October 22, 2020

Review : San Andreas


“The Earth will literally crack and you will feel it on the East Coast.” 

Apabila dirimu yaitu anggota kesatuan evakuasi tragedi alam, apa yang pertama kali kau lakukan tatkala gempa bumi berkekuatan raksasa memporakporandakan lingkungan di sekitar kampung halamanmu? Secara realistis, tunaikan kiprah dengan menyelamatkan sebanyak mungkin warga setempat yang membutuhkan pertolongan. Tapi ketika tragedi ini terjadi dalam film, abaikan saja mereka – toh kita juga tidak mengenalnya – dan prioritaskan untuk menyelamatkan keluarga tak peduli sekalipun jarak yang harus ditempuh ratusan mil jauhnya alasannya keluarga yaitu segalanya. Setidaknya, kesempatan itulah yang diambil oleh Dwayne Johnson dalam San Andreas, dan errr… para (mayoritas) hero di disaster movie lainnya. Dengan garis dongeng ibarat ini, kau tentu sudah mengerti ekspektasi semacam apa yang sanggup diboyong memasuki gedung bioskop. Ya, persis ibarat yang kau lihat di bahan promosinya, ini yaitu tontonan gegap gempita yang menuntut perhatianmu hanya sekadar dari ekspo pengaruh khususnya alih-alih bertumpu pada atraksi akting maupun guliran pengisahan menawan. Tinggalkan otak di luar gedung bioskop, mungkin?

Tidak ada yang menganggap serius prediksi dari hebat gempa bumi, Lawrence (Paul Giamatti), ketika diprediksi guncangan hebat akan melanda California. Mengingat dalam riwayat penelitian para ilmuwan tidak ditemukan adanya lempengan yang membujur di dataran Nevada sampai San Andreas, maka ocehan Lawrence memang terdengar menggelikan… sampai gempa tektonik berkekuatan 7,1 SR menghancurkan Bendungan Hoover, Nevada. Tentu saja ini gres awal dari semuanya alasannya gempa susulan dengan skala goyangan lebih dahsyat lantas menerjang yang berdampak pada luluh lantaknya separuh California khususnya San Fransisco. Tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama ibarat masa kemudian – terlebih gempa ini belum mengatakan gejala berakhir bahkan semakin menguat – seorang pilot helikopter yang berada di Regu Penyelamatan Udara, Ray (Dwayne Johnson), nekat menembus San Fransisco yang rusak parah bersama sang istri, Emma (Carla Cugino), untuk menyelamatkan putri mereka, Blake (Alexandra Daddario), yang ndilalah tengah berkunjung ke San Fransisco. 
Kapan kau terakhir kali dipuaskan oleh disaster movie ciptaan Hollywood? Tahun kemudian oleh Into the Storm, beberapa waktu lampau dengan 2012… atau malah satu dekade silam lewat The Day After Tomorrow? Apabila film-film ini belum bisa membuatmu tercekam – sekadar terpesona oleh kecanggihan pengaruh khususnya – maka San Andreas akan melakukannya. Sejak menit pembuka yang sedikit banyak mengingatkan pada opening scene mendebarkan di Cliffhanger-nya Sylvester Stallone, penonton telah dihadapkan dengan momen penuntut helaan nafas panjang ketika Ray bersama krunya harus menembus tebing sempit guna menyelamatkan seorang wanita yang terjebak di sebuah kendaraan beroda empat yang sewaktu-waktu sanggup terperosok ke jurang. Satu kesalahan dalam langkah kecil saja sanggup berdampak fatal, you’ll never know. Brad Peyton (Journey 2: The Mysterious Island) memberi langkah awal yang tepat bagi San Andreas dengan menempatkan penonton pada momen harap-harap cemas guna membangkitkan semangat sebelum diajak berbasa bau sejenak sebagai momen perkenalan terhadap huruf utama sekaligus memberi latar bagi kemunculan ‘si monster’. 
Tatkala kita dianggap telah siap, Peyton pun secara sigap menghidangkan rentetan ketegangan ketika gempa bumi terdahsyat sepanjang sejarah memberi dampak berupa kehancuran masif di Los Angeles dan San Fransisco. Dengan pengaruh khusus kelas premium, visualisasinya terjelmakan begitu tepat nan meyakinkan seakan-akan apa yang terpampang di layar bioskop memang benar adanya yang mengakibatkan pengaruh ngeri pada penonton. Phew. Sulit buat ditampik, film semacam San Andreas ini memang susah dihindarkan dari adegan omong kosong, penuh kemustahilan, atau sederhana saja, bullshit alasannya lihat saja betapa nalar sehatmu dipermainkan habis-habisan disini ketika dihadapkan pada kenyataan mudahnya Ray melacak keberadaan keluarganya, atau ketika Emma lari-lari melompati retakan gedung siap runtuh pada detik-detik terakhir, serta paling epik motorboat Ray menerjang ombak tsunami seraya menghindari lindasan kapal kontainer. Terdengar sangat menggelikan, bukan? Memang. Akan tetapi, selama si pembuat film bisa merancang sensasi seru sepanjang durasi dengan huruf dalam film sangat gampang buat didukung (Johnson tangguh dan rapuh, begitu pula Cugino dan Daddario yang bukan semata-mata damsel in distress) maka pengampunan pada kekonyolan yang mencuat disana sini sanggup diberikan. Selama masih memberi sensasi fun secara konstan, mengapa tidak? Bukankah itu yang kita cari dari popcorn movie pemeriah isu terkini panas?

Acceptable