July 4, 2020

Review : Sebelum Iblis Menjemput


“Ada sesuatu di rumah ini. Sesuatu yang menunggu kita.” 
Melalui Pengabdi Setan (2017), Joko Anwar telah menetapkan standar gres bagi film horor Indonesia. Sebuah standar cukup tinggi yang menyebabkan puluhan film dari genre sejenis yang rilis selepasnya terlihat cemen karena kewalahan untuk merengkuhnya. Memang ada beberapa yang cukup mendekati, menyerupai Mereka yang Tak Terlihat, Mata Batin, hingga Kafir Bersekutu dengan Setan, tapi lebih banyak yang berakhir dengan kegagalan sekalipun telah mati-matian mengekor. Untuk sesaat, saya sempat skeptis dengan masa depan film horor tanah air yang kembali memperlihatkan gelagat jalan di tempat. Akan tetapi, sesudah satu demi satu kontender untuk menaklukkan kedigdayaan ‘filmnya Ibu’ bertumbangan dengan mudah, muncul secercah impian tatakala Timo Tjahjanto yang mempunyai afeksi sama tinggi terhadap tontonan angker menyerupai halnya Joko menjajal peruntungannya melalui Sebelum Iblis Menjemput. Apabila kau telah menyaksikan kinerja Timo dalam mengkreasi tontonan angker lewat Rumah Dara (2009), L is for Libido (2012) maupun Safe Haven (2013) yang permainan visualnya sungguh sinting itu, tentu tidak mempunyai keraguan terhadap Sebelum Iblis Menjemput. Dan memang, Timo tak mengkhianati iman mereka yang menaruh iman kepadanya alasannya ialah film teranyarnya ini bersedia untuk mengelaborasi kata ‘gila’ kepada para penonton. 

Karakter utama dalam Sebelum Iblis Menjemput ialah seorang wanita berjulukan Alfie (Chelsea Islan) yang telah terbiasa menjalani kerasnya hidup selepas tewasnya sang ibu. Alfie sudah lama tak berkomunikasi dengan ayahnya, Lesmana (Ray Sahetapy), yang meninggalkan istri dan anaknya demi menikahi seorang aktris yang usianya jauh lebih muda darinya. Alfie yang masih menyimpan dendam kepada Lesmana ini hasilnya dipaksa untuk menghadapi sumber kemarahannya tatkala saudari tirinya, Maya (Pevita Pearce), menghubunginya untuk pertama kali demi mengabarkan bahwa Lesmana tengah menderita penyakit aneh. Dalam pertemuan mereka, Maya mengajak Alfie untuk mengunjungi villa milik Lesmana demi menguak diam-diam yang mungkin disimpan oleh ayah mereka. Turut ikut dalam perjalanan ini ialah ibu Maya, Laksmi (Karina Suwandi), dan adiknya, Ruben (Samo Rafael), yang berniat untuk mencari aset-aset berharga milik Lesmana yang masih memungkinkan untuk dijual di villa tersebut. Mengingat Alfie tidak pernah akur dengan ibu tiri maupun saudara tirinya, maka tentu saja pertengkaran diantara mereka tak bisa lagi terelakkan hingga kemudian pertengkaran tersebut dibawa ke level lebih tinggi sesudah salah satu dari mereka melaksanakan kesalahan fatal. Kesalahan tersebut ialah membuka sebuah pintu terlarang yang di dalamnya bersemayam iblis jahat yang tak segan-segan menghancurkan para insan yang enggan menyembah kepadanya. 

Sedari prolog yang menjabarkan cikal bakal tercetusnya duduk perkara yang dihadapi oleh Lesmana dan keluarganya, Sebelum Iblis Menjemput telah tancap gas. Tidak ada waktu bagi penonton untuk menyiapkan mental (jika kau membutuhkannya, lakukan sebelum logo LSF muncul) dan film juga tidak menghabiskan banyak waktu untuk berbasa-basi. Usai sentakan awal di menit-menit awal, film lantas mempertemukan kita dengan karakter-karakter inti, yakni Alfie, Maya, Laksmi, serta Ruben, ketika mereka bertandang ke rumah sakit untuk menjenguk Lesmana. Perkenalan dilakukan secara cepat melalui interaksi canggung diantara mereka, tukar obrolan bernada hambar yang menegaskan keberadaan konflik, dan perilaku yang mereka tunjukkan. Dari sini penonton bisa mencecap bahwa Alfie masih menyimpan luka serta sedih dari masa kecilnya yang pilu, sementara Maya dan Laksmi menyimpan maksud terselubung dibalik perilaku manis yang ditunjukkannya kepada Alfie. Ketiga abjad tersebut mempunyai agendanya masing-masing ketika menetapkan untuk mengunjungi villa milik Lesmana yang seketika terungkap tidak lama sesudah mereka menapakkan kaki di sana. Tak hanya mengungkap diam-diam para karakter, kunjungan ke villa ini sekaligus menandai dimulainya teror. Timo memang telah melaksanakan pemanasan lewat prolog dilanjut adegan di rumah sakit, tapi begitu pintu menuju neraka telah dibuka secara resmi oleh manusia-manusia kurang syukur ini, beliau melepas segala-galanya. 
Alhasil, kesempatan untuk menghembuskan nafas lega seketika lenyap. Teror yang digebernya terus mengalami eskalasi dari sisi ketegangan dan kegilaan di setiap menitnya. Apa yang kau anggap menyeramkan di separuh awal, bisa jadi belum ada apa-apanya dibandingkan apa yang akan kau jumpai di paruh selanjutnya. Sebelum Iblis Menjemput boleh saja tidak memperlihatkan kelokan berarti pada narasinya (jangan bersedih ya, para pemburu plot twist!), tapi film ini senantiasa memberi kejutan dalam hal performa jajaran pemain dan teror. Oh ya, akting trio Chelsea Islan, Pevita Pearce, dan Karina Suwandi di sini sungguh ngeri-ngeri sedap. Ini ialah permainan lakon langka yang mungkin tidak akan lagi kau jumpai di film selanjutnya. Mereka memang pernah menyampaikan tugas di sini meminta ketiganya keluar dari zona nyaman. Tapi saya tak pernah menyangka, mereka dibentuk babak belur sedemikian rupa yang menghilangkan kesan anggun nan anggun. Mereka berteriak-teriak, berkeringat, berlumuran darah, bermandikan lumpur, hingga dibanting-banting. Saya ngilu-ngilu sendiri melihatnya. Di tangan Chelsea, sosok Alfie terlihat menyerupai satria badass meski hatinya rapuh, sedangkan Pevita dan Karina tampak menyeramkan sesudah topeng santun mereka terlepas. Ketiganya mempersembahkan akting terbaik dalam karir keaktoran masing-masing, khususnya Pevita yang menghempaskan gambaran wanita manja, manis, atau baik-baik yang selama ini diembannya. Disamping mereka, masih ada pula Ray Sahetapy, Samo Rafael, serta Ruth Marini yang juga menyumbang performa tak kalah mengesankan. 

Kejutan dari sisi akting ini turut berimbas pula ke permainan terornya yang terjaga konsisten dari awal hingga akhir. Memang sih, rentetan adegan klasik khas film horor menyerupai kerasukan, ranjang bergoyang, ‘cilukba’ dengan setan, terpisah dari rombongan kemudian kejar-kejaran di hutan, masih jamak kau jumpai di sini. Bahkan, Timo juga bermain-main dengan jump scares klise untuk menciptakan penonton terlonjak dari kursi. Akan tetapi yang kemudian menghindarkannya dari kesan murahan serta menjengkelkan ialah pengemasannya yang berkelas. Si pembuat film tidak mengeluarkannya secara ujug-ujug bermodalkan formula ‘asal kaget’, melainkan ada proses menuju ke sana yang bersama-sama sudah bisa kita antisipasi apabila menaruh atensi pada narasi. Menariknya, sekalipun telah menduga kapan trik tersebut akan dimunculkan, diri ini masih tak sanggup untuk mengontrol tawa – sebagai bentuk penyaluran rasa gugup atau takut – maupun pekikan kekagetan. Keterampilan Timo dalam mengatur waktu kemunculan, kemampuannya memoles kembali trik-trik lama sehingga membuatnya terlihat segar, serta sokongan elemen teknis menyerupai penyuntingan, sinematografi, dan tata rias (serius, make up setannya serem abis!) menjadi kunci keberhasilannya di sini. Saya awalnya sempat was-was ketika mendapati Sebelum Iblis Menjemput masih mengaplikasikan keklisean film horor (beberapa diantaranya telah saya sebut di atas), dan film ini turut menjumput rujukan secara terang-terangan dari The Evil Dead (1981) beserta Drag Me to Hell (2009) rekaan Sam Raimi. Tapi melihat eksekusinya yang memperlihatkan film ini ditangani oleh orang yang tepat, saya pun tidak keberatan sama sekali toh ada kreatifitas pengolahan di dalamnya sehingga mempunyai cita rasa berbeda sekalipun tampak sama di permukaan. 
Sebuah cita rasa yang bisa kau kenali, terlebih kalau kau telah bersahabat dengan karya-karya Timo dan The Mo Brothers (kolaborasinya bersama Kimo Stamboel). Itu berarti, permainan visual gila melibatkan darah-darahan yang bikin ngilu masih menjadi komponen andalan di sini sekalipun level kesadisannya telah diturunkan secara signifikan demi menggapai rating 17+ dan merangkul audiens lebih luas. Keputusan untuk meminimalisir darah ini harus diakui agak membatasi Timo untuk gila-gilaan secara membabi buta, tapi untungnya, ini tidak menghambat kreatifitasnya dalam mengkreasi momen-momen dengan daya kejut nyata. Salah satu bukti keberhasilannya terlihat dari beberapa mitra yang enggan menyingkirkan epilog dari pandangan dan saya sebagai penggemar film horor sempat beberapa kali dibentuk ‘kegirangan’ selama menontonnya. Walau pada hasilnya adegan menyeramkannya tak seikonik Pengabdi Setan, Sebelum Iblis Menjemput bisa menghadirkan formasi teror ‘keras nan gila’ disertai akting, elemen teknis dan narasi mumpuni yang seketika mempersilahkannya bangun di level yang sama dengan Pengabdi Setan. Ibarat genre, Pengabdi Setan ialah drama komedi, sementara Sebelum Iblis Menjemput berada di ranah action. Bagus!

Outstanding (4/5)