June 27, 2020

Review : Scary Stories To Tell In The Dark


“Some people believe, if we repeat stories often enough they become real. They make us who we are. That can be scary.”

Sebelum disadur menjadi sebuah tontonan menakutkan untuk dikonsumsi di layar lebar, Scary Stories to Tell in the Dark lebih dulu dikenal sebagai buku kumpulan kisah yang ditujukan bagi pembaca cilik. Bukan buku dongeng biasa, tentu saja, mengingat buku ini sanggup mengatakan efek samping kepada kanak-kanak berupa enggan mematikan lampu dikala tidur, berulang kali mengintip dari balik selimut sebelum memejamkan mata, meminta orang bau tanah untuk mengecek kolong kasur, hingga paling parah: mimpi buruk. Saking besarnya dampak yang diberikan oleh buku rekaan Alvin Schwartz ini, tidak mengherankan kalau kemudian sempat muncul gelombang protes dari beberapa pihak yang menilai konten kisah buku ini kurang layak dikonsumsi oleh bocah dibawah umur. Scary Stories to Tell in the Dark yang terinspirasi dari kisah rakyat maupun legenda urban ini memang menunjukkan sederet kisah menyeramkan yang mempunyai nada penceritaan lebih “gelap nan kejam” ketimbang (katakanlah) Goosebumps. Bahkan, buku antologi tersebut didukung pula oleh ilustrasi bernuansa disturbing tabrakan Stephen Gammell yang konon sering disebut-sebut sebagai penyumbang teror bergotong-royong melebihi dongeng gubahan Schwartz (!). Menarik, bukan? Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, apakah versi adaptasinya yang digarap oleh Andre Ovredal (Trollhunter, The Autopsy of Jane Doe) bisa mengatakan rasa ngeri serupa dengan materi sumbernya yang fenomenal ini? 

Melalui ekranisasinya, penonton dilempar jauh ke tahun 1968 tatkala Amerika Serikat tengah mengirimkan para laki-laki yang memenuhi kualifikasi untuk bertempur di Vietnam seraya menghelat pemilihan presiden. Dari periode tersebut, kita meluncur semakin jauh ke sebuah kota kecil berjulukan Mill Valley yang terlihat mirip kota menenangkan dimana kita berjumpa dengan tiga sahabat; Stella (Zoe Colletti), Auggie (Gabriel Rush), dan Chuck (Austin Zajur), yang tergabung dalam kasta “pecundang”. Ketiganya berencana untuk melaksanakan agresi balas dendam kepada senior mereka yang dikenal sebagai penindas di malam Halloween. Rencana yang mulanya tereksekusi secara mulus nyatanya bermetamorfosis blunder yang lantas mempertemukan tiga sobat ini dengan seorang abnormal berjulukan Ramon (Michael Garza). Bersama dengan Ramon, Stella beserta konco-konconya menyambangi sebuah rumah bau tanah terbengkalai yang dulunya dihuni keluarga kaya raya. Di sana, Ramon dan penonton menyadari bahwa kota ini menyimpan masa kemudian kelam dalam bentuk pembunuhan anak-anak. Tersiar kabar, bocah-bocah malang tersebut meregang nyawa di tangan Sarah Bellows yang kerap memperdengarkan cerita-cerita seram. Cerita-cerita ini didokumentasikan ke sebuah buku yang kemudian diboyong pulang oleh si penggila horor, Stella, tanpa mengetahui bahwa buku yang dipegangnya bukanlah buku biasa dan bisa mendatangkan musibah kepada orang-orang di sekitarnya.


Hmmm… terdengar mirip Goosebumps (2015) ya? Dan memang, Scary Stories to Tell in the Dark mengaplikasikan template kisah senada yang mengetengahkan pada “buku keramat” sebagai pembawa teror. Buku tersebut tidak menyimpan monster, melainkan sanggup sewaktu-waktu menuliskan sebuah kisah (yes, tertulis sendiri!) yang lantas terwujud menjadi kenyataan. Karakter-karakter apes dalam film ini menemui ajalnya mengikuti kisah yang tertuang dalam buku. Mengingat film ini ialah adaptasi, maka tentu saja kisah yang digoreskan dengan darah tersebut dicuplik pribadi dari materi sumbernya mirip Harold yang menghadirkan kengerian di ladang sawah, The Big Toe yang memantik keengganan pada satu jenis makanan, The Red Spot yang mengingatkan kita terhadap betapa menjengkelkannya jerawat, The Pale Lady yang membawa penonton ke ruangan berwarna merah (lalu berjumpa dengan monster nggemesin yang bikin mengucap uwuwuwu), Me Tie Dough-ty Walker! yang memunculkan monster berwujud The Jangly Man, hingga The Haunted House sebagai pamungkas. Keenam kisah ini bisa divisualisasikan secara solid oleh Ovredal yang menempatkan daya cekam dalam level menengah menyesuaikan dengan pangsa pasarnya yakni keluarga. Secara pribadi, saya menyukai Harold yang memunculkan atmosfer mengusik kenyamanan sekaligus mempunyai konten teror paling mengganggu untuk penonton cilik, The Big Toe yang mendatangkan sensasi berdebar-debar selama menanti datangnya ‘penjemputan’, serta Me Tie Dough-ty Walker! yang berwujud body horror.

Disamping tiga segmen yang mengatakan ketegangan terbesar di sepanjang durasi tersebut, Scary Stories to Tell in the Dark mengalun cenderung kurang stabil. Persoalannya terletak pada naskah bentukan Dan Hageman beserta Kevin Hageman yang tidak mengatakan kesempatan bagi para huruf untuk tumbuh berkembang. Mereka ialah karakter-karakter tipikal berlabel “si kutu buku”, “si lucu”, “si cantik”, dan sejenisnya, yang urung diberi karakteristik maupun latar belakang berisi. Maka dikala satu dua teror mendera, ketimbang benar-benar peduli kepada nasib mereka, saya justru lebih sibuk bertanya-tanya: apa keterkaitan teror dengan huruf tersebut? Terkadang saya memahaminya, tapi tidak jarang pula terkesan acak. Ditambah performa kurang luwes dari jajaran pemain utama, saya pun semakin terdistraksi dalam menyematkan simpati pada huruf tertentu. Michael Garza terbilang kaku, Austin Zajur terlampau mengganggu, sementara Zoe Colletti terkadang kelewat bersemangat yang menciptakan huruf Stella menjadi menyebalkan (khususnya pada klimaks). Didera sederet gangguan, untungnya Scary Stories to Tell in the Dark masih sanggup tersaji sebagai tontonan menakutkan yang mengasyikkan berkat kecakapan sang sutradara dalam membangun kengerian mirip terbukti pada tiga segmen favorit saya dan berkat desain para monster peneror yang imajinatif mirip gambar rekaan Gammell. Setidaknya, film ini akan tetap menguarkan ‘mimpi buruk’ bagi penonton cilik meski daya cekamnya tidak sekuat materi aslinya yang tergolong disturbing.

Acceptable (3/5)