July 15, 2020

Review : Sesat


“Yang namanya setan itu, nggak ada yang gratisan.” 
Selama empat pekan berturut-turut di bulan Agustus ini, khalayak ramai yang bertandang ke bioskop ditawari tontonan memedi dengan kualitas beragam. Diawali oleh Kafir Bersekutu dengan Setan yang terbilang baik, kemudian dilanjut Sebelum Iblis Menjemput yang ciamik, kemudian diteruskan oleh Gentayangan yang bikin kepala nyut-nyutan, parade film horor tanah air di bulan Agustus ini diakhiri dengan Sesat produksi Rapi Films (penghasil Pengabdi Setan). Tidak menyerupai dua film pertama – lebih mendekati ke film pekan kemudian – Sesat kurang terlihat menggiurkan apabila hanya berpatokan pada bahan promonya. Generik yakni kesan pertama yang diperoleh usai menengok trailernya. Jika ada yang menarik perhatian saya sehingga kekeuh untuk tetap merasakan Sesat di layar lebar yakni jejak rekam sang sutradara, Sammaria Simanjuntak. Dia yakni sosok dibalik keberhasilan dua film indie, Cin(t)a (2009) dan Demi Ucok (2013), yang bolak-balik ke banyak sekali panggung penghargaan film. Menengok apa yang telah diperbuatnya untuk dua film tersebut, saya tak mempunyai keraguan bahwa Sammaria bisa mengkreasi film bagus. Yang kemudian menggelitik keingintahuan saya ketika hendak menonton Sesat yakni sejauh mana kapabilitasnya dalam menggarap film horor yang terang bukan berada di zona nyamannya. Akankah beliau bisa menangani tantangan ini sebaik film drama atau justru menghadapkannya pada kesulitan besar?

Karakter yang mempunyai peranan krusial dalam Sesat yakni seorang atlet lari berjulukan Amara (Laura Theux). Meski hubungannya dengan sang ibu (Vonny Cornelia) kurang sedap, Amara mempunyai ikatan yang berpengaruh dengan sang ayah (Willem Bevers) yang kerap menemaninya berlari, mengajarinya goyang pantat untuk menghapus kesedihan, serta bersedia ditodong uang jajan untuk beli bra. Sayangnya, kebersamaan antara Laura dengan sosok paling dicintainya ini tidak berlangsung usang sebab sang ayah mesti menghadap ke Sang Khalik usai direnggut nyawanya dalam sebuah kecelakaan. Dirundung duka, sang ibu pun tetapkan untuk mengajak Amara beserta Kasih (Rebecca Klopper), putri bungsunya, untuk memulai hidup gres di Desa Beremanyan bersama ayahnya (Arswendy Bening Swara) yang sedang menjalani riset mengenai penunggu setempat untuk novelnya. Sesampainya di desa ini, Amara mulai mengalami satu dua insiden absurd – termasuk menyadari tidak ada anak muda di desa ini – yang seketika membuatnya bertanya-tanya mengenai sosok penunggu yang mendiami sumur keramat tersebut. Dari hasil penelusurannya, Amara mengetahui bahwa Setan Beremanyan bisa mengabulkan seruan manusia. Berharap bisa berkomunikasi untuk terakhir kalinya dengan sang ayah, Amara pun nekat menjalani ritual pemanggilan Setan Beremanyan yang lantas mendatangkan serentetan peristiwa alam baginya sekaligus bagi orang-orang di sekitarnya.
Selama belasan menit pertama, potensi Sesat untuk terhidang sebagai tontonan memedi yang ketje sebenarnya telah terendus. Tengok saja dari konsep Desa Beremanyan yang menyerupai tak terjamah peradaban modern serta hanya didiami oleh warga lanjut usia. Bukankah ini cukup untuk membangkitkan bulu kuduk? Apalagi jikalau kau melihat bagaimana tatapan mereka kepada keluarga Amara di ketika kendaraan beroda empat yang mereka tumpangi melintasi perkampungan. Seram. Seolah-olah mereka sedang mengincar tumbal untuk diserahkan kepada si penunggu. Tambahkan dengan plot mengenai kehilangan orang terkasih yang memungkinkan untuk dikembangkan menjadi narasi mengharu biru, Sesat memulai langkahnya dengan meyakinkan… atau setidaknya begitulah dalam bayangan saya yang bersemangat dalam mencari tahu pendekatan menyerupai apa yang akan ditempuh oleh Sammaria. Semangat tersebut semakin mengepul ketika si pembuat film memunculkan teror perdananya yang mesti diakui bisa menciptakan diri ini terlonjak dari dingklik bioskop. Kentara, film telah mengikuti jalan setapak menuju ke arah yang benar. Semangat yang berkobar-kobar karena menyadari kemungkinan Sesat bergabung dengan Sebelum Iblis Menjemput ini secara perlahan tapi niscaya mulai meredup terhitung sedari tersibaknya misteri besar mengenai Desa Beremanyan dan identitas si penunggu di paruh awal yang lantas mendorong Amara untuk menjalani ritual pemanggilan setan. 
Kengerian yang ditimbulkan oleh penampakan perdana dan atmosfer misterius yang menguar dari desa tak bertahan lama. Di menit-menit berikutnya, trik menakut-nakuti yang dipergunakan oleh Sammaria tergolong standar – tak jauh-jauh dari seret, lempar, atau bunyi misterius – yang apesnya tak juga mempunyai cukup daya untuk menciptakan penonton mengkeret di dingklik bioskop. Ada kalanya mencoba bermain-main dengan antisipasi yang sempat menciptakan jantung berdegup, tapi apa yang menanti kemudian nyatanya hanyalah sesuatu sepele yang memicu terlontarnya komentar, “yaelah gitu doang. Kirain apaan.” Bahkan, salah satu money shot di trailer dengan kata kunci “mamaku bukan mamaku” pun tersaji datar. Tak ada ketegangan yang muncul, apalagi rasa takut. Sammaria terang mengalami kesulitan dalam mengkreasi teror pemberi mimpi jelek yang bukan area kekuasaannya. Sesat benar-benar tersesat di ranah horor dan satu-satunya peluang yang tersisa bagi film untuk berjaya berada pada elemen dramatiknya yang (saya benci untuk menyampaikan ini!) sayangnya, tak juga cukup kuat. Entah sebab ingin menghindari melodrama atau tak ingin sisi drama dalam film terasa lebih pekat, si pembuat film enggan mengeksplorasi plot terkait keluarga yang berdamai dengan sedih secara layak dan lebih menentukan untuk mengedepankan teror klise yang tak menyeramkan.

Hingga film berakhir, saya tak pernah bisa memahami alasan kepindahan keluarga Amara ke desa kecuali untuk mendekatkan mereka pada teror, tak pernah bisa mengerti kenapa Amara sangat membenci sang ibu begitu pula sebaliknya, dan tak pernah bisa pula merasakan kepedihan dari masing-masing anggota keluarga jawaban kehilangan figur ayah/suami. Hanya ada letupan kemarahan satu sama lain yang acapkali muncul tiba-tiba yang mengakibatkan saya semakin sulit bersimpati kepada karakter-karakter dengan penulisan tipis ini. Saking sulitnya untuk bersimpati, maka ketika Setan Beremanyan yang mitologi (dan penampakannya) hanya dimunculkan sekilas saja ini berusaha memporakporandakan keluarga kecil tersebut, tak ada kepedulian mengemuka. Andai saja si pembuat film berkenan untuk menyebarkan karakter-karakter kecil ini tanpa khawatir film menjadi kelewat drama kemudian mempersilahkan mereka untuk mempunyai momen dramatis di babak titik puncak (entah rekonsiliasi atau perpisahan), saya meyakini Sesat akan mampu memenuhi potensinya.

Acceptable (2,5/5)