya, ia ingin sesekali menikmati hari tanpa harus direpotkan dengan kiprah mengurus suami maupun anak sebab Kirana merasa dirinya kurang becus di sektor domestik. Sebuah cita-cita yang tanpa sadar dilontarkan oleh Kirana kepada seorang peramal yang ditemuinya ketika reuni SMA, Madam Sri Menyan (Asri Welas), yang tiba-tiba menawarinya sebuah kesempatan untuk mengubah hidupnya. Berhubung Kirana hanya menganggap ini sebagai permainan tarot belaka, maka ia pun tak pernah mengantisipasi keinginannya tersebut bakal benar-benar terwujud keesokan harinya. Secara tiba-tiba, ia menjalani profesi sebagai konsultan humas yang diburu oleh sejumlah public figure tanah air, mempunyai koleksi barang-barang mewah, senantiasa didampingi oleh ajudan setianya, Indra (Gading Marten), dan tidak lagi mempunyai ikatan dengan Ben. Untuk sesaat, Kirana merasakan nikmatnya menjalani hidup sebagai sosok penting yang bebas dan bergelimang harta ibarat Diana. Akan tetapi sehabis ia mendapati kenyataan bahwa kehidupan barunya ini bersifat kekal alih-alih sementara, perspektif Kirana mengenai makna kesuksesan dan kebahagiaan berangsur-angsur berubah.


Surprise, surprise. Siapa yang menduga jikalau ternyata Rumput Tetangga mampu tersaji sebagai tontonan yang bisa dinikmati? Saya memang menaruh ketertarikan pada film ini usai mengusut sinopsis beserta trailer, tapi itu tidak lantas menghapus sepenuhnya rasa skeptis. Masih ada kekhawatiran, daya tarik film hanya mencuat di bahan promosi tanpa pernah teresonansi ke hasil akhir. Saat kemudian diri ini duduk manis di dalam bioskop seraya menenggak minuman bersoda kemudian lampu bioskop perlahan dimatikan sebagai menandakan pemutaran film utama akan dilangsungkan, kegelisahan mulai muncul. Kegelisahan yang terus bertahan selama 30 menit pertama karena Rumput Tetangga seolah membuktikan bahwa ada kemungkinan film akan berakhir ibarat produk-produk RA Pictures lainnya yang tampak menggiurkan diluar tapi ternyata jauh dari kata sedap begitu disantap. Beberapa faktor yang menjadikan saya mengalami kesulitan untuk terhubung dengan film ini di paruh awal antara lain: 1) laju pengisahannya kelewat ngebut seperti Guntur Soeharjanto (Jilbab Traveler, Ayat-Ayat Cinta 2) sudah tak sabar membawa penonton ke konflik utama sehingga babak perkenalan terasa disusun seadanya saja, 2) banyolan-banyolan yang dilontarkan acapkali meleset dari target yang menciptakan sejumlah momen berakhir hambar, dan 3) Raffi Ahmad sebagai Ben bukanlah pilihan kasting yang bijak. Performanya tidak buruk, hanya saja chemistry yang dibentuknya bersama Titi Kamal tampak janggal dan ia tidak mempunyai karisma yang sanggup meyakinkan penonton jikalau sosok Ben dulunya pernah diperebutkan oleh Kirana dan Diana. Maksud saya, apa yang menciptakan sosok Ben begitu digilai oleh dua wanita ini? Apakah sebab ia humoris, baik hati, atau pekerja keras?


Saat saya sudah berkemas-kemas untuk menyambut datangnya kemungkinan terburuk, Rumput Tetangga justru mulai menawarkan greget terhitung sedari Kirana menjalani kehidupan barunya. Dari mulanya tampak diarahkan ibarat komedi situasi yang menyoroti kecanggungan-kecanggungan Kirana dalam mengikuti keadaan dengan pekerjaannya sebagai konsultan humas kelas kakap dan gaya hidupnya yang serba glamor, film ternyata beralih ke mode drama dengan cukup gesit sejak Kirana mulai menganggap versi lain dari hidupnya ini sebagai kutukan. Hidupnya terasa kosong tanpa belaian mesra dari sang suami maupun tanpa pelukan hangat dari kedua anaknya. Kirana pun terseret ke jurang depresi, kemudian tanpa sadar melampiaskan segala bentuk kemarahan, kekecewaan, beserta ketidakberdayaannya kepada orang-orang di sekitarnya. Kirana berangsur-angsur berubah. Akting ciamik Titi Kamal (agak mengingatkan saya pada penampilan terbaiknya di Mendadak Dangdut yang sangat lepas) memungkinkan bagi penonton untuk bersimpati kepada Kirana. Kita melihat karakternya bertransformasi dari seseorang yang penyabar namun agak ceroboh, kemudian terjebak dalam situasi abnormal yang membuatnya kolam fish out of water yang konyol, kemudian prosedur pertahanan dirinya memaksa ia menjadi sosok keji, hingga alhasil tokoh ini kembali ke posisi semula tatkala ia menyadari bahwa mendapatkan kenyataan yakni solusi terbaik baginya untuk mendapatkan kembali rasa senang yang telah sirna. Melalui sosok Kirana inilah, si pembuat film mencoba menghantarkan pesan berbunyi “mensyukuri hidup yakni cara terbaik untuk memperoleh kebahagiaan” sebab ada kalanya rumput tetangga yang terlihat lebih hijau hanyalah produk sintetis. Sebuah pesan sangat baik yang untungnya sanggup tersampaikan dengan baik pula sekalipun Rumput Tetangga sendiri tak pernah benar-benar mulus dalam melantunkan penceritaannya. Lanjutkan dan tingkatkan, RA Pictures!

Acceptable (3/5)