October 16, 2020

Review : Salawaku


“Indahnya hidup jikalau tidak ada beban. Cuma ada cinta.” 

Salawaku berceloteh mengenai petualangan seorang bocah yang masih duduk di dingklik sekolah dasar berjulukan Salawaku (Elko Kastanya) dalam menjelajahi kepulauan Maluku demi mencari keberadaan kakaknya, Binaiya (Raihaanun), yang tiba-tiba menghilang tanpa pernah sekalipun mengatakan kabar kepada Salawaku. Di tengah-tengah perjalanannya, Salawaku berjumpa dengan wanita asal Jakarta, Saras (Karina Salim), yang terdampar di sebuah pulau kecil. Saras memperlihatkan diri untuk membantu si bocah yang namanya terinspirasi dari perisai tradisional asal wilayah Timur ini dengan cita-cita Salawaku akan menuntunnya kembali ke resor tempat ia menginap. Meski mula-mula ada keengganan, toh akibatnya Salawaku bersedia mendapatkan uluran santunan dari Saras. Melengkapi gugusan “kelompok pencari Binaiya” yakni Kawanua (Jflow Matulessy), tetangga Salawaku yang telah dianggapnya sebagai abang laki-laki sendiri, yang belakangan tetapkan untuk bergabung. Seperti fitrahnya sebuah road movie, perjalanan ini pun memberi perspektif gres kepada pribadi-pribadi yang terlibat di dalamnya utamanya terhadap bagaimana mereka menyikapi permasalahan hidup. 

Melalui Salawaku, Pritagita Arianegara sejatinya ingin menggugat tindak seksisme yang merebak luas di sekitar kita – dalam konteks film, di area Indonesia potongan Timur – jawaban kuatnya imbas budaya patriarki. Kenapa ada gambaran jelek bagi wanita yang hamil tanpa ada dampingan laki-laki berstatus suami, sementara kaum laki-laki dianggap jantan tatkala berhasil menaklukkan hati lebih dari satu perempuan? Agar tidak berkesan bawel apalagi menyudutkan, si pembuat film mencoba memformulasikan gugatannya ke gelaran road movie yang sepintas tampak ringan saja dengan topik utama pembicaraan mengenai “cinta”. Cinta seorang adik kepada kakaknya, cinta seorang laki-laki terhadap kekasihnya, hingga cinta seorang ibu kepada anaknya. Dihidangkan memakai materi sefamiliar ini, penonton akan lebih gampang terhubung ke dalam film. Soal kritik sosialnya akan membuat pikiran para pemirsanya terusik atau tidak, itu urusan belakangan. Yang penting, khalayak ramai bersedia untuk terlebih dahulu membuka mata, hati, serta indera pendengaran demi menyaksikan upaya sang huruf utama dalam berjumpa kembali dengan keluarganya yang mendadak meninggalkannya sendirian.

Ya, sekalipun mengusung pesan yang sangat mungkin melahirkan materi diskusi panjang-panjang, Salawaku sendiri gampang dikunyah sedari awal. Yang tidak disangka-sangka, muatan komedinya terhitung tinggi. Akarnya yakni korelasi tidak biasa yang terbentuk antara Salawaku dengan Saras. Berasal dari kawasan berbeda yang memiliki budaya, gaya hidup, sekaligus kebiasaan cukup aneh bagi satu sama lain, tentu tak terhindarkan kerap mencuat kontradiksi menggelitik diantara mereka disebabkan oleh ketidakpahaman. Lihat saja bagaimana Salawaku dengan santainya melempar ponsel cerdas Saras padahal posisi keduanya tengah berada di bibir pantai (ya, nyemplung dong!) atau dikala Saras harus mendefinisikan sejumlah istilah yang dilontarkannya terlebih dahulu karena Salawaku mengalami “gagal paham” – sebuah istilah anak gaul metropolis yang belakangan digemari pula oleh Salawaku dan Kawanua. Perjalanan tiga insan guna mencari keberadaan Binaiya yang menyenangkan buat disimak berkat keputusan si pembuat film untuk melantunkannya dengan pendekatan santai ini memperoleh tunjangan pasokan gambar membelalakkan mata pula dari Faozan Rizal yang pasti akan membuat jiwa petualangmu tergugah seketika untuk menjelajahi Pulau Seram saking mempesonanya pemandangan yang terhampar di layar bioskop. 

Guliran penceritaan menarik serta tampilan gambar aduhai tentu tiada artinya tanpa sokongan akting hidup dari para pelakonnya. Beruntung bagi Salawaku, keempat bintang utamanya bermain cantik. Malah sanggup dikata, departemen akting merupakan sumber penghidupan utama bagi film. Baik Karina Salim, Jflow Matulessy, Raihaanun, bahkan Elko Kastanya memiliki momen yang mempersilahkan mereka untuk bersinar. Mengemban tanggung jawab besar dalam menggerakkan film, Elko Kastanya yang notabene masih hijau tak sekalipun tampak kagok. Di tangannya, sosok Salawaku yang pemberani, tidak sabaran, serta polos, terlihat natural. Dia pun sanggup membuat chemistry asyik bersama Karina Salim yang raut wajahnya menyiratkan adanya kegundahan dan Jflow Matulessy yang ngayomi meski belakang layar memiliki jadwal terselubung dibalik keputusannya mengikuti grup kecil ini. Sementara Raihaanun yang tidak banyak memperoleh jatah tampil dibanding ketiga rekan mainnya ini, senantiasa mencuri perhatian dalam setiap kemunculannya. Dialeknya membuat kita yakin bahwa ia yakni penduduk setempat, kemudian air mukanya secara besar lengan berkuasa menyatakan adanya kemarahan, kekecewaan, sekaligus kesedihan yang coba ditekan.

Exceeds Expectations (3,5/5)