July 14, 2020

Review : Searching


“I didn’t know her. I didn’t know my daughter.” 
Tanyakan kepada dirimu sendiri, seberapa jauhkah kau mengenal keluargamu? Apakah kau yakin telah mengenal mereka luar dalam sampai-sampai meyakini bahwa tidak ada diam-diam tersembunyi diantara kalian? Apakah kau yakin seseorang yang kau temui saban hari sedari pertama kali mengenal dunia ini ialah seseorang yang sama ketika keluar dari lingkungan keluarga? Sederet pertanyaan ini mungkin terdengar sedikit berlebihan bagimu alasannya ialah semestinya (secara nalar) pihak yang paling memahami seluk beluk diri ini ialah keluarga, begitu pula sebaliknya. Akan tetapi, menyidik fakta bahwa masyarakat modern mempunyai kesibukan luar biasa dalam aktifitas di luar rumah dan kerapkali menganggap teknologi sebagai solusi bagi tereduksinya komunikasi intens secara langsung, mungkinkah kita benar-benar mengenal keluarga kita? Atau jangan-jangan ternyata selama ini kita tidak pernah mengenal siapa mereka yang sesungguhnya? Glek. Menyadari bahwa kemungkinan-kemungkinan tersebut sangat mungkin terjadi cukup umur ini, sutradara pendatang gres Aneesh Chaganty pun tetapkan untuk memanfaatkannya sebagai fondasi bercerita bagi film perdananya yang bertajuk Searching. Di sini, Chaganty tak sebatas memperlihatkan komentar sosial yang mengena ihwal parenting beserta imbas samping teknologi, tetapi juga menghadirkan sebuah gelaran thriller mendebarkan mengenai usaha seorang ayah dalam mencari putrinya yang mendadak raib tanpa jejak. 
Narasi Searching memperkenalkan kita pada sebuah keluarga berdarah Korea yang mendiami pemukiman di pinggir kota San Jose, California. Keluarga kecil yang rukun ini terdiri dari tiga orang, yakni David Kim (John Cho) sang ayah, Pamela Nam Kim (Sara Sohn) sang ibu, dan Margot Kim (Michelle La) sang anak semata wayang. Melalui montase yang mengalun selama kurang lebih 5 menit di permulaan film, penonton diberi gambaran mengenai kebahagiaan yang menaungi keluarga ini. Mudahnya sih, Keluarga Kim ialah representasi dari keluarga imigran di Amerika Serikat yang ideal. Saya pun jatuh hati kepada Keluarga Kim selepas menonton sederet video yang merekam keseharian mereka yang dipenuhi canda tawa sehingga tanpa sadar muncul sebersit impian untuk tetap melihat mereka bersatu hingga akhir… meski itu mustahil. Ya, benar saja, si pembuat film berkehendak lain. Pam menghadap ke Yang Maha Satu tanggapan penyakit kanker dan David berusaha keras untuk menjaga hubungannya dengan Margot. Dilihat dari interaksi mereka selama melaksanakan panggilan video atau berbalas pesan, tidak ada gejala yang memperlihatkan keretakan dalam kekerabatan mereka. Mereka masih tampak akur menyerupai biasanya, walau kini tak lagi ada Pam. Akan tetapi, segalanya sontak berubah tatkala David tak bisa melacak keberadaan Margot yang belum kunjung pulang dari berguru kelompok di malam sebelumnya. Disamping meminta derma profesional kepada Detektif Rosemary Vick (Debra Messing) untuk mencari sang putri, David juga melaksanakan penelusuran sendiri bermodalkan komputer jinjing Margot yang lantas membawanya pada satu kesimpulan: beliau tidak pernah benar-benar mengenal putrinya. 

Sedari menit pembuka yang menyuguhi penonton dengan kumpulan video rumahan buatan David, saya telah menambatkan atensi sedemikian rupa pada Searching. Montase ini sedikit banyak mengingatkan saya pada adegan awal dari Up (2009) yang masih sulit dienyahkan jauh-jauh dari benak hingga sekarang. Manis, menghangatkan hati, sekaligus mengoyak-oyak sanubari. Chaganty bisa merangkum momen perkenalan terhadap Keluarga Kim tersebut secara efektif memakai video rumahan, foto, hingga kalender di komputer yang memunculkan sensasi seperti kita sedang bernostalgia ke masa lampau yang penuh kebahagiaan (maupun kegetiran) memakai komputer pribadi. Kamu mungkin bertanya-tanya, kok bisa? Sensasi ini memungkinkan untuk dicapai karena Searching memakai sudut pandang orang pertama sehingga secara otomatis menempatkan kita pada posisi David. Seperti halnya Unfriended (2014) yang juga diproduseri Timur Bekmambetov, kita memakai mata si protagonis utama selama beliau mengakses komputer jinjing atau ponsel cerdas miliknya. Alhasil, selama durasi mengalun, penonton tidak memperoleh visual konvensional alasannya ialah layar bioskop betransformasi kolam layar komputer. Guna memberi kesempatan bagi kita untuk mengetahui peralihan air muka dari David, Rosemary, maupun Margot selama masalah berlangsung, maka dipergunakanlah FaceTime beserta kamera komputer – terkadang, rekaman dari situs isu lokal pun dipergunakan – sehingga kau jangan khawatir hanya disuguhi petunjuk melalui kursor bergerak-gerak, ‘pengembaraan’ lintas situs atau pesan teks sebagai pengganti dialog. 
Chaganty sanggup menyiasati masalah sudut pandang ini secara berilmu sehingga kita pun tetap bisa memantau pergerakan David sekalipun beliau beranjak dari rumah. Bagusnya lagi, konsep unik yang diaplikasikan oleh Searching ini tak berakhir sebatas gimmick selaiknya Open Windows (2014) yang amburadul atau Unfriended yang semakin keteteran seiring berjalannya durasi. Oleh si pembuat film, konsep ini diupayakan untuk senantiasa berada di koridor realistis – dan tidak keluar jalur kemudian mengkhianati konsepnya – demi memudahkan penonton untuk menempatkan diri pada posisi si protagonis. Chaganty pun menyadari, konsep semacam ini rentan berakhir blunder apabila tidak berlandaskan naskah dan pemain yang solid. Itulah kenapa, dua sektor ini menerima perhatian khusus darinya sehingga atensi saya yang telah direbut oleh film di adegan pembuka, tak kunjung kembali hingga film tutup durasi. Mata saya benar-benar enggan untuk berpaling dari layar bioskop meski hanya sedetik. Pengarahan cantik dari Chaganty menurut naskah ciamik rekaannya bersama Sev Chanian membawa diri ini melewati banyak sekali fase emosi di sepanjang film, antara lain tersentuh, tersentil, hingga paling mendominasi, tegang. Si pembuat film sanggup membangkitkan minat penonton melalui misteri yang dikedepankan dan kemampuannya dalam membangun ketegangan secara setapak demi setapak sampai-sampai kita pun tak keberatan untuk dilingkupi ingin tau tanggapan pertanyaan, “dimanakah keberadaan Margot? Apakah beliau masih hidup atau sudah tewas?”

Di sela-sela proses pemeriksaan mendebarkan yang memaksa David menelusuri akun-akun dunia maya putrinya serta menginterogasi setiap sobat Margot, Searching turut mengapungkan pembicaraan mengena mengenai parenting di abad serba teknologi yang mengajak para orang bau tanah untuk membuat kekerabatan lebih terbuka pada anak, serta sisi gelap maupun sisi jelas dari media umum yang memperlihatkan bagaimana dunia maya membebaskan para penggunanya untuk membuat gambaran diri yang bisa jadi sama sekali bertolak belakang dari kenyataan; entah itu membawa pada kebaikan atau justru keburukan. Sesuatu yang erat dengan realita, bukan? Penelusuran ini, pembicaraan ini, sanggup mempunyai rasa berkat sensitivitas Chaganty dalam bercerita beserta performa gemilang John Cho yang memperlihatkan range emosi yang luas di sepanjang durasi. Penonton bisa mendeteksi perbedaan mencolok dari air muka, gestur, serta perilaku yang ditunjukkan oleh David di menit-menit pertama dengan puluhan menit selepasnya. David yang mulanya terlihat tegar dan bisa mengatur emosi, secara perlahan tapi niscaya mulai mengungkap sisi rapuhnya. Dia terlihat frustrasi dan tak lagi sanggup mengendalikan amarahnya tatkala proses pemeriksaan ini kerap membawanya ke jalan buntu. Terkadang beliau murka kepada orang lain, tapi acapkali amarah itu ditunjukkan kepada dirinya sendiri alasannya ialah beliau merasa gagal sebagai orang tua. 

“I didn’t know my daughter,” begitu ungkapnya begitu beliau menyadari ternyata ada sesuatu yang salah dalam hubungannya dengan Margot. Apiknya performa John Cho ini memperlihatkan impak tersendiri bagi penonton yang memungkinkan kita ikutan sepaneng (baca: sangat tegang) menyerupai halnya David yang terus berharap-harap cemas mengenai nasib putrinya. Saya sulit untuk duduk damai sepanjang durasi mengalun dan gres benar-benar bisa menghembuskan nafas lega sesudah lampu bioskop dinyalakan. Phew. What an experience!

Outstanding (4/5)