October 14, 2020

Review : Shy Shy Cat


“Buat apa aku minta ke kamu? Minta itu ke Allah. Dan dari dulu yang aku minta ke Allah cuma kamu.” 

Apabila kau berasal dari kota kecil, atau malah pelosok desa, rasa-rasanya pernah berada di fase diteror dua perkara. Pertama, kesulitan menjumpai pekerjaan sesuai minat talenta dengan honor memadai sehingga bayangan soal meninggalkan kampung halaman kemudian menjajal cari peruntungan hidup di metropolitan terus menerus menyembul. Dan kedua, diburu-buru menikah dengan ‘ancaman’ akan dijodohkan jikalau belum kunjung menemukan calon pendamping hidup kala menapaki usia tertentu. Melalui kerja sama ketiganya bersama Adhitya Mulya sehabis Test Pack: You Are My Baby dan Sabtu Bersama Bapak, Monty Tiwa mencoba merangkum (plus menertawakan) kegelisahan-kegelisahan ini ke bentuk sebuah tontonan komedi romansa sarat kritik sosial yang dimeriahkan barisan bintang-bintang ternama berjudul Shy Shy Cat. Dalam kaitannya sebagai sentilan sentilun, film memang cenderung terbata-bata untuk memenuhi segala potensinya. Tapi dalam tatarannya sebagai sajian yang diperuntukkan bagi para pencari obat pelepas penat, Shy Shy Cat terhitung merupakan salah satu yang paling berhasil tahun ini. 

Konflik di Shy Shy Cat bermula dari panggilan telepon yang diterima Mira (Nirina Zubir) dikala dirinya tengah merayakan hari jadi ke-30. Orang tuanya menagih komitmen yang diikrarkan beberapa tahun silam soal mudik di usia 30 jikalau jodoh belum kunjung merapat ke Mira. Mengetahui akan dijodohkan dengan Otoy (Fedi Nuril), teman masa kecil yang sejauh ingatan Mira sanggup melayang yakni sosok menjengkelkan, ia pun merancang skenario penggagalan upaya taaruf bersama dua sahabatnya, Jessy (Acha Septriasa) dan Umi (Tika Bravani). Membawa prasangka-prasangka jelek atas kampung halamannya, betapa terkejutnya Mira tatkala mendapati Desa Sindang Barang yang menahun ditinggalkannya telah berkembang begitu pesat. Bahkan Otoy yang diperkirakannya hanya akan bikin ilfeel, nyata-nyatanya bermetamorfosis menjadi cowok idaman di desa sehingga menggoyahkan denah sandiwara mereka. Tidak hanya mengacaukan segala bentuk rencana untuk menghindari perjodohan dengan Otoy, perubahan-perubahan tak diantisipasi ini nyatanya turut berdampak pada terujinya tali persahabatan ketiganya. 
Berbincang soal komedi, pendefinisian paling sempurna bagi Shy Shy Cat yakni heboh, norak serta luar biasa konyol – semuanya in a good way. Ya, bom tawanya tidak serta meledak beberapa menit seusai film lepas landas, namun setahap demi setahap dan berangsur tidak terkontrol sejak Mira beserta rombongan menginjakkan kaki di Desa Sindang Barang. Guyonan-guyonannya bercita rasa ‘liar’ dengan kebanyakan berhasil mengenai sasaran yang disasar berkat lakonan aneh pula dari barisan pemainnya. Diantara ensemble cast-nya yang rata-rata bermain sangat baik ibarat Nirina Zubir, Soleh Solihun, serta Titi Kamal, dua pelakon paling bertanggung jawab atas meledaknya riuh tawa penonton yakni Tika Bravani dan Acha Septriasa. Ketepatan Tika dalam menghantarkan lawakan sejatinya tidak perlu dipertanyakan lagi alasannya yakni kita pernah melihatnya menggila di Hijab, namun di Shy Shy Cat, ia membawanya ke level lebih sinting yang akan membuatmu yakin bahwa ia yakni aktris Indonesia ber-coming timing paling menakjubkan dikala ini. Tengok saja verbal polosnya kala mengucap, “mau berjalan-jalan di desa yang indah ini,” yang merupakan salah satu momen terbaik di Shy Shy Cat
Sedangkan Acha Septriasa, well, it’s a pleasant surprise. Acha bukannya asing dengan genre komedi huru-hara, hanya saja kiprahnya sebagai aktris esek-esek jelmaan Sally Marcellina berjulukan Jessy Bomb disini yakni pertama kalinya Acha tampil begitu effortless dalam ngelawak. Setiap kemunculannya menaikkan level keriaan bagi film, sampai-sampai ada rasa rindu menyergap tatkala sosoknya menghindar sejenak dari sorotan. Saking primanya performa dari para bintang ini, terlebih ketika mereka memberikan banyolan, sedikit banyak mengampuni terpinggirkannya plot. Semangat ngelaba Shy Shy Cat yang kelewat tinggi berdampak ke berkurangnya kuota bercerita. Obrolan bertopik kearifan lokal nan mengikat yang akan gampang relate ke banyak penonton ibarat perjodohan, nikah muda, kalangan muda-mudi yang lebih menentukan mengikuti gelombang urbanisasi ketimbang membangun desa sendiri, hingga pentingnya menyeimbangkan bisnis dengan agama maupun sebaliknya, yang kentara diniatkan sebagai materi melontarkan kritik sosial tidak pernah terjamah lebih jauh. Andai saja duo Adhitya Mulya dan Monty Tiwa menentukan fokus pada topik tertentu kemudian mengembangkannya, sanggup jadi Shy Shy Cat akan sekuat Get Married jilid awal atau Kapan Kawin?. Agak disayangkan memang alasannya yakni bersama-sama potensi besar telah terpampang faktual dengan dipunyainya satu dua momen cukup menggelitik pikiran, manis sekaligus haru di titik tertentu.

Exceeds Expectations (3,5/5)